
"Astaghfirullah al-'adhiim! Nyebut, Mi! Nggak pantas lisan seorang ibu ngomong begitu. Ingat, Naina itu pilihan Alfin. Sekeras apapun kita menentang anak itu, dia nggak akan pernah merubah pilihannya. Umi tahu sendiri gimana kerasnya Alfin kalo udah nentuin pilihan. Jangan sampe sikap egois Umi, menjauhkan anak kita kayak dulu lagi, Mi. Jangan ulangi kesalahan Abi yang dulu."
Ahmad menegang mendengar kalimat tak pantas yang diucapkan Aminah. Tatapannya penuh kekecewaan, menghujam sesosok lembut yang sekejap mata saja berubah keras.
Aminah bergeming, berkeras hati pada keputusannya untuk membatalkan pernikahan Alfin dan Naina. Ia bahkan enggan memandang suaminya yang kini berbalik arah membela gadis itu.
"Tapi Alfin selalu celaka semenjak deket sama dia. Umi nggak mau kesialan anak itu menulari Alfin," ketus Aminah sembari mengusap air matanya yang jatuh. Sebenarnya hati perih, tapi apa mau dikata. Dia amat menyayangi anaknya.
"Astaghfirullah al-'adhiim! Siapa yang Umi sebut sial? Kesialan seperti apa yang Umi maksud? Semua yang terjadi sudah ketentuan dari Allah, Mi. Semuanya Allah yang mengatur. Umi nggak inget ... apa Umi lupa, semua yang kita alami ini merupakan kehendak Allah. Apa yang menimpa pada Alfin adalah teguran Allah karena kelalaian kita dalam menjaga amanah-Nya. Nggak usah melimpahkan semua kesalahan sama Naina. Gadis itu juga nggak mau semua ini terjadi, Mi."
Aminah terisak, tapi tetap berpaling dari suaminya. Khadijah benar-benar kecewa terhadap wanita yang telah mengandungnya itu, mengingat selama ini Aminah adalah perempuan lembut dan seorang ibu yang bijaksana. Ia menunduk menyembunyikan perasaan kecewa yang semakin membuncah.
"Umi tahu, Umi juga ingat, tapi kalo ada pilihan yang lebih baik kenapa harus memaksakan yang jelas membawa mudharat buat hidup anak kita, Bi," tegas Aminah menatap keras pada suaminya.
Ahmad memijat pelipisnya yang terasa pening, seumur hidup pernikahannya dengan Aminah, tak pernah ia melihat kekerasan hati wanita itu. Dia selalu terlihat bijaksana, lembut, dan selalu menerima setiap ujian yang menimpa.
"Coba Umi telaah kembali ayat Al-Qur'an yang selalu Umi baca. Allah berfirman: "Wa 'asaa an takrahuu syai'aw-wa huwa khairul-lakum, wa 'asaa an tuhibbuu syai'aw-wa huwa syarrul-lakum. Tetapi, boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu"*. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik buat Allah. Begitu pula dengan Alfin, apa yang menurut Umi baik, belum tentu baik buat dia."
Ahmad menatap dalam-dalam wajah sendu sang istri, setiap garisnya masih terlihat menegang dan keras. Ia melirik putri sulungnya, seketika tahu wanita hamil itu pun tengah merasakan kekecewaan. Dia yang percaya bahwa ibunya seorang wanita yang bijaksana, tapi justru dikendalikan oleh keegoisan.
__ADS_1
Lagi-lagi Ahmad mendesah, mencoba mengurai sesak yang merebak di dalam dada. Pandangan laki-laki itu kembali terpatri pada sosok Aminah yang bergeming pada sikap kerasnya.
"Nggak selamanya kaktus itu buruk, suatu saat dia akan memberikan kita bunga yang indah. Juga nggak selamanya seekor ulat bulu itu menjijikkan. Suatu saat dia akan menjadi kepompong dan berbuah menjadi kupu-kupu yang cantik. Mi, Allah tidak memberi apa yang kita inginkan, tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan."
