
Acara resepsi berlangsung dengan meriah, sayangnya hanya digelar sampai menjelang maghrib saja. Para tamu sudah meninggalkan pesta, menyisakan pekerja Adrian yang membereskan sisa-sisanya. Dibantu para karyawan Alfin, juga pengantin pria sendiri.
"Lho, Bos? Bukannya istirahat, malah ikut beres-beres," celetuk salah satu karyawan ketika melihat Alfin muncul dengan pakaian biasa.
"Yah, masa ada kalian aku kelonan terus sama istri. Nantilah kalo kalian pulang," sahut Alfin membuat cemburu sebagian dari mereka yang jomblo.
"Ya, Bos. Bikin iri."
"Makanya cepet nikah biar nggak bobo sendiri." Alfin terkekeh, memberengut wajah Yusuf.
Sekalinya tertarik sama perempuan, istri bos sendiri. Hati Yusuf bergumam perih.
Sementara di dalam rumah, keluarga Adrian dan Fatih berkumpul. Membahas hal remeh sebagai pengikat tali silaturahmi antara mereka. Papah Naina itu bergegas kembali setelah mendapat kabar bahwa Biya telah ditemukan.
Di sana, Biya duduk secara terpisah, sesekali akan mencuri pandang pada Alfin yang tertawa bersama teman-temannya meskipun tak jelas.
"Sayang. Itu buat siapa?" tanya Adrian ketika Naina keluar dengan membawa minuman di atas nampan.
"Buat mas Alfin sama teman-temannya, Pah. Lagi bantu beres-beres di luar," jawab Naina sambil tersenyum.
Hati Biya mencelos, baru tersadar bahwa ustadz muda itu telah beristri. Ia berpaling dan berpindah tempat duduk, ikut serta dalam obrolan semua orang. Naina berjalan menghampiri tempat suaminya berada, tersenyum melihat keakraban mereka.
"Assalamualaikum! Istirahat dulu, ini minum dulu," ucap Naina menghentikan kegiatan mereka yang tengah merapikan kursi.
"Wa'alaikumussalaam! Bu Bos emang pengertian." Mereka mendekat duduk berkumpul menikmati jus jeruk yang dibuatkan Naina.
Alfin meraih pinggang sang istri, menariknya mendekat. Meski malu, tapi Naina tidak menolak.
"Suf, jangan pulang dulu. Ada yang mau aku bahas sama kamu," ucap Alfin melirik Yusuf yang tengah menyeruput jusnya.
"Soal apa, Bos? Pembukaan udah selesai, tinggal ditandatangan aja," jawab Yusuf sedikit bingung.
"Yah, bukan masalah kerjaan. Aku percaya sama kalian, ini masalah pribadi." Alfin melirik Naina, wanita itu pun tersenyum ketika pandang mereka bertemu.
"Pribadi? Apa, ya? Jangan bikin penasaran, Bos. Jadi deg-degan." Yusuf memegangi dadanya, sedikit berdebar sambil menduga-duga apa yang akan dikatakan Alfin.
__ADS_1
"Jangan grogi, Suf. Mungkin mau dijodohkan sama perempuan, siapa tahu kamu langsung nikah biar cepat nyusul aku sama si Bos." Hamka, bendahara Alfin, menepuk-nepuk punggung Yusuf.
Naina dan Alfin tertawa kecil, tapi tetap merahasiakan kebenaran ucapan Hamka. Beberapa saat berbincang, satu per satu dari mereka berpamitan untuk pulang. Menyisakan Yusuf yang tetap duduk di atas pelaminan. Membayangkan dialah yang menjadi raja suatu saat nanti.
"Assalamualaikum, permisi!" Kedatangan Fatih dan Biya secara tiba-tiba, menyentak lamunan Yusuf.
"Wa'alaikumussalaam! Iya, silahkan!" Pemuda itu berdiri, menyambut uluran tangan Fatih.
Kepalanya mengangguk saat bertatapan dengan manik Biya. Gadis itu terlihat lebih ramah daripada sebelumnya.
"Saya cuma mau mengucapkan terima kasih sama kamu karena sudah membantu adik saya," ucap Fatih sambil tersenyum.
Yusuf menunduk ikut tersenyum, tak mengira jika Biya masih mengingat dirinya.
"Nggak apa-apa, Pak. Sebagai sesama muslim kita harus saling membantu. Tadi mobil Mbaknya mogok di jalan sepi, saya cuma khawatir ada yang berbuat iseng," jawab Yusuf sejujurnya.
