
"Kalian udah siap?" Seru seorang laki-laki di sebuah rumah besar.
"Emangnya kita mau ke mana, sih, Pah? Tumben berangkatnya siang. Terus ini juga bukan akhir pekan lagi," tanya seorang pemuda dengan penampilan selayaknya seorang santri.
Laki-laki paruh baya itu tersenyum puas, melihat bangga anak sulungnya yang persis seperti ustadz muda di sebuah masjid.
"Kamu mirip sama ustadz muda yang sering ngobrol sama Papah di sana, Nak. Mudah-mudahan ketularan ilmu ikhlasnya," ucap sang papah sembari memegangi kedua pundak sang putra.
"Ustadz muda siapa? Apa dia setampan Kakak?" celetuk sang adik dengan gaya centilnya.
"Namanya Alfin. Dia tampan dan sholeh, kesehariannya mengurusi anak-anak yatim juga masjid yang akan kita datangi," jawab sang papah sembari membayangkan wajah ustadz muda yang dikenalnya.
"Mmm ... apa dia udah nikah?" sambar suara lain, seorang wanita paruh baya yang selalu terlihat cantik di usia tuanya.
"Kurang tahu, mungkin saja udah. Mustahil nggak ada perempuan yang kepincut sama dia. Ganteng, sholeh pula."
Wanita tersebut mencibirkan bibir mengejek pendapat suaminya.
"Zaman sekarang, ganteng aja nggak cukup, Mas. Yang penting itu duit," katanya sembari memainkan jari telunjuk dan jempol mengumpamakan selembar uang.
Laki-laki itu terkekeh, seraya merangkul bahu sang istri dan mengajaknya untuk pergi.
****
Di masjid, sesuai yang diberitahukan Asep, Adrian datang ke pengajian tersebut sepulangnya dari kantor. Yang pertama dicarinya adalah Alfin,
"Papah! Mang Asep bilang Papah nyariin aku?" tanya Alfin begitu menemukan Adrian di gazebo depan masjid.
"Iya. Sini, Papah ada kabar baik buat kamu. Kalo bicara di sana nggak enak," pinta Adrian melambaikan tangan meminta Alfin untuk duduk di sana.
Laki-laki itu duduk dan menunggu kabar baik apa yang dibawa ayah mertuanya. Ditelaahnya gurat wajah sang mertua, mencoba menebak kabar yang akan didengarnya.
"Kabar baik apa, Pah?" tanya Alfin tak sabar.
"Alhamdulillah, pengacara Papah sudah selesai mengurus semua surat-surat yang kalian perlukan. Nggak perlu lagi datang ke KUA karena semuanya sudah selesai. Kalian sudah menikah secara resmi, diakui syariat dan hukum negara." Adrian menyerahkan dua buah buku nikah yang diterimanya dari sang pengacara.
"Alhamdulillah, ya Allah!" Alfin menerima surat tersebut, bersujud penuh syukur karena mempunyai mertua yang bisa melakukan apa saja. "Makasih, Pah." Alfin memeluknya penuh haru.
Pernikahannya kini telah resmi dan diakui secara syariat juga hukum negara.
"Pulang, Nak. Kasihan Naina. Dia selalu duduk di ruang tengah rumah menunggu kamu, siapa tahu pulang. Begitu katanya," pinta Adrian kepada menantunya. Padahal mereka menikah baru hitungan hari.
__ADS_1
"Insya Allah, Pah. Alfin nanti pulang. Sekarang, kita ke masjid, udah mau mulai," sahut Alfin tersenyum getir membayangkan Naina yang menunggu kedatangannya.
Adrian beringsut turun dan bersama Alfin menuju masjid. Mendengarkan kajian yang berakhir pada diskusi agama bersama orang-orang sholeh yang mumpuni. Ini yang disukai Alfin, setiap jamaah bebas mengutarakan pendapat dan mendapat pencerahan. Pengetahuan baru selalu ia dapat meski seringkali ada perbedaan pendapat.
Itu hal lumrah karena perbedaan adalah rahmat. Baginya, ia bisa menyerap banyak ilmu dari pendapat yang berbeda itu dan berakhir pada sebuah kesepakatan.
"Di mana istri kamu, Fin? Apa dia nggak ikut pengajian?" bisik Bas yang duduk di samping Alfin. Ia mencari sosok luar biasa yang membuka mata hatinya.
"Aku suruh pulang, seharian dia di sini mengurus anak-anak. Kenapa?" Alfin memicing curiga.
Bas terkekeh melihat kecemburuan di kedua mata laki-laki itu. Dia memang iri, tapi bukan berarti ingin merebut Naina darinya.
"Cuma tanya aja, Fin. Biasa aja lihatnya." Bas mengusap wajah Alfin gemas, terkekeh kecil melihat wajah merah sahabatnya yang terbakar cemburu.
Alfin mendengus, kembali mendengarkan suara lantang anak sulung yang menjadi pemandu acara menggantikan dirinya. Ia tersenyum puas dan bangga, benih penerusnya telah tumbuh, menjadi seorang pemberani dan berbakat.
"Ternyata di sini ayahnya. Hebat anak kamu, Fin! Kamu kasih makan apa sampai luwes begitu ngomongnya, padahal di depan banyak orang," sanjung Busyro yang datang bersama kakak iparnya.
