
"Bi, jam berapa mau ke masjid Alfin? Kalo pagi, mungkin anak-anak Alfin sekolah." Aminah bertanya pada suaminya sembari menyuguhkan secangkir teh hangat berikut sepiring singkong rebus di teras rumah.
"Yah, agak siangan dikit aja, Mi. Sekalian bawain makanan buat anak-anak makan siang. Mereka pasti seneng," jawab Ahmad sambil menikmati rebus singkong yang masih mengepulkan asap.
"Oh, kalo gitu Umi mau nyuruh Nani buat belanja dulu." Aminah hendak beranjak, tapi ditahan Ahmad.
"Udah, Nani udah pergi belanja sama Khadijah. Abi yang suruh," sergah Ahmad sembari menahan tangan Aminah.
Wanita itu duduk kembali tanpa harus merasa risau. Dia lupa jika ada si sulung yang tanggap akan segala hal.
****
Naina berdiri di depan toko tempatnya bekerja, menatap bangunan yang selama dua bulan ini memberinya pekerjaan. Di belakang, Alfin memandang dari atas motor. Ia tahu berat untuk Naina meninggalkan pekerjaan yang baru dua bulan digelutinya.
Namun, itu lebih baik sebelum semuanya terlambat. Status Naina yang bukan karyawan tetap, setiap di awal bulan dia akan menandatangani kontrak untuk kelanjutan kerjanya. Kesempatan itu akan Naina gunakan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan.
"Kenapa? Kok, masih berdiri di sana?" tegur Alfin belum beranjak dari atas motornya.
Naina menghela napas, ia berbalik dan tersenyum pada calon suaminya itu. Naina melambaikan tangan seraya meniti langkah mendekati toko meski terasa berat.
"Hati-hati, Nai! Kalo ada apa-apa langsung telpon atau SMS," ucap Alfin sontak menghentikan langkah Naina dan berbalik menghadapnya.
"Iya! Kamu jangan ke mana-mana, di masjid aja, ya." Naina melambaikan tangan setelah Alfin mengangguk setuju.
Melanjutkan langkah sambil mengeluarkan kunci untuk membuka pintu toko. Tak lama, dua rekannya datang dan membantu Naina membuka pintu toko. Alfin merasa lega, setidaknya Naina tidak sendirian.
Alfin kembali ke masjid usai membeli sarapan untuk semua anak-anaknya. Mereka tengah berkumpul di pendopo, menunggu sang ayah membawakan makanan.
"Assalamu'alaikum!" ucap Alfin seraya turun dari motor sambil menenteng bungkus plastik.
"Wa'alaikumussalaam! Kakak!" pekik mereka riang gembira.
Dua orang anak beranjak turun tanpa harus diperintah, mereka mengambil alih barang bawaan Alfin dan membagikannya pada semua anak. Alfin tersenyum melihat keakraban mereka.
Kesepuluh anak itu, bukanlah saudara. Alfin membawa mereka dari jalanan dan dibangunkan asrama untuk tempat tinggal mereka. Anak-anak malang yang kebanyakan adalah anak yang tidak diinginkan orang tuanya.
"Kalian sudah mandi?" tanya Alfin pada mereka semua.
__ADS_1
"Sudah, Kak!" jawab mereka serentak.
Seragam sekolah telah melekat di tubuh masing-masing anak, mereka sudah siap berangkat. Alfin melirik satu anak yang paling kecil, dia perempuan. Ditemukan Alfin di depan masjid terbungkus kardus. Dibantu warga mengurusnya saat bayi anak itu sekarang sudah berusia lima tahun.
Alfin mendekat, membelai rambut putri bungsunya itu. Ia disayangi anak-anak yang lain karena mereka membantu mengasuhnya sejak bayi.
"Kenapa belum pake seragam? Ini udah siang," tanya Alfin mengusap rambutnya lagi.
Anak itu menundukkan kepala, menggeleng pelan.
"Bilang sama Kakak, ada apa? Nanti kita sama-sama selesaikan masalahnya," pinta Alfin sembari mengangkat tubuh kecil itu ke pangkuannya.
Halwa, nama gadis kecil yang diberikan Alfin saat bayi dulu. Ia mengalungkan kedua tangan di leher Alfin, menjatuhkan kepala di pundak pemuda itu. Masih belum membuka mulut, membuat Alfin bingung.
Ia mengangkat pandangan, bertanya pada semua anak lewat tatapan mata. Tak satu pun dari mereka yang tahu, semua menggelengkan kepala serempak, bahkan seorang anak perempuan yang selalu bersamanya pun turut menggeleng.
