
"Suf? Apa pendapat kamu tentang perempuan?" tanya Alfin disela-sela istirahat di toko.
Yusuf bermenung dalam, memikirkan makna tentang satu kata yang belum digenggamnya.
"Perempuan atau istri?" Pemuda itu balik bertanya demi mempertegas jawabannya.
"Yah, istri boleh," sahut Alfin memperjelas pertanyaan.
Yusuf menghela napas, membayangkan kehidupannya yang sebatang kara tinggal di sebuah apartemen cukup mewah.
"Istri ... menurutku dia itu teman. Teman di setiap waktu, teman di segala hal. Utamanya teman yang menjadi pelengkap hidupku. Itu aja, sih," jawab Yusuf tak muluk-muluk.
Alfin menganggukkan kepala, setuju dengan pendapat rekannya. Terpikir untuk membahas tentang gadis yang dibicarakan Naina, tapi urung biarlah mereka bertemu secara alami saat dalam pesta.
"Kamu nggak ada kepikiran mau nikah, Suf?" Alfin kembali bertanya memastikan keinginan pemuda itu.
Yusuf menghela napas, terbayang wajah seorang gadis yang tempo hari sempat membuatnya menaruh hati. Namun, harapan itu langsung dipatahkan sebab dia sudah bersuami, dan tak lain adalah temanya sendiri sekaligus atasan.
"Nikah? Siapa yang nggak mau menikah, Fin? Aku juga mau melaksanakan ibadah panjang itu. Cuma kalo deket-deket perempuan nggak tahu kenapa hati aku rasanya nggak normal. Kalo kamu sudi mau nyariin aku terima, Fin. Demi Allah! Nggak nolak pokoknya yang penting penyakit takut perempuan aku sembuh dulu," tegas Yusuf dengan binar tekad yang memancar di wajahnya.
Dia bersungguh-sungguh, tak akan Alfin mempertemukannya dengan gadis sembarangan. Biarlah dia menilai sendiri seperti apa perempuan itu. Alfin tak akan memberitahu soal Biya kepada Yusuf karena ia sendiri tidak mengenal gadis itu.
"Yah, mudah-mudahan aja deket jodoh kamu, Suf. Kalo ada perempuan sendirian jangan sungkan buat deketin, ajak dia kenalan. Kamu harus bisa melawan ketakutan kamu itu," ucap Alfin mengingatkan.
Yusuf menghela napas, membenarkan apa yang dikatakan Alfin barusan. Tak perlu takut, tapi mampukah dia melakukannya?
__ADS_1
"Nanti aku coba, Fin. Kamu sendiri gimana? Kok, tiba-tiba udah nikah aja," selidik Yusuf yang sempat terkejut dengan kabar pernikahan Alfin.
Suami Naina itu tertawa, merasa lucu dengan takdir yang harus dia jalani.
"Yah, Suf. Aku sendiri aja kadang nggak percaya kalo udah nikah. Semuanya dadakan, hari itu aku ketemu ayahnya, langsung minta nikah. Nikah secara agama awalnya, tapi sekarang kami udah punya buku nikah. Nikah itu enak, Suf. Tidur ada yang menemin, nggak sendirian lagi, nggak kedinginan lagi, dan yang pasti guling yang kita peluk itu hidup, Suf. Makanya jangan ragu kalo mau nikah, malah nyesel nanti karena terlambat nikah. Kalo aku tahu nikah itu enak, udah dari dulu aku nikah." Alfin mencibirkan bibir.
Yusuf terkekeh, Alfin yang dikelilingi banyak orang saja masih membutuhkan teman untuk mengarungi kehidupan. Apatah lagi dirinya yang hidup hanya sebatang kara. Ditinggal orang tua, hidup di jalanan. Beruntung bertemu Alfin, teman yang merangkulnya pada kehidupan layak.
"Kamu bener, Fin, tapi dalam berumahtangga itu aku sering lihat masalah yang berkepanjangan. Suami istri cekcok, bertengkar sebab apa saja. Apalagi masalah ekonomi, itu paling sering aku denger. Aku takut nggak mampu nafkahin istri aku, Fin. Aku nggak mau kayak mereka yang bertengkar setiap hari," ungkap Yusuf berkaca pada kehidupan rumah tangga kebanyakan orang yang sering kali dia lihat.