"Kak!" Alfin sedikit beranjak, menyalami kedua laki-laki itu.
"Om!" Tiga anak kecil berseru dan berhambur ke pangkuan Alfin. Duduk anteng menggamit sang paman melihat betapa lihai lisan anak kecil di depan sana.
Baru juga reda dari rasa cemburu karena Bas, rasa panas kembali menjalar di hatinya. Bertanya-tanya kenapa sang kakak juga malah menanyakan Naina.
"Dia pulang, kenapa emangnya? Semua nanyain istri aku," ketus Alfin dengan wajah cemberut.
Busyro saling tatap dengan kakak iparnya, bingung dengan sikap Alfin yang ketus.
"Sensitif sekali pengantin baru! Padahal cuma nanya aja, udah kayak kebakar gitu," sindir Busyro sembari terkekeh gemas melihat kecemburuan Alfin.
Bas di sampingnya ikut tertawa, tentu saja. Mereka merasa lucu karena niat mereka hanya sekedar bertanya tak ada maksud lainnya.
Alfin tak banyak bicara, diam dan fokus mendengarkan suara si Sulung. Rasa hati menjadi gelisah, tatkala bayangan Naina yang duduk di kursi menelusup ke dalam relung jiwa. Dapat ia bayangkan gurat kekecewaan di wajahnya.
Alfin beranjak diam-diam, meninggalkan masjid keluar. Berniat untuk pulang setelah berpamitan pada DKM masjid yang merangkap sebagai panitia juga.
"Alfin!" tegur istri Ustadz Hasan tak sengaja melihat laki-laki itu keluar.
"Ustadzah." Alfin menangkupkan kedua tangan di dada dengan sopan.
"Mau ke mana?" tanyanya heran.
__ADS_1
"Saya mau melihat Naina, Ustadzah. Perasaan saya nggak tenang, saya juga nggak tahu kenapa? Padahal sebelumnya biasa-biasa aja," jawab Alfin tak menutupi rasa gelisah yang mencuat ke permukaan wajahnya.
"Astaghfirullah al-'adhiim! Ada apa? Ya udah, mending kamu pulang aja, nanti biar saya yang bilang sama ustadz kalo nanyain," ucapnya ikut merasa gelisah mendengar penuturan Alfin.
"Makasih, Ustadzah. Saya permisi, assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalaam!"
Alfin berbalik hendak pergi, tapi sebuah mobil yang mendekat menghentikan langkahnya. Ia menunggu sampai tamu tersebut keluar. Tersenyum bibirnya menyambut seorang laki-laki paruh baya yang keluar dari sana.
"Assalamualaikum, Ustadz!" seru laki-laki tersebut seraya mengulurkan tangan berjabatan dengan Alfin.
"Wa'alaikumussalaam, Pak. Gimana kabarnya?" tanya Alfin berbasa-basi.
"Alhamdulillah, saya baik. Kali ini saya nggak sendiri, saya bawa keluarga juga, Ustadz," ujar laki-laki itu menunjukkan tiga orang keluarganya pada Alfin.
"Nah, ini dia Ustadz muda yang Papah maksud. Namanya Ustadz Alfin. Beliau ini masih muda, tapi sangat luar biasa," sanjung laki-laki itu membuat Alfin tersenyum canggung.
"Pak Fatih terlalu tinggi menyanjung saya. Padahal, saya cuma seorang fakir ilmu yang masih tertatih mencari pegangan," sahut Alfin malu-malu.
Laki-laki yang tak lain adalah Fatih itu, terkekeh. Yang dia suka dari Alfin adalah sikap rendah hati dan kesederhanaan pemuda itu.
"Yah, begini kalo orang sholeh. Kayak padi, semakin berisi semakin menunduk. Ini istri saya, Seira, yang laki-laki anak sulung kami Rayan, dan adiknya Fathya. Mereka sengaja saya bawa biar ikut kajian di sini," ucap Fatih mengenalkan anggota keluarganya kepada Alfin.
Alfin menyambut dengan ramah, berjabat tangan dengan Rayan. Pemuda itu terlihat seusia dengan Naina. Tampan dan berkarisma seperti ayahnya.
"Silahkan! Pengajiannya baru dimulai," Alfin mempersilahkan mereka masuk.
"Terima kasih, Ustadz." Mereka melewati Alfin, laki-laki itu tersenyum. Fatih adalah salah satu tamu yang ditunggu Ustadz Hasan.
"Kak, bukannya kita mengantar kak Naina ke sini? Aku ingat kita melewati masjid ini," celetuk Fathya samar terdengar di telinga Alfin.
"Kakak nggak inget karena fokus nyetir. Kalo kamu inget kita mampir aja ke rumah paman dan bibinya," sahut Rayan membuat Alfin menolehkan tubuh.
"Insya Allah, aku masih inget, Kak." Fathya tersenyum, berbinar matanya karena dapat bertemu dengan Naina.
Alfin mematung, masih menatap keempat punggung yang kemudian menghilang di antara para jamaah.
"Aku denger mereka nyebut nama Naina tadi. Apa cuma salah denger aja," gumam Alfin dilanda rasa penasaran.
Namun, ia tak acuh, mengira hanya salah mendengar. Ia harus pulang karena hatinya tak tenang.
__ADS_1