Bahu Aminah terangkat dan turun dengan berat. Ahmad tahu istrinya itu tengah mencoba melepaskan beban yang menggelayuti hati.
"Mungkin yang dibutuhkan Alfin untuk menemani perjalanan hijrahnya adalah seorang gadis sederhana dan apa adanya seperti Naina. Seseorang yang bisa diajak belajar agama bersama-sama. Seseorang yang dengan rela hati bersusah-susah untuk bertaqarrub kepada-Nya. Nadia memang gadis yang baik, beragama juga, tapi belum tentu mampu mengimbangi perjalanan Alfin yang keras." Ahmad meneguk ludah susah payah.
Bulir-bulir cairan itu terasa seperti benda bulat berduri yang menusuk-nusuk tenggorokan. Terasa haus, tapi tak dapat menyiramnya.
"Umi cuma manusia biasa yang ingin melihat anaknya bahagia. Umi cuma seorang ibu yang nggak mau anaknya terus menerus menderita." Aminah menutupi wajah, terisak pilu mengingat nasib anak bungsunya.
Semenjak mengenal Naina, Alfin kerap menemui bala dan bahaya. Ia merestui karena berpikir Naina adalah gadis yang baik dan mampu membimbing Alfin agar tetap istiqamah di jalan yang benar. Aminah hanya belum tahu, seperti apa jalan berduri yang harus dilalui para pelaku hijrah.
Ahmad menghela napas, tetap bersabar menghadapi sikap keras Aminah. Hatinya tak henti berdoa untuk ketenangan batin sang istri yang sedang terpedaya oleh rayuan setan.
"Istighfar, Mi. Mohon ampun kepada Allah. Jangan biarkan setan mengisi hati Umi yang diselimuti gelisah dan kesedihan. Jangan berlarut-larut dalam meratapi sesuatu karena di sanalah setan amat sangat dengan mudah merayu. Istighfar, Mi. Astaghfirullah al-'adhiim! Tenangkan hati Umi," tutur Ahmad sembari mengusap lembut tangan Aminah berharap akan merasuk hingga ke dalam hatinya.
Namun, yang tak pernah ia duga, Aminah menarik tangannya. Menggenggamnya di depan perut, menolak sentuhan sang suami. Ahmad tertegun, helaan nafasnya kembali berulang.
__ADS_1
"Ketahuilah ... Bahwa setiap helai daun yang jatuh, telah tercatat sebagai takdirnya, dan ia ada dalam kuasa-Nya. Maka yakinlah ... semua yang DIA beri, adalah yang terbaik meskipun yang terbaik tak selalu yang terindah."
Ahmad beranjak setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Hati tua itu tergores kecewa, melangkah pergi meninggalkan harapan di ruangan itu.
"Abi!" lirih Khadijah memanggil Ahmad. Ia menatap sendu cinta pertamanya yang tak pernah membuat kecewa.
Langkah kaki Ahmad terhenti, tangan kanannya terangkat tinggi.
"Abi butuh tempat dan waktu untuk menenangkan diri. Kalo kamu juga membutuhkan itu, pergilah Dijah. Temui suami juga anak-anak kamu," titah Ahmad tanpa berbalik badan.
Ia melanjutkan langkahnya untuk keluar, meninggalkan Aminah yang berderai air mata. Satu per satu dari orang-orang yang disayanginya pergi karena sebuah keegoisan yang kukuh.
Bibir wanita hamil itu berkedut, berucap sesuatu, tapi tak dapat tergerak dalam lisan. Ia kembali menunduk, mengusap perutnya yang ikut tak tenang.
"Kalo kamu juga mau ninggalin Umi ... pergi, Dijah. Pergi semuanya dan tinggalin Umi sendiri!" ketus Aminah sambil menyusut air matanya yang jatuh.
"Umi!" Khadijah melirih. Meski kecewa, ia tak tega meninggalkan Aminah sendirian.
"Ada apa ini?"
__ADS_1
****
*Al-Baqarah: 216