Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 85


__ADS_3

"Abi! Penjahat sebenarnya sudah tertangkap. Dalang dari kejadian malam itu sudah ada di penjara, Bi!" pekik Khadijah begitu mendapatkan kabar dari pihak kepolisian.


"Alhamdulillah, ya Allah!" Ahmad menjatuhkan diri di lantai, tersungkur dan sujud penuh syukur.


Khadijah terenyuh, tanpa terasa air mata menjatuhi pipi. Menangis dalam keharuan dan rasa syukur yang besar.


Ahmad beranjak dengan cepat meski kepayahan. Menghampiri ranjang di mana Aminah terbaring belum sadarkan diri. Ia duduk di kursi, menggenggam tangan sang istri dengan lembut.


"Mi! Umi denger, 'kan, tadi Khadijah bilang apa? Penjahat yang sebenarnya udah ketangkep, Mi. Umi harus bangun, sebentar lagi Alfin pulang. Apa Umi nggak mau nyambut dia? Anak kita itu pasti sedih lihat uminya kayak gini," ucap Ahmad bergetar, meremas jemari Aminah dengan lembut.


Tak surut air matanya menghujani pipi, berkali-kali ia seka dengan cepat. Sambil berharap dalam hati, sang pujaan akan terbangun dari mimpi.


"Mi ...." Ahmad terisak, lidahnya kelu tak dapat mengucap. Kepalanya menunduk tak kuasa menatap. Wanita itu itu laksana sesosok mayat. Hidup, tapi tak bergerak.


"Al-fin!" lirih suara Aminah nyaris seperti bisikan.


Ahmad tersentak, dengan binar di matanya mengangkat wajah memandang Aminah.


"Umi!"


Aminah meracau memanggil nama anaknya meski kedua mata terus terpejam rapat.


"Umi!" Khadijah ikut berhambur ketika otot-otot di wajah sang ibunda bergerak-gerak.


Ia membungkuk tepat di sisi wajah Aminah, memastikan penglihatannya tak salah. Mulut Khadijah terbuka, air jatuh dari kelopak mata. Sungguh tak dinyana, kelopak mata Aminah hampir terbuka.


Tubuh Khadijah reflek menjauh dan berjalan cepat keluar memanggil dokter. Kedua kakinya melaju cepat dengan sebelah tangan yang memegangi perutnya, menuju meja informasi.


"Umi saya sadar!" beritahunya dengan cepat.


Ia dan dokter bersama perawat kembali ke ruangan Aminah. Tidak mendekat untuk beberapa saat memberikan ruang kepada dokter untuk memeriksa.


Kelopak tua itu akhirnya terbuka sempurna, menatap langit-langit ruangan yang didominasi warna putih.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Ibu sudah melewati masa kritis. Sekarang, hanya tinggal pemulihan saja. Kalo begitu, saya permisi," pamit dokter usai menjelaskan keadaan Aminah.


"Makasih, Dok." Khadijah tersenyum senang, ia mengantar dokter sampai ke ambang pintu. Setelahnya kembali ke dekat ranjang Aminah.


"Umi!" panggil Khadijah lirih dan bergetar.


Aminah menoleh ke samping kanan tubuhnya, tersenyum melihat si Sulung yang menitikan air mata.


"Gimana sama Alfin? Apa dia masih di kantor polisi? Ajak dia pulang, Dijah. Alfin nggak bisa tidur kalo tanpa alas," ujarnya terkenang masa-masa Alfin saat kecil yang tak dapat tidur sembarangan.


"Penjahatnya udah ketangkep, Umi. Alfin pasti keluar dari sana." Khadijah mengusap pipi Aminah yang dibasahi air mata.


"Umi pengen ketemu sama Alfin. Abi harus cepat-cepat jemput anak kita," ucap Aminah pilu.


Mendengar permintaan sang istri, Ahmad menganggukkan kepala. Sambil berharap Alfin akan pulang hari ini juga.


"Iya, nanti biar Busyro yang ke sana. Biar Khadijah yang memberitahu adiknya itu buat jemput Alfin di kantor polisi. Sekarang, Umi harus makan supaya cepat sehat. Alfin nggak akan senang kalo lihat Umi kayak gini," ucap Ahmad seraya mengambil makanan dan hendak menyuapi istrinya sendiri.


Aminah tersenyum, ia beranjak duduk dibantu Khadijah dan Ahmad. Mengernyit dahinya ketika rasa pening terus mendera kepala. Aminah memejamkan mata, menahan rasa sakit yang hebat itu. Menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Kenapa, Mi?" tanya Ahmad ketika Aminah diam dan berhenti mengunyah.