"Kamu pemuda yang baik. Zaman sekarang jarang ada yang mau membantu sesama apalagi nggak kenal. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih," ucap Fatih memuji pemuda itu.
Yusuf menggaruk kepalanya, segan menerima pujian tersebut.
Fatih menggelengkan kepala, tertarik pada kesederhanaan pemuda itu.
"Ya sudah. Kenapa duduk di sini sendirian, masuk ke dalam," ajak Fatih tanpa segan.
"Saya nunggu bos saya, Pak. Biarlah di sini aja sambil bayangin kalo saya yang jadi manten." Dia terkekeh sendiri, disambut tawa oleh Fatih dan Biya.
"Bos? Emangnya siapa bos kamu?" Biya bertanya penasaran.
"Eh? Itu, bos Alfin. Dia minta saya supaya nggak ikut pulang sama teman-teman," jawab Yusuf gugup mendengar suara Biya.
"Ustadz Alfin ... bos?" Fatih mengernyitkan dahi, setahu dia Alfin hanyalah seorang marbot di masjid. Ustadz muda yang mengajari anak-anak mengaji bukan seorang bos.
"Iya, Pak. Beliau pemilik tempat saya mengais rezeki. Yah, nggak terkenal, sih, karena selama ini beliau tinggal di masjid. Jadi, nggak ada yang tahu kalo beliau itu seseorang yang besar," jelas Yusuf sembari menggaruk kepalanya.
Fatih sedikit terkejut, sampai-sampai meneguk ludah sendiri mendengar kenyataan tentang Alfin. Begitu pula dengan Biya, rasa kagumnya bertambah pada ustadz muda itu. Namun, ia tak lagi memiliki harapan, karena tak mungkin mempertahankan rasa untuk seseorang yang sudah dimiliki orang lain.
__ADS_1
"Maa syaa Allah! Saya nggak nyangka, yang saya tahu selama ini ustadz Alfin itu pengajar ngaji di masjid. Ternyata ...." Fatih menggeleng-gelengkan kepala takjub. Seorang yang hebat, lebih memilih duduk di dalam masjid.
Adzan Maghrib berkumandang menjeda obrolan mereka. Yusuf pergi ke masjid terdekat, sementara yang lain menunaikan sholat di rumah termasuk Alfin berjamaah dengan sang istri.
****
"Maaf, Ustadz. Di mana pemuda yang ingin Ustadz kenalkan kepada adik saya ini?" tanya Fatih ketika mereka semua berkumpul di ruang tengah kembali.
"Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Boleh nggak jangan panggil saya ustadz, panggil aja Alfin. Sekarang, kita ini, kan, keluarga. Nggak nyaman aja gitu," pinta Alfin dengan bersungguh-sungguh.
"Ah, iya, tapi rasanya segen karena saya udah biasa manggil kamu ustadz," ujar Fatih terdengar bimbang.
"Nanti lama-lama, 'kan, biasa. Insya Allah, Minggu depan kami mau ke Jakarta. Mau ziarah ke makam ibu," ucap Alfin setelah berdiskusi dengan Naina. Sekalian mengajak Naina berlibur dan berbulan madu.
"Alhamdulillah, mampir ke tempat kami kalo gitu," sambut Seira dengan senang hati.
"Iya, Bu. Insya Allah nanti kami mampir." Naina tersenyum melirik suaminya dengan hangat.
Ah, hati Biya mencelos nyeri. Namun, pantaskah? Rasanya tidak.
"Ngomong-ngomong kayaknya kalian udah ketemu sama Yusuf?" Adrian masuk ke dalam obrolan mengingat tadi Biya datang bersama Yusuf.
"Yusuf? Siapa?" Biya mengernyitkan dahi bingung.
"Itu, pemuda yang mau dikenalin sama Tante. Namanya Yusuf," sahut Naina menjelaskan.
Bibir gadis itu membentuk bulatan, teringat pada pemuda yang menolongnya. Terbesit sebuah keinginan untuk mengenal lebih jauh, tapi sayang dia sudah setuju untuk dikenalkan kepada laki-laki lain yang bernama Yusuf.
Hhmm ... aku tadi lupa tanya siapa namanya. Ya Allah, akankah kami bertemu lagi? Aku ingin berterimakasih dan bertanya siapa namanya.
Hati Biya bergumam, doanya diijabah langsung oleh Sang Maha Pemilik Cinta.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalaam! Nah itu Yusuf!"
__ADS_1