Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 42


__ADS_3

Lantunan ayat suci Al-Qur'an menggema di dalam masjid, seorang pemuda duduk bersila bersama gadis kecil yang berbaring di sampingnya. Mendengarkan dengan khusyuk suara merdu sang ayah.


Dalam benaknya ia mengharapkan seorang ibu, sama seperti Alfin. Meski statusnya hanya ibu asuh. Dipandanginya wajah pemuda itu, pemuda tampan yang rela menghabiskan waktu mudanya untuk mengurus anak-anak malang seperti mereka.


"Shadaqallaahul-'adhiim." Alfin menutup kitab sucinya, mencium dan meletakkannya di tempat semula dengan penuh penghormatan.


Ia mengusap wajah sebelum melirik putri bungsunya. Dahi Alfin mengernyit kala ia melihat anak itu tengah terpejam sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Halwa? Kenapa senyum-senyum sendiri?" tegur Alfin sembari mencolek pipinya yang sedikit gembil.


Gadis kecil itu membuka mata, tersenyum lebih lebar. Ia beranjak duduk dan menatap Alfin dengan mata yang berbinar.


"Ayah, kapan Ayah bawa ibu buat Halwa?" tanya gadis kecil itu sembari menampakkan deretan gigi susunya.


Alfin berjengit, senyuman yang ia tahan membuat bibirnya berkedut-kedut.


"Ibu? Halwa mau ibu?" tanya Alfin merubah posisi duduknya menjadi lebih dekat.


Gadis kecil itu menganggukkan kepala dengan yakin, tatapan matanya penuh dengan kejujuran. Senyumnya menebarkan harapan. Dia merindukan sosok yang bernama ibu.


"Teman-teman Halwa setiap hari diantar dan ditunggu sama ibu mereka." Ia tidak terlihat sedih, melainkan tersenyum mungkin sedang membayangkan seorang wanita berhijab menunggunya di sekolah.


Alfin tersenyum, mengusap kepalanya yang tertutup dengan hijab.


"Halwa mau ketemu sama ibu?" tanya Alfin disambut wajah berbinar gadis kecil itu.


"Mau!" pekiknya senang.


"Tapi ibu Halwa sekarang nggak bisa antar Halwa ke sekolah karena harus kerja. Nggak apa-apa?" beritahu Alfin.


Ia tak ingin menghilangkan harapan yang tumbuh di hatinya.


"Nggak apa-apa. Yang penting Halwa punya ibu," katanya yakin.


Alfin terkekeh, kemudian beranjak sambil mengajak Halwa untuk pergi. Bergandengan tangan menyebrangi jalan menuju toko di mana Naina bekerja.


"Selamat datang ...." Selalu begitu.


Setiap Alfin membuka pintu, selalu membuat lidah Naina kelu dan tak dapat menyambutnya.


"Nah, itu Ibu. Kamu lihat, 'kan, Ibu lagi kerja. Jadi, nggak bisa antar kamu sekolah," ujar Alfin menunjuk Naina yang sedang berdiri di balik meja kasir.


"Ibu!" panggil Halwa sambil tersenyum. Kedua pipinya merona, senang karena tahu dia juga punya ibu sama seperti anak lainnya.


Naina membuka mulutnya lebar, memandang Alfin penuh tanya, bingung apa yang harus dilakukannya? Alfin menganggukkan kepala, meminta Naina untuk menyambut panggilannya.

__ADS_1


Gadis itu memanjangkan leher, memeriksa keadaan pelanggan di toko. Merasa tak ada pelanggan, ia keluar dari meja kasir menghampiri Halwa.


"Hai, anak manis? Siapa nama kamu?" tanya Naina berjongkok di depan Halwa.


"Halwa, Ibu. Panggil aja Halwa. Itu Ayah yang kasih nama," jawab Halwa menggemaskan.


Naina melirik Alfin, laki-laki itu berpaling dengan wajah tersipu malu. Pandangannya kembali pada sang gadis kecil, mengusap kedua bahu Halwa dan menariknya ke dalam pelukan.


"Ayo, Ibu belikan jajan," ajak Naina seraya membawa Halwa pada rak yang berisi aneka makanan ringan.


Gadis kecil itu menoleh kepada sang ayah, matanya berkedip senang. Alfin berbalik membawa hatinya yang berbunga-bunga. Duduk di kursi depan toko, menunggu Halwa selesai berbelanja.


"Ibu, Halwa mau susu," ucap gadis kecil itu menunjuk rak yang berisi deretan susu beraneka macam merk.


"Mau yang mana?" Naina memilihkan untuknya, membelikannya sesuai dengan keinginan Halwa.


"Ayo, kita bayar dulu." Mereka kembali ke kasir, membayar tagihan dengan mengunakan uang Naina sendiri.


"Di mana ...?" Naina celingukan mencari Alfin.


"Ayah?"


Dengan ragu kepalanya mengangguk, tersipu Naina karena secara tidak langsung mereka seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia.


Ia tersenyum, hatinya dipenuhi taburan bunga bahkan rasanya ada banyak kupu-kupu yang menggelitik perut membuatnya ingin berjingkrak.


"Ayo, kita datangi Ayah kamu," ajaknya sambil menggandeng tangan Halwa keluar dari toko.


