
"Kami memohon maaf baru bisa melakukan lamaran karena hal tak terduga, dan kesalahpahaman yang terjadi kemarin. Mungkin sudah terlambat, tapi itu lebih baik daripada nggak sama sekali. Sebenarnya persiapan ini udah jauh-jauh hari kami buat, tapi ... ya itu tadi. Ujian sebelum pernikahan, semoga setelah pernikahan ujian yang akan mereka hadapi akan semakin memperkukuh cinta mereka," tutur Busyro sebagai orang yang dihormati setelah Ahmad.
"Aamiin." Serentak semua orang menggumamkan kata tersebut. Binar-binar kebahagiaan jelas terpancar dari wajah semua orang termasuk Seira yang tahu betul seperti apa kerasnya hidup yang dijalani Naina sejak kecil.
Di antara mereka ada yang tengah tertunduk dalam, merasai rasa sesal yang menghimpit rongga dada. Menyesakkan, membuat nyeri di bagian ulu hati. Aminah terisak dalam diam.
"Saya sangat bahagia hari ini. Sebagai orang yang menyaksikan seperti apa kehidupan Naina sejak kecil, saya benar-benar merasa bahagia." Seira bergetar, meski Naina bukanlah anaknya dia menyayangi wanita itu seperti anak sendiri.
Fatih menggenggam tangan sang istri, memberinya kekuatan untuk melepas gadis kecil yang dengan tangannya ia ikut merawat.
"Naina menjalani kehidupan yang keras sejak kecil. Kakinya yang ringkih itu nggak pernah lelah berjalan mencari sesuap nasi. Pundaknya yang kecil mampu menopang beban berat yang nggak seharusnya dia pikul. Naina gadis yang kuat, dia istimewa di mata saya. Dua kali dia mendapat penolakan karena statusnya, seperti apa tangisannya ... saya tahu."
Seira menghapus pipinya dengan tissue. Naina tidak pernah merengek, apalagi menyesali semua yang telah terjadi. Dia benar-benar wanita tangguh. Ibu dua anak itu mengangkat wajah, memandang satu per satu keluarga Alfin yang khusyuk mendengarkan. Aminah tetap tertunduk, tangisnya semakin mengguncang kedua bahu.
"Sekarang, saya sangat bersyukur. Saya benar-benar ikut merasa bahagia karena putra kalian yang nggak kalah hebat dari Naina. Seorang pendamping yang mampu memimpin Naina supaya tetap berada di jalan yang benar. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Menyempurnakan keimanan masing-masing. Saya berdoa semoga pernikahan mereka selalu berada di dalam ridho Allah," pungkas Seira sembari mengeratkan genggaman Fatih.
"Aamiin."
Ia tersenyum, senyum yang menyiratkan kelegaan hati, kebahagiaan, kedamaian, dan rasa syukur yang tidak bertepi. Suara tangis Aminah menguar lirih, mengalihkan perhatian semua orang.
Di sana, Khadijah dan Amaliah yang mendengar kisah Seira tentang adik ipar mereka turut merasakan haru yang mendalam. Bulir bening jatuh dari pelupuk yang segera disapu tangan mereka.
Ahmad mengusap-usap punggung sang istri, memberinya keyakinan bahwa semua telah berlalu. Kehidupan rumah tangga Alfin, adalah milik mereka.
"Saya minta maaf ...." Bergetar, suara Aminah terdengar parau karena tangisan. "Saya benar-benar minta maaf karena sempat bersikap egois terhadap hubungan mereka. Saya menyesal karena nggak bisa melihat cinta mereka yang begitu besar. Sekarang saya mengerti, Naina memang sangat dibutuhkan Alfin sebagai pasangan." Aminah tergugu bila mengingat kejadian kemarin di mana keduanya harus tersiksa karena keegoisan dirinya.
Adrian dan Habsoh tersenyum, begitu pula dengan Sumiyati dan Asep. Meski singkat saja pertemuan mereka, tapi sudah cukup memberi tahu seperti apa sosok Naina.
"Nggak apa-apa, Bu. Yang berlalu biarlah berlalu, tinggalkan kenangan buruk dan ambil setiap pelajaran berharga darinya. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah, bagaimana menjadi orang tua yang bijak untuk anak-anak kita semua." Habsoh tersenyum.
Naina memang bukanlah terlahir dari rahimnya, tapi kehadiran gadis itu di rumah mereka membuatnya tahu seperti apa menjadi orang tua.
"Saya sebagai orang tua sambung, memang nggak tahu apa-apa tentang Naina. Kenal saja baru beberapa hari, tapi nggak tahu kenapa saya menyayangi Naina dan menganggapnya anak sendiri. Mungkin karena Naina punya hati yang bersih dan tulus," ungkap wanita baik hati itu sambil tersenyum penuh kebahagiaan.
Hati Aminah semakin sadar sesadar-sadarnya akan sosok Naina. Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan gadis itu lagi. Akan menyayangi dan mencintai sebagaimana seorang ibu kepada anaknya.
