Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 35 Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

"Assalamu'alaikum!"


Suara salam yang menggema di ruang depan rumah, mengheningkan suasana ruang tamu. Naina mencoba bersikap biasa meskipun sembab tak dapat disembunyikan di mata. Begitu pula dengan Aminah, ia menetralkan hatinya untuk menyambut pemilik suara salam itu.


"Wa'alaikumussalaam!" sahut mereka berjamaah.


Satu sosok laki-laki berkain sarung hitam polos memasuki ruang depan, disusul seorang wanita dengan penampilan yang sempurna seperti Khadijah dan Aminah. Bersama mereka seorang anak laki-laki berusia lima tahun yang serupa dengan ayahnya.


"Wah, ada Kak Dijah sama Alfin. Ternyata kalian lagi ngumpul di sini, ya," ujar laki-laki tersebut sembari mendatangi Ahmad dan berlutut untuk menyalami laki-laki sepuh itu.


Dia Busyro, kakak kedua Alfin, seorang pimpinan pondok pesantren peninggalan sang mertua.


"Iya, ada calon istri Alfin juga di sini. Kebetulan kamu datang, jadi bisa kenal dan siapa tahu ketemu di jalan," ucap Ahmad dengan hatinya yang ngilu.


Busyro dan istrinya menatap Naina, gadis itu terus menunduk menyembunyikan wajahnya yang tak sedap dipandang. Dahi sang istri mengernyit melihat jejak tangisan di wajah Naina.


"Hebat kamu! Diam-diam udah mau nikah aja." Busyro menepuk bahu Alfin bangga. Ia mengalihkan pandangan pada Ahmad dan berkata, "ya udah, Bi. Nggak usah nunggu lama-lama lagi. Nikahin aja biar pacaran mereka halaalan thoyyiban."


Alfin tersipu, Naina semakin dalam menunduk. Mereka semua keluarga yang sangat memahami agama, sungguh beruntung Naina dipertemukan dengan Alfin dan keluarganya.


"Yah, itulah yang Abi mau. Makanya mumpung kalian semua kumpul di sini, kita bahas aja kapan baiknya pernikahan Alfin dilangsungkan," ucap Ahmad menyerahkan keputusan kepada semua anak-anaknya.


Naina meneguk ludah, menggigit bibir gugup. Dalam rencana hidupnya, belum ada catatan menikah di tahun itu. Namun, jika takdir sudah berkehendak, apa mau dikata. Itu lebih baik daripada terus menumpuk dosa.


"Yah, kita ambil di bulan baik aja, Abi. Kayaknya bulan Sya'ban cukup bagus. Jadi, saat Ramadhan nanti Alfin sudah ada pendamping. Sudah ada yang ngurus, biar nggak ngurusin anak-anak mulu," ujar sang kakak laki-laki, Busyro sambil menggoda adiknya.


"Yah, Abi setuju. Lalu, kapan kita mau ke rumah bibi Naina untuk lamaran resmi? Mengingat bulan Sya'ban hanya tinggal sebulan lagi penuhnya," tanya Ahmad.


"Jadi, nama kamu Naina?" tanya Amaliah, istri dari Busyro.


Gadis itu mengangguk seraya menjawab dengan lirih, "Iya, Kak." Tanpa mengangkat kepalanya.


"Aku Amaliah, biasa dipanggil Amel. Selamat datang di keluarga besar kami, ya," ujar wanita bersuara syahdu itu.

__ADS_1


"Makasih, Kak," sahut Naina bergetar.


Lagi-lagi hatinya tak kuasa menahan tangisan. Namun, kali ini, Naina tak ingin lagi menjatuhkan air mata.


"Minggu depan juga boleh. Kita ramai-ramai ke sana? Atau perwakilan aja?" ujar Khadijah memberi saran.


"Yah, ramai-ramai boleh, Kak. Biar sekalian kita saling mengenal," sahut Busyro antusias.


"Tapi rumah bibi sama paman kecil, takutnya kalo semua ikut nanti nggak nyaman karena sempit," sambar Naina memberitahu keadaan rumah Asep dan Sumiyati pada mereka.


Kesempatan itu digunakan oleh semua orang untuk dapat melihat wajah Naina, termasuk Alfin. Merasa diperhatikan, gadis itu kembali menunduk karena malu. Alfin berbisik di telinga Busyro, berbinar mata sang kakak.


"Nggak apa-apa. Kita ramai-ramai aja ke sana," cetusnya disetujui semua anggota keluarga.


Naina menghela napas, sudah tidak dapat mencegah keputusan itu. Ia pasrah pada takdir yang digariskan untuknya.