Alfin menepuk bahunya, menghela napas, membayangkan kehidupan masyarakat di zaman modern ini.
"Istri itu bawa rezeki buat suami. Bahagiakan hatinya, maka rezeki kamu akan ngalir dengan deras. Memang, sekarang ini zamannya udah beda, Suf. Kalo dulu orang tua kita, cuma diantar makanan ke ladang aja suami udah seneng bukan main. Sekarang, di Facebook aja banyak nenek-nenek eksis nyaingin anak-anak muda. Yah, berumahtangga itu perlu ilmu, Suf. Sama seperti kamu mengelola toko ini. Sebagai nakhoda kamu harus tahu arah mana yang akan dituju."
Alfin kembali menepuk-nepuk bahunya sebelum melirik jam di dinding. Ia beranjak dari kursi, teringat pada anak-anak yang harus dia jemput.
"Aku pergi dulu. Anak-anak sudah waktunya pulang," pamit Alfin meninggalkan Yusuf sendiri dalam lamunan.
Yusuf tak menanggapi, terus memikirkan apa yang tadi diucapkan sahabatnya itu. Ia menghela napas, nyatanya tak semudah berbicara.
"Kayaknya aku harus baca-baca buku tentang pernikahan ini. Hah~." Yusuf menghela napas, menundukkan kepala kemudian mengusap wajahnya.
"Mungkin sholat bisa memberiku petunjuk," gumamnya seraya beranjak dan pergi ke mushola. Menunaikan sholat sunah dua raka'at meminta petunjuk kepada Allah.
****
__ADS_1
Di tempat lain, Biya duduk di meja kerjanya sambil memikirkan banyak hal. Termenung dengan tatapan hampa membayangkan semua yang sudah ia lewati.
"Menikah? Apa segampang itu dilakukan?" Ia mulai bergumam, teringat pada ucapan Rayan tentang seorang pemuda yang mencari istri.
"Aku hanya ingin sekali saja seumur hidup. Ya Allah! Beri aku petunjuk." Biya menutupi wajahnya, menghela napas dalam dan membuangnya dengan hati-hati.
Nak, kalo kamu berada dalam kebimbangan, dirikanlah sholat. Dengan sholat kamu akan mendapatkan petunjuk. Insya Allah.
Nasihat sang ibu kembali terngiang di telinga. Dia hampir melupakan Tuhannya, entah kapan terakhir kali Biya menunaikan sholat tepat waktu? Ia sudah melupakan itu.
"Astaghfirullah al-'adhiim! Aku sudah jauh dari-Mu, ya Allah. Aku hampir melupakan-Mu." Biya menangis, kemudian beranjak masuk ke kamar mandi mengambil wudhu dan menunaikan sholat sunah dua raka'at meminta petunjuk.
Wasta'iinuu bis-sabri wash-shalaah, wa innahaa lakabiiratun illaa 'alal-khaasyi'iin. (Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'.)*
Biya begitu khusyuk dalam mengerjakan sholat sunah tersebut. Menengadahkan tangan, melangitkan doa dan harapan. Tak banyak yang dia pinta, hatinya hanya mengharapkan seorang laki-laki yang mampu menjadi imam yang baik untuknya.
Membimbingnya untuk lebih mendekati Sang Pencipta, menjauhkannya dari segala maksiat dan dosa. Melangkah bersamanya di jalan hidayah yang lurus. Biya tidak meminta dunia, karena ia sudah merasa puas dengan apa yang menjadi miliknya.
"Ya Allah, jika dia baik untukku, untuk agamaku, dunia dan akhiratku, maka dekatkan aku dengannya. Jika ia buruk untukku, untuk agamaku, dunia dan akhiratku, maka jauhkanlah ia dariku. Berikan aku seorang imam yang taat kepada-Mu, ya Allah. Yang mampu membimbing hatiku, yang kerap jauh dari-Mu bahkan melupakan-Mu."
Menetes air mata Biya mengingat betapa jauhnya ia dari Tuhan.
****
*Al-Baqarah ayat 45
__ADS_1