"Nggak apa-apa, kalo Halwa nggak mau sekolah nggak apa-apa. Di sini aja sama Kakak," ucap Alfin sambil mengusap-usap punggungnya.
"Ayah!" lirih anak itu di telinga Alfin.
Bergetar hatinya, apakah ia merindukan sosok orang tua? Sungguh tega mereka yang membuangnya.
Alfin meminta semua anak untuk melanjutkan makan mereka, sedangkan ia memenangkan si bungsu dalam dekapan.
"Halwa kangen sama ayah?" tanya Alfin ragu, lisannya bergetar, hatinya terguncang. Siapa yang telah menelantarkan anak itu.
Gadis kecil itu menggelengkan kepala. Alfin menjauhkan tubuh Halwa dari dadanya, memandangnya dengan lekat sambil tersenyum.
"Terus kenapa? Kok, manggil-manggil ayah?" tanya Alfin mengusap pipi mulusnya.
Halwa mengangkat wajah, mata kecilnya dipenuhi harapan menatap Alfin dengan dalam.
"Ayah. Halwa mau panggil Ayah, bukan Kakak," katanya bergetar.
Jatuh air mata Alfin, sungguh hal yang tak terduga selama ia mengasuh anak-anak itu. Alfin membuang pandangan, mengusap wajahnya seraya tersenyum senang. Kepalanya mengangguk, memberinya izin untuk memanggil Alfin dengan sebutan ayah.
"Yah, nggak apa-apa. Panggil Kakak ayah karena Kakak sekarang adalah ayah Halwa. Ayah kalian semua," ujar Alfin seraya melayangkan tatapan pada semua anak-anaknya.
__ADS_1
"AYAH!" seru mereka semua seraya berhamburan memeluk Alfin.
Diciumi wajah Alfin, senyum-senyum kebahagiaan yang terukir di bibir mereka, membuat hati Alfin merasa damai.
"Argh ... anak-anakku. Kalian semua anak-anak Ayah. Panggil aku Ayah, panggil aku Ayah," ucap Alfin sambil menangis haru.
"Ayah!" ulang mereka teramat senang memiliki ayah seperti Alfin.
"Makasih, makasih." Alfin tergugu bahagia.
****
Di toko, Naina dan rekan-rekannya memulai aktivitas di pagi hari dengan menyapu lantai, mengepel, membersihkan kaca, juga menata ulang barang-barang di rak.
Naina tersentak ketika seorang rekan menghampirinya secara tiba-tiba.
"Kenapa kamu? Kok, ngeliatinnya kayak gitu banget sama aku," sungut Naina sembari menjauh dari posisi semula.
Ia kembali mendekat, seolah-olah ada hal penting yang harus dibicarakan, Naina bergeming.
"Kata adikku, kemarin sore waktu dia pulang ngaji dari masjid, dia dijegat sama si Bos. Dia bilang, dia ditanya-tanya soal guru ngajinya. Aku curiga dia punya maksud jahat sama marbot masjid itu, Nai," bisiknya sembari celingukan ke kanan dan kiri.
Naina tercenung mendengar itu, hatinya bertanya-tanya untuk apa manager toko bertanya-tanya soal Alfin.
"Terus dia bilang apa lagi?" tanya Naina ikut melongo ke depan dan ruangan manager.
"Dia cuma bilang, si Bos itu tanya guru ngajinya tinggal di mana? Begitu," jawab rekan Naina membuat gadis itu gelisah.
Tubuh Naina menegang, memikirkan apa yang sedang direncakan atasannya itu. Naina mengangkat wajah, tersenyum pada rekannya.
"Makasih, ya. Nanti aku sampaikan sama Alfin buat hati-hati di mana aja," tuturnya bersyukur.
Ia kembali pada pekerjaannya, bergabung dengan lain. Berselang, pintu utama toko terbuka, atasan yang mereka bicarakan tadi muncul dengan wajah yang tak ramah. Dingin dan kaku, tak ada senyuman seperti dulu yang selalu ia tebar ke seluruh karyawan.
"Pagi, Pak!" sapa rekan Naina ketika Anton melintasinya.
Laki-laki itu tidak membalas sapaan karyawannya, melainkan terus saja berjalan memasuki ruangannya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa sama si Bos?" tanya salah satu rekan Naina.
Yang lain menyahut dengan bahu terangkat, dan yang lain berbisik kepadanya, "Patah hati karena cintanya ditolak sama Naina."