
"Apa yang terjadi?" tanya Alfin dengan nada geram dan mata yang memerah tajam. Kedua tangannya mengepal, dada naik dan turun berirama berat menahan gejolak rasa di dalamnya.
Khadijah, Busyro, Amaliah, juga Aminah tercengang melihat api amarah berkobar-kobar di kedua matanya. Wajah pemuda yang selalu teduh itu, kini nampak hitam.
"Alfin-"
"Apa yang kalian lakukan sama Naina?" sentak pemuda yang tak dapat lagi menahan amarah dalam dirinya.
Khadijah menganga, seumur hidup mereka tak pernah menyaksikan kemarahan Alfin. Sosok di hadapan mereka saat ini sangat jauh berbeda, dia bukan Alfin yang mereka kenal. Air mata Aminah jatuh tak terkendali, teramat sedih mendengar nada tinggi Alfin yang melengking.
"Alfin! Tenang, kamu kenapa?" Khadijah beranjak hendak menghampiri, tapi tangan Alfin yang terangkat membuatnya terhenti.
"Kamu udah bebas, sayang? Syukurlah. Umi kangen sama kamu, Alfin!" ucap Aminah sambil bercucuran air mata.
Alfin mengalihkan tatapan matanya pada wanita tua itu. Entah mengapa manik lembut itu tak membuat hatinya merasa teduh, ataupun mendapatkan ketenangan. Kobaran api terus menyala dan semakin membakar hatinya.
"Apa yang kalian lakukan sama Naina? APA? Kalian tahu pengorbanan dia? Kalian tahu penderitaan dia? Dia menderita karena kejadian itu, tapi kalian malah menyudutkannya, menyalahkannya, seolah-olah dialah yang paling bersalah. Padahal Naina yang paling menderita dari kejadian ini. KENAPA?" Alfin memburu udara dengan cepat, paru-parunya terasa menyempit. Sakit, sesakit hatinya mengingat pengorbanan Naina yang tak pernah usai.
"Alfin. Dek! Kamu yang tenang, sayang. Jangan terbawa emosi. Semua bisa dibicarakan baik-baik dan dengan kepala dingin. Jangan kayak gini," pinta Amaliah dengan kelemah-lembutan yang ia miliki.
Hanya wanita itu yang sedikit menenangkan hati Alfin. Selebihnya, tak ada. Bola mata Alfin jatuh padanya, menatap penuh kecewa juga kesedihan yang mendalam.
"Kakak. Aku lihat cuma Kakak yang paling tenang dan paling bijak di sini. Bisa Kakak jelasin sama Alfin apa yang terjadi sama Naina?" pinta Alfin memohon dalam tangis kesedihan.
Amaliah melirik semua orang, ia tidak tahu apa-apa. Meneguk ludah bingung, apa yang harus ia katakan pada adik iparnya itu. Anggukan kepala dari suaminya, membawa langkah Amaliah untuk mendekat ke arah Alfin.
"Kakak benar-benar nggak tahu apa-apa. Kakak emang sempat lihat Naina di lorong rumah sakit sambil nangis tadi, tapi waktu Kakak panggil dia malah lari. Kakak mohon maaf," sesal Amaliah.
Alfin menilik kedua manik coklat itu, tampak jujur dan tak ada kebohongan sama sekali. Amaliah adalah wanita yang baik, lemah lembut, wanita yang Alfin segani dan Alfin hormati. Kepalan tangan Alfin semakin erat, secepat kilat berbalik dan melayangkan tinju pada dinding ruangan.
"Argh!"
Buk!
"Alfin!" Semua orang memekik melihat reaksi tak terduga dari pemuda itu. Darah merembes dari pori-pori kulit, menyebar di atas permukaannya.
__ADS_1
"Argh! Argh! Argh!"
Alfin terus melayangkan tinjunya hingga jejak berdarah menyebar di permukaan dinding bercat putih itu. Jika saja Busyro tidak menahannya, mungkin dinding itu akan rusak.
"Alfin! Tenang!" Sekuat tenaga Busyro mencekal kedua tangan adiknya. Secara fisik, Alfin memang terlalu kuat untuk ia lawan.
"Lepas! Biar aku mati sekalian!" sentak Alfin yang kali ini mencoba untuk membenturkan kepalanya pada dinding.
Aminah memekik, menangis sambil menutupi mulutnya. Ia menggeleng, hati melirih meminta Alfin untuk tidak menyakiti diri sendiri.
"Jangan bodoh, Alfin!" sentak Busyro, menarik tubuh Alfin untuk menjauh dari dinding meski kepayahan.
"Kalo kalian nggak suka sama Naina, jangan minta dia buat berkorban segalanya." Alfin menatap Aminah tajam, dalam cekalan Busyro dia meronta.