"Ayah!" Halwa menjatuhkan diri di pangkuan Alfin. Mereka memang terlihat seperti ayah dan anak.


"Udah selesai?" Alfin mengusap kepala anak itu.


"Udah. Ibu belikan buat semua kakak juga," ucapnya menunjuk kantong plastik besar yang dipegang Naina.


Gadis itu menunduk, darahnya berdesir setiap kali Halwa memanggilnya ibu. Ia mendekat, dan meletakkan belanjaan itu di kursi kosong samping Alfin.


"Kalo gitu, aku pergi kerja lagi," ucap Naina menunjuk ke dalam toko.


"Iya, Ibu. Hati-hati!" sahut gadis kecil itu sambil melambaikan tangan.


Naina tersenyum, berbalik sambil menghela napas panjang mengurai sesak yang sejak tadi ditahannya.


"Udah ketemu sama ibu, 'kan?" tanya Alfin sambil mengusap kepala anak itu lagi.


"Udah, ibu cantik, ya. Aku juga mau kayak Ibu nanti kalo udah gede," celetuknya penuh harap.

__ADS_1


"Iya, sekarang kita pulang. Sebentar lagi Kakak-kakak juga pulang sekolah," ajak Alfin yang disambut anggukan kepala oleh gadis kecil itu.


Keduanya beranjak, berdiri di pinggir jalan menunggu kendaraan melintas untuk menyebrang. Alis Alfin bertaut ketika melihat mobil sang ayah memasuki area masjid.


Tersenyum bibirnya, itu adalah kunjungan pertama mereka ke masjid Alfin setelah lima tahun lebih berdiri.


"Ada kakek sama nenek datang. Ayo, kita temui mereka," ucap Alfin seraya membawa tubuh kecil Halwa ke dalam gendongan. Mereka menyeberang, di bawah tatapan Naina yang tersenyum.


Gadis itu menggelengkan kepala, semakin mengagumi sosok Alfin yang sangat menyayangi anak-anaknya. Dia laki-laki yang baik, yang patut diperjuangkan.


Dalam ketidaktahuan Naina, sepasang mata mengintip tak senang. Ia memukul dinding meluapkan kecemburuan yang meluap.


"Kurang ajar! Aku yang mengejar-ngejar Naina, tapi pemuda itu yang dapetin. Sial! Anakku juga butuh ibu, dan aku mau Naina yang menjadi ibunya," geram Anton menatap tajam gadis yang berada di balik meja kasir itu.


Ia berbalik dan kembali masuk ke dalam ruangan, menumpahkan kekesalan pada sederet benda yang terpajang di atas meja. Naina dan yang lainnya tersentak ketika suara benda terjatuh menyentak telinga mereka.


Naina mengusap dadanya, hal tersebut tak lagi asing di telinga mereka. Akhir-akhir ini Anton memang lebih sering marah, bahkan hal sepele pun dia tidak bisa menerimanya.


Di masjid, Ahmad dan Aminah berdiri di halaman. Menatap takjub pada bangunan besar yang didirikan anak bungsu mereka sendiri. Berselang, seorang laki-laki yang mengenakan sorban hijau di bahu kiri keluar untuk menyambut mereka.


"Assalamu'alaikum, Pak Ustadz!" sapa ayah Alfin seraya menyalami Ustadz Hasan.


"Wa'alaikumussalaam. Alhamdulillah, cari siapa?" tanya Ustadz Hasan dengan ramah.


"Kami orang tua Alfin, Ustadz. Mau menjenguk anak-anak di sini. Maaf karena baru sempat datang," ucap Ahmad dengan segan.


Meski usianya lebih tua dari Ustadz Hasan, tapi ia tetap menghormatinya sebagai pengasuh sang anak. Guru spiritual yang membimbing Alfin hingga menjadi seperti sekarang ini.


"Oh, maa syaa Allah! Mari, mari, nggak apa-apa. Alfin lagi di seberang, ajak anak bungsunya jajan," ujar sang ustadz sembari menuntun kedua paruh baya itu ke sebuah pendopo.


Ia juga menyiapkan minum untuk mereka, yang selalu tersedia di sana. Duduk berhadapan menunggu Alfin datang.


"Assalamu'alaikum!"


Ahmad dan Aminah menoleh ke belakang tubuh saat mendengar suara anak mereka.


"Wa'alaikumussalaam!" Aminah tersenyum menyambut uluran tangan anaknya.


"Abi, Umi. Alhamdulillah akhirnya sampe juga ke sini," ucap Alfin seraya menaiki pendopo bersama Halwa.


"Nah, Halwa. Ini Kakek sama Nenek. Ayo, salim!" titah Alfin yang segera dilaksanakan gadis kecil itu.


Aminah mencium kedua pipi bungsu Alfin itu, anak-anak asuh Alfin adalah cucunya juga. Begitu pula dengan Ahmad, tak segan mengecup ubun-ubun Halwa. Ia kembali duduk di pangkuan sang ayah sembari memberikan kotak susu yang ingin diminumnya.


Melihat bagaimana Alfin memperlakukan anak asuhnya, hati Aminah begitu bangga.

__ADS_1


__ADS_2