
"Mah, Papah ada pertemuan hari ini. Jadi, mungkin pulang agak larut malam mau membahas masalah proyek pembangunan di kota sebelah. Jangan nunggu Papah, ya," ucap Adrian begitu tiba di ruang tamu tempat semua keluarga berkumpul.
"Kok, Papah nggak bilang? Mamah, 'kan, bisa nyiapin keperluan Papah." Habsoh berdiri terus membenarkan dasi Adrian.
Dari tempat duduknya, Naina memiringkan kepala. Memperhatikan cara Habsoh memakaikan dasi di leher sang suami. Pikirannya mengelana pada sosok Alfin yang tampil biasa saja meski akan menghadiri pertemuan.
Aku juga pengen makein dasi suamiku. Hmmm ....
Naina tersenyum membayangkan mereka adalah dirinya dan juga Alfin. Setiap pagi akan melakukan hal yang sama, menyiapkan pakaian kerja, sepatu, serta memakaikan dasi seperti yang dilakukan Habsoh kepada Adrian.
"Yah, nggak apa-apa, Mah. Papah lihat Mamah asyik sama Naina tadi. Sekali-kali keluarlah sama anak kita, Mamah juga butuh hiburan." Adrian mengusap pipi istrinya seusai memakaikan dasi dengan sempurna. Mengecup dahi wanita itu tanpa segan, apalagi malu.
Kalian orang tua panutan. Aku iri. Jadi kangen mas Alfin.
Batin Naina bergumam, matanya terpejam rapat. Bibirnya tersenyum manis, membuat mereka kebingungan saat menatap ke arahnya.
"Naina!"
"Sayang!"
__ADS_1
"Hei! Naina!"
Panggilan mereka tak digubris, Naina hanyut dalam alam khayal bersama Alfin.
"Nai!" Sumiyati mengguncang tubuhnya, membelalak mata Naina karena terkejut. Ia tersentak, dan tertawa malu-malu.
"Ngelamunin apa, sih? Sampe nggak denger dipanggil-panggil," tanya Habsoh menatap sambil menggoda pengantin baru itu.
Naina tersenyum, pipinya merona malu. "Nggak, Mah. Cuma lagi bayangin aja andai Nai ada di posisi kayak Mamah tadi," lirihnya seraya menggigit bibir malu.
Tawa menggelegak dari mereka, bukan menertawakan keinginan Naina. Akan tetapi, merasa gemas karena mereka semua tahu siapa dan bagaimana penampilan Alfin sehari-hari.
"Iya, yah. Nggak kepikiran," katanya malu-malu.
Adrian menggelengkan kepala, begitulah rasanya memiliki anak. Apapun yang mereka perbuat selalu akan ditiru dan dicontoh. Perilaku mereka menjadi harapan dalam benak sang buah hati. Untuk itulah Adrian dan Habsoh sangat berhati-hati dalam mengambil sikap utamanya masalah rumah tangga.
"Ya sudah, Papah mau berangkat dulu. Mau ke kantor mastiin kesiapan buat pertemuan nanti," ucap Adrian mengingatkan Naina pada perintah Alfin untuk berbelanja.
"Papah, Nai ikut, ya. Mau belanja buat keperluan anak-anak," sambar Naina dengan cepat sebelum Habsoh menyahut ucapan suaminya.
__ADS_1
"Boleh, tapi nggak bisa langsung, ya. Kita ke kantor dulu, abis itu kamu ikut aja ke pertemuan. Baru kita belanja. Nggak apa-apa, 'kan? Ini juga buat kamu, supaya kamu tahu seperti apa pekerjaan Papah. Kamu yang akan menjadi penerus Papah nanti," pinta Adrian tersenyum penuh arti.
Naina tercenung, melirik kedua paruh baya yang menatapnya penuh harap.
"Tapi, Pah. Mohon maaf sebelumnya, bukannya anak diluar nikah itu nggak berhak dapat warisan?" Pertanyaan dari Naina cukup menohok hati Adrian, tapi pada kenyataannya memang begitu. Naina adalah anak diluar nikah, terlahir karena kesalahan.
Senyum Adrian surut beberapa saat, tapi kemudian kembali terbentuk. Tidak ada yang perlu disesali, semua sudah menjadi jalan hidup mereka yang harus dijalani.
Sumiyati menatap Asep, ada kegetiran di hati mereka bila terus mengingat masa lalu. Adrian menghela napas, melangkah menghampiri Naina. Kedua tangannya yang besar, mengusap lengan sang anak dengan lembut dan penuh cinta.
"Papah tahu, tapi kalo boleh Papah minta
... jangan pernah bilang kayak gitu lagi. Papah dan Mamah nggak pernah menganggap kamu seperti itu, Nak. Untuk masalah warisan, kalo bukan kamu siapa lagi? Dengan hati ridho semua ini Papah serahkan sama kamu. Nggak ada masalah. Ini semua terlahir dari keinginan Papah sendiri bukan atas paksakan seseorang. Papah ingin meskipun tidak berkewajiban. Kamu mengerti?" ungkap Adrian setulus hatinya.
Naina terharu, lantas memeluk Adrian dengan erat.
"Makasih, Pah."
Adrian mengecup ubun-ubun sang anak, mendekapnya dengan hangat. Sumiyati, Asep, juga Habsoh turut tersenyum haru. Semakin lengkap kebahagiaan yang direguk Naina. Buah dari kesabaran dan ketabahan hatinya.
__ADS_1