Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 36


__ADS_3

"Naina!" pekik Nadia cukup lantang. Ia berjalan cepat menghampiri calon istri Alfin itu dan menggenggam tangannya. Senyumnya terlihat sumringah, seperti seseorang yang baru saja bertemu dengan orang yang sudah lama tak dijumpainya.


Siapa?


Naina menelisik garis wajah yang terlihat lebih tirus dibalut hijab. Dahinya mengernyit, menerka-nerka wajah yang tak asing di depan mata. Naina terhenyak saat sebuah wajah melintas dalam pikirnya. Nama seorang teman pun perlahan timbul ke permukaan.


"Ti-tiwi? Ka-kamu Tiwi?" ucap Naina dengan lidah sedikit kelu.


Alfin dan Khadijah saling menatap satu sama lain, begitu pula dengan orang tua Nadia. Akan tetapi, keduanya lebih mengerti mengingat Nadia yang berkuliah di Jakarta. Besar kemungkinan mereka kenal dan akrab di sana.


"Iya, aku Tiwi. Nggak nyangka banget bisa ketemu kamu di sini," seru Tiwi sembari menggoyang-goyangkan tangan Naina.


"Maa syaa Allah! Kamu keliatan beda banget pake kerudung kayak gini. Aku pangling jadinya," ujar Naina menatap kagum pada sosok Tiwi yang terbalut pakaian tertutup. Tak ada lagi jejak make-up tebal di wajahnya, juga rambut yang berwarna-warni setiap minggunya.


Mendengar itu, Alfin dan Khadijah kembali saling menatap satu sama lain. Ada sesuatu yang menggelitik hati kakak Alfin itu, dan membuat jiwa detektifnya aktif secara otomatis.


"Ah, kamu sudah salah, Nak. Anak kami memang selalu memakai kerudung. Iya, 'kan, Mah?" Papah Nadia menekan tangan istrinya, memintanya untuk menyetujui apa yang ia ucapkan.


Wanita itu menghela napas, menunduk sambil mengangguk terpaksa. Laki-laki itu menatap Alfin dan Khadijah, ada perasaan tak nyaman di hatinya ketika melihat mata Khadijah memicing.


"I-iya. Masa kamu lupa, Nai?" cetus Tiwi gugup sembari mengeratkan pegangan tangannya pada Naina.


Gadis itu tercenung, menunjuk bingung pada Nadia alias Tiwi. Apakah ini sandiwara? Tapi kenapa?


"Ah, maaf. Kami harus secepatnya pulang. Kalian masuklah, kayaknya udah ditunggu semuanya," ujar Alfin tersenyum ramah pada keluarga yang tak kalah terpandang itu.


"Mari, Ustadz!" sambut Khadijah dengan sopan.


"Ah, ya. Terima kasih banyak," ucap papah Nadia sembari mengajak sang istri untuk memasuki rumah besar itu.

__ADS_1


"Nai, aku masuk dulu, ya. Nanti kita ngobrol lagi. Aku kangen sama kamu," ucap Nadia sembari memeluk Naina.


"Iya," sahut Naina dengan bingung.


Nadia masuk mengikuti kedua orang tuanya, berjalan angkuh melewati Alfin yang masih berdiri di ambang pintu. Naina berbalik, menatap punggung Nadia yang menjauh dan menghilang di dalam rumah.


"Ayo!" Ajakan Alfin memutuskan pandangan Naina dari dalam rumah. Hatinya masih bingung dengan situasi tak nyaman tadi.


Sampai duduk di kursi mobil, Naina masih diam mematung. Memikirkan pertemuannya dengan Tiwi. Sungguh tak menduga jika mereka akan bertemu di sana.


"Nai! Kok, ngelamun? Kenapa?" tegur Alfin sedikit melirik calon istrinya itu.


Naina menghela napas, masih tak habis pikir dengan sosok Tiwi yang berubah seratus persen.


"Aku ... aku cuma lagi mikirin yang tadi aja," ucap Naina sembari menundukkan kepala.


Lagi-lagi Naina menghela napas, sampai-sampai bahunya naik dan jatuh kembali. Ia menganggukkan kepala tanpa mengangkat wajahnya.


"Aku bukannya nggak senang lihat dia pakai pakaian tertutup. Cuma kenapa harus berbohong?" Naina mengeluh mengingat ayah dari Nadia berbohong soal penampilan anaknya.