"Naja! Kemari, Nak. Nenek kangen sama kamu," panggil Aminah melambai pada anak Busyro yang baru berusia lima tahun.


Anak laki-laki itu mendekati sang nenek dan terus duduk di pangkuannya. Kedua cucunya yang lain berkumpul bersama Ahmad.


"Om Alfin, kemarin aku ke masjid cariin Om. Katanya nggak ada pergi ke toko, padahal aku mau minta diajarin ngaji sama Om," ujar Naja dengan wajah yang cemberut.


Alfin tersenyum, tidak tahu jika keponakannya datang untuk mengaji.


"Om nggak tahu. Nanti kalo mau ke masjid telpon dulu, ya." Alfin meminta dan diangguki bocah itu.


"Sebenarnya setiap hari dia merengek minta diantar ke masjid Om. Mau belajar ngaji sama Om, sama anak-anak Om di sana. Dia pengen tinggal di asrama itu, Alfin. Pengen kumpul sama anak-anak kamu," ucap Busyro menceritakan keinginan anaknya yang sedikit pendiam.


Alfin terenyuh, kepalanya manggut-manggut. Lalu, menatap Naja yang masih sangat kecil.


"Ya udah, nanti nggak usah ikut Abi sama Umi pulang. Biar ikut sama Om pulangnya langsung ke masjid," cetus Alfin menerbitkan senyum di bibir tipis bocah itu.


Ia mengangguk setuju, sedangkan Busyro dan istrinya menghela napas berat dan panjang.

__ADS_1


"Nanti ngerepotin Om. Om anaknya banyak, lho. Mereka semua yatim, kamu harus hidup berdampingan sama mereka," ingat ibunya, Amaliah.


"Insya Allah nggak, Umi. Naja pasti belajar mandiri di sana," sahut anak kecil itu dengan tata bahasa yang sempurna.


Naina tertarik untuk melihat wajahnya, lembut dan tampan. Ia melirik kedua orang tua anak tersebut. Memuji dalam hati, buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya.


"Oya, Abi. Tadi Fahmi telpon sama aku. Katanya ada keluarga yang mau ketemu sama dia. Jadi, dia datang ke sini sama ibunya. Sekarang lagi di perjalanan," beritahu Busyro.


Ahmad mengangguk-anggukkan kepala, tak menduga jika sahabatnya itu akan mengikuti saran darinya secepat itu.


"Yah, Abi yang nyaranin. Ada keluarga teman Abi yang datang mencarikan jodoh buat anak gadis mereka. Karena Fahmi belum menikah, jadi Abi minta mereka datang ke sana," sahut Ahmad sembari menghela napas.


Ia tetap menyembunyikan fakta bahwa Alfinlah yang pernah dilamar keluarga gadis itu. Hanya saja, Alfin tidak berniat mencari perempuan lain. Cukup Naina seorang.


"Pantes, dia mau ketemuannya di sini. Keluarga perempuannya juga lagi di jalan mau ke sini," ucap kakak laki-laki Alfin itu lagi.


Merasa urusan sudah selesai, Alfin berniat mengantar Naina pulang. Ia tahu, ada hal yang harus didiskusikan oleh keluarga besarnya itu.


"Kalo gitu, karena semuanya udah selesai. Alfin mau antar Naina pulang dulu. Takutnya paman sama bibi Naina nungguin," pamit Alfin menatap semua keluarganya.


"Iya, Nak. Takutnya kemalaman juga jadi nggak enak sama tetangga," sahut Aminah mengizinkan.


Alfin berdiri diikuti yang lainnya, gadis itu mengiringi langkah Alfin menuju pintu utama rumah. Secara kebetulan sebuah sepeda motor disusul mobil mewah memasuki halaman rumah besar itu.


Khadijah menunggu tamu yang baru saja datang dan meminta Alfin untuk tidak terburu-buru karena waktu masih sore. Seorang pemuda berjanggut tipis, turun dari motor bersama seorang wanita sepuh.


Penghuni mobil pun keluar, Nadia tampak Alim dan pemalu.


"Assalamualaikum!" ucap laki-laki dengan suara berat yang khas.


"Wa'alaikumussalaam! Mari, masuk, Nak!" ajar Ahmad antusias.


Satu per satu dari mereka masuk setelah bertegur sapa dengan Fahmi yang kalem. Menyusul keluarga Nadia yang turut berjalan dengan pelan.

__ADS_1


Dahi Naina sedikit terkumpul di antara kedua alisnya saat tak sengaja menatap wajah gadis tersebut. Nadia mengangkat wajahnya, berbinar kedua mata itu.


"Naina!"


__ADS_2