
"Bos, ini beneran aku dimutasi ke sini? Tega banget, sih, Bos. Aku udah dari merintis di sana, sekarang malah dipindah ke sini," tanya Yusuf bersungut-sungut.
Alfin dan Naina terkekeh mendengar itu bahkan, Biya mengusap bibir suaminya yang terlihat mengerucut ke depan seperti anak-anak yang meminta mainan.
"Dek!" Yusuf menoleh padanya, dia sedang bersedih sekarang, tapi Biya justru malah menggodanya.
"Abis kamu gemesin, Mas. Di sini itu kamu jadi kepalanya, kalo di sana, 'kan, cuma sekretaris aja. Gimana, sih?" Biya memukul pelan belakang tubuh suaminya. Adik Fatih itu benar-benar merasa gemas terhadap Yusuf.
"Bukan masalah jabatan, Dek, tapi Mas udah dari nol nenemin bos Alfin di toko itu. Rasanya gimana gitu kalo pindah," ucap Yusuf tetap mempertahankan raut sedih di wajahnya.
"Kasihan istri kamu, Suf. Kalo kamu kerja di sana, minimal kamu pulang seminggu sekali. Kalo dia kamu ajak tinggal di sana, di sini dia punya karir. Pikirin baik-baik, semua demi kemaslahatan bersama. Jangan cuma mikirin diri sendiri aja yang nggak bisa jauh dari bos." Alfin mendesah.
"Aku yakin di tangan kamu toko cabang di sini pasti akan berkembang. Aku titip toko di sini, ya." Alfin menepuk-nepuk bahu laki-laki itu, kemudian berpamitan pada yang lain.
Yusuf menatap tak rela, tapi semua yang dikatakan laki-laki itu memang benar adanya. Di Jakarta, Biya memiliki karir yang sukses sebagai seorang designer. Dia tak bisa bersikap egois dengan mengajak Biya untuk tinggal di sana.
__ADS_1
Jadilah, dia menerima keputusan itu dan akan membuktikan kepala Alfin bahwa toko cabang yang sempat berhenti berproduksi itu akan ia bangun kembali.
"Ini Salma? Designer cilik itu?" Seira mengusap dagu Salma, menatapnya lekat-lekat.
"Iya, Bu. Aku Salma," jawab sulung Alfin dengan lembut.
"Nanti mau sekolah di sini, 'kan? Tante Biya bisa bimbing kamu menjadi designer hebat," ucap Seira diangguki Salma sambil tersenyum.
"Aamiin. Makasih, Bu."
Ucapan Seira diaminkan semua orang, harapan agar anak itu menjadi orang sukses di kemudian hari.
Fathya membelalak mendengar ibunya mencari remaja laki-laki itu.
"Wildan!" Naina memanggil, remaja itu melangkah ke depan menyalami kedua orang tua Fathya.
__ADS_1
"Saya Wildan, Bu." Ia berlaku sangat sopan, Seira tersenyum takjub. Ekor matanya melirik Fathya yang mundur secara diam-diam.
"Semoga kamu menjadi anak yang sukses, ya, dan menjadi kebanggaan kedua orang tua kamu." Seira mengusap kepalanya, Wildan mengangguk dan berterimakasih. Mereka juga mengaminkan doa untuk Wildan.
Alfin dan Naina berpamitan, begitu pula dengan keluarga mereka. Rumah besar itu menjadi sepi seketika setelah semalam begitu ramai.
"Sepi lagi," keluh Fatih mendesah berat.
"Iya, nggak ada anak-anak mereka rumah jadi sepi lagi." Seira menimpali.
Biya menjatuhkan kepala di bahu Yusuf, menatap kepergian mobil Alfin yang rombongannya.
"Mas, ayo kita siap-siap!" ajak Biya, menoleh semua orang padanya.
"Ke mana?" Wajah laki-laki itu begitu polos, lupa akan kado dari sang bos.
__ADS_1
"Ih, masa lupa, sih. Bos Alfin udah kasih, lho." Biya menuding wajah suaminya mengingatkan dia pada tiket bulan madu dari Alfin.
"Oh, iya. Mas lupa. Ayo!" Yusuf mengangguk sopan pada kedua kakak iparnya. Masuk ke kamar dan bersiap untuk pergi berbulan madu selama tiga hari. Lumayan. Nggak ada yang ganggu.