
Sore hari di masjid, Alfin baru saja selesai mengajari anak-anak mengaji. Ia duduk-duduk di serambi sambil memberi makan ikan-ikan di kolam. Sesekali akan melirik anak-anak yang bermain di depan halaman asrama.
Ia tersenyum, pandanganya kembali terjatuh pada kolam di mana ikan-ikan berebut makanan. Hatinya terasa damai, tenang dan tanpa beban. Sampai kedatangan Halwa yang membuatnya tersentak dari lamunan.
"Ayah! Ngapain ngelamun?" tegur gadis kecil itu sambil memeluk leher Alfin.
"Astaghfirullah al-'adhiim, Halwa! Kamu bikin Ayah kaget aja." Alfin mengusap dadanya yang berdebar.
Halwa terkekeh, seraya duduk di pangkuan sang ayah yang sedang menikmati kesendirian.
"Ayah, ibu ada di mana? Kenapa nggak pernah datang ke sini lagi buat nengokin kita?" tanya Halwa merindukan sosok Naina yang beberapa hari lalu sering datang berkunjung.
Alfin tercenung mendengar itu, jantungnya semakin menggebu-gebu ketika nama Naina disebut.
Ya Allah! Ada apa ini?
Alfin berdzikir untuk menenangkan hatinya yang tiba-tiba merasa resah. Namun, ia menepis itu semua dan membaca ta'awudz, memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan.
"Ibu lagi kerja. Nanti kalo libur juga main ke sini. Udah, mandi sana. Bentar lagi mau maghrib," titah Alfin diakhiri dengan helaan napas.
Halwa beranjak dan berlari menghampiri kakaknya untuk membersihkan diri. Alfin mendesah, memegangi dadanya yang terasa sesak karena rasa gelisah yang hadir semakin pekat.
Ia melangkah masuk ke dalam masjid setelah mengambil wudhu. Membaca Alqur'an sambil meraba-raba artinya. Hingga Maghrib tiba, hati Alfin bukan semakin tenang, tapi justru semakin gelisah dibuatnya.
Sampai dering ponsel menyentak tubuh Alfin yang tengah duduk menenangkan diri di belakang masjid. Panggilan dari Khadijah. Alfin terburu-buru mengangkatnya menyapa dengan cepat dan mendengarkan apa yang ingin dia sampaikan.
"Alfin. Coba lihat Naina di butik. Perasaan kakak nggak enak, Abi juga tadi bilang supaya kamu menjemput Naina. Cepetan!" titah Khadijah untuk kemudian menutup sambungan telepon.
Tanpa menunggu apapun lagi, Alfin pergi ke asrama anak-anaknya. Mengambil kunci motor dan pergi tanpa berpamitan. Di sepanjang jalan, ia tak henti berdoa untuk keselamatan Naina. Alfin tiba dengan cepat di tempat gadis itu bekerja, segera menuruni motor dan masuk ke dalam butik.
"Alfin?" tegur sang pemilik butik yang kebetulan berada di sana menunggu kedatangan Naina. Ia pun terlihat gelisah, pasalnya Naina pergi terlalu lama.
__ADS_1
"Di mana Naina?" tanya Alfin segera tanpa berbasa-basi. Kepalanya celingukan ke kanan dan kiri mencari-cari sosok gadis itu.
"Naina saya minta buat antar pesanan, tapi sampe sekarang belum datang," jawab sang pemilik butik dengan perasaan yang semakin tak menentu.
"Ke mana?"
Ia menyebutkan satu alamat, membelalak mata Alfin mendengar daerah tersebut.
"Astaghfirullah al-'adhiim! Itu cukup jauh dari sini. Apa Kakak tahu, Naina itu baru di kota ini dan dia nggak tahu ke mana-mana. Kenapa masih menyuruh Naina untuk mengantar pesanan? Bukannya masih ada yang lain?" sentak Alfin semakin gundah gulana.
"I-iya, saya salah. Maafkan saya, saya menyesal. Nanti saya akan mengirimkan orang buat nyusul Naina," ucapnya tak membuat hati Alfin tenang.
Ia pergi keluar, menghubungi Naina untuk memastikan keadaan gadis itu.
"Assalamu'alaikum! Ya, aku di jalan."
Suara Naina terdengar mengalun, tapi tak cukup menenangkan hati Alfin. Dia berada jauh dengannya saat ini.
Alfin kemudian menutup sambungan membuka aplikasi pesan menunggu kiriman lokasi dari Naina.