"Bohong? Emangnya bohong apa?" Alis Alfin bertaut satu sama lain. Tidak mengerti ucapan Naina.


"Yah ... dulu, aku sama dia sama-sama tinggal di Jakarta. Dia ngekos sama teman-teman yang lain, aku di kontrakan tinggal sama ibu. Kami akrab, bahkan bisa dibilang sahabat. Dia di Jakarta suka dandan, pakaiannya juga nggak kayak sekarang. Makanya aku bersyukur ketemu di sini dia udah nutup auratnya. Kita sama-sama hijrah," ungkap Naina sambil tersenyum menoleh pada Alfin.


Laki-laki itu mengernyit, teringat bisikan ibunya yang mengatakan bahwa Nadia lulusan Mesir.


"Maaf, tadi kamu panggil dia apa?" Alfin sedikit merasa aneh dengan sebutan Naina untuk Nadia.


"Tiwi. Namanya Tiwi," jawab Naina sejujurnya, "dia teman yang baik. Ceria, dan mudah bergaul dengan siapa aja. Dia juga sering bantu aku waktu di Jakarta dulu. Yah, dia deket sama ibu. Kami sering main sama-sama di rumah, menginap, dan melakukan kegiatan bersama-sama. Kayak gitulah," lanjut Naina sambil tersenyum membayangkan kedekatannya dengan Nadia.

__ADS_1


Alfin tercenung, tersenyum sinis hampir saja dibohongi oleh gadis itu. Ia menghela napas, beruntung menolak perjodohan dengannya. Alfin merasa lega, dia lebih dulu bertemu dengan Naina yang jujur dan apa adanya. Seandainya Nadia lebih dulu, mungkin dia tak akan pernah bisa menemukan mutiara yang tersembunyi di dalam lumpur.


"Setahu aku namanya Nadia. Dia anak ustadz Ghofur, kuliah di Mesir," ucap Alfin merasa aneh sendiri.


"Nadia Pratiwi, setahu aku itu nama lengkapnya. Dia kuliah di kampus yang sama denganku, jurusan yang sama juga. Ekonomi," sahut Naina meluruskan.


Alfin manggut-manggut mengerti. Melihat ekspresi wajahnya, gadis itu tidak terlihat berbohong sama sekali. Mungkin ada kesalahpahaman yang terjadi, ataukah keluarga terpandang itu yang menyembunyikan fakta sesungguhnya. Jika begitu, maka alangkah kasihannya Fahmi bila menikah dengan Nadia.


"Kamu kenal dia?" tanya Naina balik menatap bingung.


"Yah, Abi minta ayah Nadia supaya dia dijodohkan sama Fahmi atas saran aku. Tadinya aku yang akan dijodohkan sama dia, tapi aku nggak mau karena aku ... udah ada kamu," ungkap Alfin yang tak ingin menutupi apapun lagi dari Naina.


Mendengar itu, Naina bersemu-semu. Senyum ditahan hingga bibir merah mudanya tampak berkedut.


"Fahmi itu lulusan Mesir, dia sekarang memimpin pondok pesantren peninggalan ayahnya, juga seorang dosen di sekolah tinggi Islam. Dia pemuda yang sholih, taat agama juga orang tua." Alfin tersenyum.


"Apa kamu nggak tertarik sama dia?" selidik Naina menilik wajah Alfin.


"Udah ada perempuan yang mencuri hatiku, aku nggak bisa lagi tertarik sama perempuan lain," ujarnya sembari melirik Naina dengan penuh cinta.


Gadis itu tersipu, merona kedua pipinya. Ia menunduk, menghindari tatapan Alfin. Tak kuasa hatinya menahan godaan. Terus beristighfar memohon ampunan.


Alfin sudah mengungkap isi hati yang ia simpan selama ini terhadap Naina. Cinta dalam diam, bergaung di sepertiga malam terakhir.


Keduanya terus diam, tak lagi berbincang. Naina menatap ke arah jendela, menormalkan keadaan jantungnya yang tak henti bertalu. Sampai tiba di rumah Asep, dan Naina turun dari mobil. Mereka berpisah untuk malam itu.


Perbincangan yang mereka lakukan, melupakan sosok kecil yang tengah tertidur di kursi belakang. Naja, yang Alfin lupakan kehadirannya.


"Astaghfirullah! Naja!" Alfin berbalik dan bernapas lega saat mendapati bocah itu tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2