Pertanyaan Ahmad bernada cemas itu mengalihkan perhatian Khadijah yang sedang sibuk mengirimi pesan kepada Busyro juga suaminya perihal Aminah yang sudah sadarkan diri.


Aminah memutar kepala, menatap bergantian kedua orang yang menemaninya setiap hari.


"Apa gadis itu udah ketemu? Apa dia mau bantuin Alfin?" Pertanyaan yang dilontarkan wanita sepuh itu terdengar sedikit ketus, ia menganggap semua yang terjadi pada Alfin disebabkan Naina. Semenjak anak bungsu itu dekat dengannya, ia kerap mendapatkan kesulitan.


Khadijah mendesah, mendengar suara sang ibunda yang sedikit tak ramah.


"Udah, Mi. Dia udah menghadap pihak kepolisian, bahkan Naina sama papahnya yang berhasil mengungkap siapa dalang dibalik semua ini," jawab Khadijah sembari menelisik wajah Aminah dengan kerutan di dahi.


Sedikit heran karena ia tak melihat cinta memancar di kedua manik tua itu yang sebelumnya selalu ada ketika menyebut nama Naina.

__ADS_1


"Baguslah. Emang harusnya begitu. Semua itu, 'kan, karena dia juga. Udah seharusnya dia tanggung jawab," sahut Aminah. Rasa sayang yang telah tumbuh di hatinya untuk Naina, terkikis oleh sebab kejadian yang tak terduga.


Khadijah lagi-lagi menghela napas. Merasa tak seharusnya Aminah berkata demikian, tapi ingin menyela ia khawatir kesehatan wanita tua itu akan kembali terganggu.


"Tadi kamu bilang, papah? Papah siapa?" tanya Aminah sedikit heran mendengar kata papah. Begitu pula dengan Ahmad, teringin tahu papah siapa yang dimaksud.


"Papah Naina, Mi. Dia punya keluarga utuh sekarang. Yah, walau cuma orang tua angkat, tapi mereka sangat menyayangi Naina. Dijah udah ketemu sama mereka, dan mereka orang-orang yang baik," jawab Khadijah sembari tersenyum mengingat perkenalannya dengan Habsoh. Wanita kuat, sekuat karang di lautan. Tangguh, setangguh bunga di tepi jurang.


Aminah melengos, tersenyum mencibir, tapi tak berkata apapun. Terus diam, dan kembali meneruskan makannya. Ahmad tak banyak bicara, dia memilih diam meskipun hati tak tenang.


Sementara Khadijah, menetap kecewa pada wanita di atas ranjang itu. Seharusnya ia mengerti semua yang terjadi bukanlah ingin Naina. Padahal sudah ia katakan dengan jelas tentang dalang dibalik kejadian itu. Akan tetapi, Aminah tak mau tahu. Dia tetap menganggap Naina adalah orang yang seharusnya paling disalahkan dalam kejadian itu.


"Khadijah, kamu pernah ketemu sama Nadia lagi?" tanya Aminah secara spontan usai beberapa saat mengabiskan makanannya.


Khadijah menautkan alis, sudah sekian lama tak ada pembahasan tentang gadis itu. Tiba-tiba Aminah mengingatkan mereka lagi bahwa pernah ada Nadia dalam kehidupan Alfin.


Ahmad diam memperhatikan, ingin mengetahui kelanjutan kisah mereka.


"Belum, Umi. Emangnya kenapa?" Khadijah menatap lekat-lekat wajah sang ibunda yang pucat.


Bahu wanita tua itu naik dan turun bersamaan dengan udara yang ia hirup. Memikirkan nasib Alfin, Aminah ingin yang terbaik untuknya.


"Umi rasa Nadia jauh lebih baik untuk menjadi istri Alfin. Gimana kalo kita lanjutkan perjodohan mereka," ujar wanita itu sukses membuat kedua mata Khadijah membelalak lebar.


Ahmad bereaksi, tapi biasa saja. Ia hanya mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Sedikit terkejut dengan pernyataan sang istri.


"Nadia itu udah dijodohkan sama Fahmi, Umi. Lagian Alfin udah nolak dia. Alfin nggak mau menikah sama dia, Umi. Dia udah milih Naina," tolak Khadijah membela hak kebebasan Alfin dalam menentukan pendamping hidup.


Aminah menoleh, garis wajahnya terlihat kerasa. Dia berkata, "Nggak ada kebaikan dari seorang gadis yang dilahirkan di luar nikah."


Jedar!


Petir menyambar, tak ada hujan tak ada angin, bahkan cuaca pun sedang terik.

__ADS_1


****


Maaf, kakak-kakak semua. Semalam othor nggak up karena meriang.


__ADS_2