"Astaghfirullah!" Alfin mengusap wajah saat mengetahui jarak yang tak dekat dari posisinya saat ini. Ia menaiki motor dengan segera, menyusul ke lokasi Naina berada. Mengikuti arahan dari petunjuk dalam ponsel sambil mengucap istighfar di dalam hati.
Tak henti batinnya memohon kepada Yang Kuasa untuk keselamatan Naina. Alfin semakin mempercepat laju motornya ingin segera tiba di tempat Naina berada. Sialnya, seperti halnya di kota, jalan utama dipadati kendaraan. Kemacetan mengular cukup panjang padahal itu jalan tercepat untuk segera tiba di lokasi Naina.
Alfin memutar arah, lidahnya berdecak berulang kali karena tak sabar. Semakin jauh, semakin hatinya gelisah dan cemas. Alfin mempercepat laju motornya, tapi lagi-lagi halangan membuatnya terhambat.
Jalanan ditutup karena terjadi kecelakaan beruntun dan semua kendaraan sedang dievakuasi petugas.
"Allahu Akbar!" Alfin mengusap wajah gundah, menatap semua petugas yang sedang bahu-membahu mengeluarkan para korban dari dalam kendaraan tersebut.
Gerimis mulai turun mengguyur bumi, Alfin menoleh ke kanan dan kiri mencari-cari jalan lain yang bisa membawanya pada Naina. Ia bertanya kepada salah satu warga tentang jalan menuju lokasi tersebut.
__ADS_1
"Oh, ada. Masuk ke gang yang ada kiri tadi, tapi jalannya kecil. Terus jauh lagi," jawab warga tersebut.
Mendengar itu Alfin menjadi ragu, ia turun dari motor untuk dapat melihat perkembangan dari evakuasi para korban kecelakaan.
"Astaghfirullah al-'adhiim!" Tanpa sadar lisannya berucap, masih terlalu lama jika harus menunggu mereka selesai.
Alfin kembali ke motornya, dan berbalik arah mencari gang yang dimaksud. Gerimis yang turun semakin deras, menghalangi penglihatan. Ia masuk ke dalam gang tersebut, terus melaju dengan hati-hati. Pemukiman penduduk yang begitu padat sehingga akses jalan begitu sempit. Bila ada motor dari arah lain, salah satu dari mereka harus mengalah.
"Ya Allah! kapan sampenya kalo kayak gini?" Alfin mulai mengeluh, menangis tanpa air mata.
Tak peduli pada pakaiannya yang basah kuyup, tak peduli penglihatan yang tertutup. Satu yang dia inginkan segera tiba di tempat Naina berada.
Alfin menepi sebentar di depan sebuah toko yang tutup untuk melihat lokasi Naina. Ia mengernyit ketika titik biru itu hanya diam tak bergerak.
"Di mana itu? Kenapa titiknya nggak mau bergerak? Ya Allah! Apa yang terjadi, ya Allah!" racau Alfin kembali memasukkan ponsel ke dalam sarung menggamitnya di perut.
Ia melanjutkan perjalanan dengan hati yang semakin gelisah. Melaju di jalanan sempit yang jika tidak hati-hati bisa terjatuh. Selain itu, jalanan yang hanya berupa batako sebagian sudah berlumut menjadi licin saat tersiram air hujan.
Alfin membunyikan klakson ketika kendaraan dari berlawanan arah hendak masuk ke dalam gang. Ia meminta jalan terlebih dahulu untuk segera tiba di jalan utama.
"Alhamdulillah, ya Allah!" Alfin tiba di jalan utama yang sebagian sudah tergenang air karena luapan parit di sisi kanan dan kiri jalan.
Alfin menambah kecepatan, pandangannya semakin memburam, silau saat terkena sorot lampu kendaraan. Alfin mengangkat sebelah tangan, menghalau sorot lampu yang mengarah tepat di kedua kornea matanya.
Memasuki kawasan yang dituju Naina, jalanan menjadi sepi. Alfin menepi, mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Naina. Sekali, dua kali, tiga kali, Naina tak kunjung menjawab panggilannya.
"Astaghfirullah! Di mana kamu, Nai?" Alfin mendesah memperhatikan titik lokasi keberadaan ponsel Naina. Ia menyusuri jalanan tersebut dengan berjalan kaki karena lokasi yang terlihat tidak terlalu jauh.
"Astaghfirullah! Ya Allah, Naina!" Mata Alfin membelalak, tubuhnya menegang.
****
__ADS_1
"Tolong!"