Sementara para orang tua hanyut dalam obrolan mereka, anak-anak dibiarkan bermain di depan televisi, dua pasang yang sedang dimabuk asmara masih duduk di halaman belakang.
__ADS_1
"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Naina setelah beberapa saat hening mengurung mereka.
"Pengennya, sih, cepat, tapi aku mau menuhin keinginan orang tua aku dulu." Tiwi menunduk dalam, menyesali semua sikap keras kepalanya.
Naina berkerut dahi, belum mengerti keinginan yang dimaksud Tiwi.
"Apa itu?"
Tiwi melirik Fahmi, laki-laki itu tersenyum dan mengangguk. Tidak ada raut keberatan di wajahnya. Tiwi menghela napas panjang.
"Aku mau melanjutkan kuliah di Kairo, Nai. Itu keinginan terbesar orang tuaku," ucap Tiwi kembali menunduk.
Naina melirik Fahmi, senyum yang diukir laki-laki itu menandakan bahwa dia telah mengetahui semua rahasia Tiwi.
"Kamu nggak apa-apa, Mi?" Pertanyaan yang hendak dilontarkan Naina disambar Alfin dengan cepat.
Pemuda berwajah teduh itu melempar lirikan padanya. Ia menghendikan bahu tanpa merubah eskpresi wajahnya.
"Aku mau ikut," gumam Naina nyaris seperti bisikan. Kedua mata Alfin menjegil, tak akan mungkin mereka berpisah.
"Kamu kuliah di sini aja sama aku," ucap Alfin dengan tegas.
"Kuliah apa?"
Percakapan suami istri itu mengalihkan dua kepala lainnya untuk melihat.
"Ya ... kuliah. Bikin adonan," jawab Alfin tiba-tiba gugup.
"Adonan?" Serentak ketiga orang di sana mengulangi ucapan Alfin.
Suami Naina itu justru menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Melengos dari tatapan mereka yang menyelidik.
"Udahlah, kalian nggak tahu. Nanti aja aku kasih tahunya," ucap Alfin misterius.
"Emangnya Nai mau buka toko kue pake kuliah bikin adonan segala?" tanya Tiwi tersenyum lucu mendengar ucapan Alfin.
"Nggak, Wi. Tahu nih Mas Alfin. Mungkin maksudnya masak makanan kesukaan dia kali." Naina melirik Alfin. Wajah laki-laki itu memerah menahan tawa.
__ADS_1
"Lho? Kalian di sini? Masih betah? Nggak mau pulang?" Khadijah menatap Fahmi dan Tiwi, rupanya acara lamaran sudah selesai dan mereka hanyut di dalam obrolan.
Tiwi melirik jam di ponselnya, pukul dua puluh dua malam.
"Pulang, Ustadzah." Tiwi beranjak dari kursi diikuti Naina.
Keduanya berpelukan, saling menguatkan satu sama lain.
"Semoga pendidikan kamu sukses. Aku cuma bisa doain kamu dari sini," bisik Naina membuat Tiwi mengeratkan pelukan.
"Titip Fahmi, jangan sampai dia melirik perempuan lain," balas Tiwi terdengar menggelikan di telinga Naina.
Mereka melepas pelukan, bersama-sama berjalan ke ruang tengah untuk berpamitan. Alfin menggandeng pinggang sang istri, tak ingin lagi jauh dari Naina. Mereka berkumpul di teras melepas kepergian keluarga Ahmad dan istrinya.
Aminah mendatangi Naina, memeluk menantunya itu. Mencium pucuk kepalanya dengan hangat, dia akan menjalankan peran sebagai ibu untuk wanita itu mulai dari sekarang. Aminah melepas pelukan, mencium kedua pipi Naina.
"Jangan sungkan datang ke rumah. Umi akan senang kalo kamu sering-sering main ke rumah," pinta Aminah sambil menatap wajah menantunya.
Naina meneguk ludah, apakah dia benar-benar sudah diterima? Seperti itu pertanyaan di benaknya. Ia mengangguk sambil mengulas penuh haru.
"Fin, kamu mau nginep?" goda Busyro mengundang tawa semua orang. Alfin mengangguk sambil menjatuhkan kepala di pundak sang istri.
"Nai, dia manja banget. Jangan bosan-bosan, ya," sambar Fahmi semakin membuat wajah Alfin memerah.
"Ya, kami pamit pulang. Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalaam!"
Mereka pergi, rumah besar Adrian seketika menjadi sepi. Namun, suara celoteh beberapa anak membuat mereka tercenung. Oh, masih ada anak-anak Alfin di rumah itu.
"Ayah! Halwa mau nginep di sini. Boleh, kok, sama Nenek. Halwa mau tidur sama Ayah sama Ibu." Permintaan yang datang tiba-tiba dari Halwa mengejutkan mereka.
Apa Halwa akan mengganggu mereka?
****
Mohon maaf yang sebesar-besarnya sama semua para pembaca setia Naina, kemarin nggak bisa update karena bantu-bantu di tempat hajatan. Harap maklum, dan terima kasih sudah menunggu. Love you.
__ADS_1