Khadijah terus tersedu, sebagian hatinya menyalahkan Aminah. Merutuki dirinya yang juga lemah. Melihat Alfin yang begitu terpukul karena sikap keras kepalanya, Aminah terus tersedu, menumpahkan air mata. Namun, tak pernah terbesit di hatinya tentang nama Naina. Tentang gadis yang ia rendahkan sekaligus ia salahkan.
"Cukup, Alfin! Jangan sakiti dirimu sendiri!" ucap Khadijah turut berhambur mendekati Alfin dan membantu Busyro menahan tubuh adiknya.
Beberapa kali Alfin berhasil membenturkan dahi ke dinding hingga kulitnya tergores dan meninggalkan luka. Darinya cairan merah merembes keluar, berbaur dengan keringat juga air mata.
Koko yang dikenakan Busyro telah basah oleh keringat, Amaliah menangis histeris. Ia berlari ke mushola memanggil Ahmad meminta bantuan laki-laki tua itu untuk menenangkan Alfin.
"Alfin! Maafin Umi, Nak! Maafin Umi," lirih Aminah nyaris tenggelam oleh tangisannya sendiri.
Alfin bergeming, telinganya tak mendengar. Terus memberontak seolah-olah tak ada rasa sakit. Sedikit kegaduhan yang terjadi, membuat keributan di luar ruangan. Namun, tak ada satu pun yang berani masuk untuk melihat.
Amaliah terus berlari menuju mushola. Di dalam ruangan yang tak seberapa luas itu, Ahmad duduk terpekur merenungi ujian yang menimpa keluarganya. Air mata masih terus berjatuhan, tertunduk dalam segenap kerendahan hati.
"Abi! Tolong, Abi!" Amaliah menangis, memanggil Ahmad bergetar.
Tubuh laki-laki tua itu tersentak, segera berbalik dan mendapati sang menantu menangis histeris di depan mushola.
"Amaliah?" Ia beranjak dengan cepat, menghampiri menantunya itu, "ada apa?" lanjutnya bertanya ketika tiba di hadapan Amaliah.
"Alfin, Abi. Alfin nggak bisa dikendaliin, dia ngamuk di ruangan Umi," adunya sambil terus berderai air mata.
__ADS_1
Ahmad terhenyak, tertegun sejenak mendengar anak bungsunya ada di sana.
"Ayo, Bi! Cepat!" tegur Amaliah menyadarkan Ahmad dari lamunan.
"Ah, ayo!" Ahmad berjalan secepat yang dia bisa. Mendengar Alfin ngamuk, ia tahu pemuda itu tak dapat dikendalikan kecuali oleh Ustadz Hasan.
Jantung Ahmad bertalu-talu mendengar tangisan lirih yang menguar dari ruangan istrinya. Ada pula beberapa tenaga medis yang mencoba menenangkan Alfin, tapi mereka tak mampu.
"Alfin! Astaghfirullah al-'adhiim!" lirih Ahmad bergetar. Beruntung dia tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Jika iya, maka sudah pasti jantungnya yang terus berdenyut itu akan lemah seketika ... atau tak akan berdetak lagi.
"Ya Allah!" Ahmad mempercepat langkahnya meski kepayahan karena sudah tua dan rapuh.
"Alfin! Ya Allah!" Hanya itu yang dapat keluar dari lisannya.
Ia membuka pintu dan mendapati Busyro bersama dua orang perawat laki-laki memegangi tubuh Alfin. Dahi juga tangannya berdarah, wajahnya menghitam marah. Seperti itulah anak bungsunya bila sudah tersulut emosi.
"Alfin!"
Plak!
Ahmad menampar pipi putranya cukup kuat, hal yang tak pernah ia lakukan untuk seumur hidupnya. Terpaksa untuk membuat Alfin tenang. Bergetar tangan itu, rasa sesal pun terus merundung hatinya. Tatapan mata Ahamd bertemu dengan kedua manik merah Alfin.
Ada banyak penderitaan terpancar di kedua matanya. Ahmad bisa merasakan kepedihan hati sang anak.
"Ikut Abi! Kita bicara di tempat lain!" ucap Ahmad dengan tegas.
Laki-laki itu melirik Aminah, tatapan matanya menyalahkan wanita itu. Ia berbalik, meminta Busyro dan Khadijah untuk membawa Alfin bersama mereka. Pemuda itu tertunduk, pasrah pada tarikan kedua kakaknya.
Mereka duduk di mushola, tempat yang jarang disambangi pengunjung.
"Ada apa? Cerita baik-baik dan pelan, Abi dengarkan dan kita cari solusi sama-sama," ucap Ahmad dengan kelemah-lembutannya seperti biasa.
"Iya, Fin. Ada Kakak di sini, juga Abi. Kamu bisa cerita apa yang terjadi?" sahut Busyro menatap iba pada pemuda yang masih berupaya menenangkan hatinya.
Sementara Khadijah, diam dan tertunduk. Alfin menghela napas, memejamkan mata sembari mengepalkan tangan kuat-kuat. Mencoba menenangkan hatinya dari segala amarah.
__ADS_1
"Naina ...."