Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 159


__ADS_3

Kemesraan mereka tertangkap satu pasang mata yang tak sengaja melihat. Sosoknya diam di tempat, mematung tak bergerak. Memandang penuh penyesalan.


Kamu kelihatannya bahagia sekarang.


Hatinya bergumam perih, bergeming dibalik sebuah pohon kelapa menyaksikan kemesraan mereka.


Alfin mengajak istrinya untuk beranjak, bergandengan tangan menyusuri pantai. Sambil bercerita dan berkisah mengenai apa saja.


"Kalo kamu gimana? Kamu pasti punya pacar, 'kan? Secara tinggal di kota besar," tanya Alfin mengulik masa lalu Naina.


Wanita di sampingnya menoleh, menilik wajah sang suami heran.


"Bukannya aku udah cerita? Aku pernah hampir menikah dua kali, tapi dua-duanya nggak bisa nerima aku. Orang tua mereka memandang rendah aku dan menganggapku gadis pembawa sial, anak haram, nggak pantes buat anak mereka. Aku-"


"Cukup!" Alfin mendekap tubuh Naina, tak ingin mendengar kelanjutan kisah menyedihkan itu.


Naina mendongak sambil ikut melingkarkan tangan di tubuh suaminya. Memandang mesra sosok laki-laki yang telah menerima masa lalunya. Secepat kilat Alfin menyambar bibir itu, menggigitnya gemas, kemudian mengeratkan dekapan.


"Nggak usah cerita lagi. Mas nggak bisa dengernya," lirih Alfin berbisik di telinga Naina. Wanita itu mengangguk, dia pun ingin mengubur dalam-dalam kisah kelamnya.


"Mau gendong?" tawar Alfin sambil menggoda.


"Emang kuat?" Naina berseloroh tak percaya.


Alfin memunggungi, sedikit membungkuk meminta Naina untuk naik ke atas punggung. Malu-malu, wanita itu melilau ke segala arah sebelum naik ke punggung suaminya.


"Berat nggak, Mas?" Naina melingkarkan tangan di leher Alfin, mencium pipi laki-laki itu berulangkali.


"Nggaklah. Apanya yang berat, badan kurus begini," ejek Alfin disambut tawa oleh Naina.

__ADS_1


Pemilik sepasang mata itu berair, dia benar-benar menyesal. Langkahnya berayun menghampiri mereka. Entah apa yang akan dia lakukan, tapi Naina sama sekali tidak memperhatikan. Dia hanya fokus pada laki-laki yang menggendongnya. Kemesraan yang ditunjukkan mereka mengundang rasa iri di hati semua pengunjung.


Mereka datang berpasang-pasangan, tapi tak seintens keduanya. Tak segan bermesraan, bahkan sesekali sang wanita mencium pipi laki-laki yang menggendongnya. Oh, mungkin pasangan baru menikah dan mereka terlihat saling mencintai satu sama lain.


"Naina!" Sebuah panggilan yang datang dari hadapan menghentikan langkah Alfin juga tingkah manja Naina.


Alfin mengernyit, sedangkan Naina tertegun melihat sosok laki-laki di hadapan mereka. Ia menatapnya tajam, penuh dengan kebencian.


"Siapa?" tanya Alfin tanpa menurunkan tubuh Naina.


Laki-laki itu beralih pandangan padanya, entah seperti apa mengartikan tatapan mata itu. Yang pasti Alfin tak senang kehadirannya amat mengganggu kebahagiaan mereka. Lihat saja, tubuh Naina terasa menegang, bahkan senyum manis di bibirnya hilang.


"Maaf, kalo aku mengganggu-"


"Sangat! Sangat mengganggu. Kalo nggak ada urusan penting, sebaiknya memang jangan mengganggu," sarkas Alfin tanpa berbasa-basi.


Ia menduga mungkin laki-laki itu adalah salah satu dari dua orang yang merendahkan Naina dulu. Alfin tak senang, terlebih kedatangannya sudah pasti akan menguak luka masa lalu Naina.


Luka yang sudah tertutup berkat Alfin, kini terbuka kembali karena kehadiran sosoknya. Naina tak ingin berlama-lama di sana, terlalu muak melihat wajah bengis itu. Wajah yang dulu memandangnya rendah, wajah yang dulu menghinanya.


Alfin menuruti keinginan sang istri, tatapan matanya menajam tatkala melintasi laki-laki itu. Dengan Naina yang masih berada di atas punggung, mereka pergi tanpa sepatah kata pun.


"Naina! Tunggu, Naina!" Dia mengejar dan menjagal langkah Alfin.


"Ada apa? Ada urusan dengan istriku? Bilang saja padaku!" ketus Alfin. Dia amat membenci laki-laki pengecut sepertinya meskipun dia pernah melakukan hal tersebut.


"Istri?" Dia tercengang mendengar Alfin mengatakan istri.


"Ya. Apa urusanmu? Kalo nggak penting nggak usah menghalangi jalan," ucap Alfin.

__ADS_1


Laki-laki itu menunduk, hilang beberapa bulan ternyata Naina sudah menikah. Dia mengangkat wajah, memandangi Naina yang sama sekali tak mengangkat pandangan.


"Naina. Kamu tahu setelah kejadian itu aku terus cari kamu, tapi kamu nggak ada. Aku mau minta maaf sama kamu, Naina. Maafkan semua yang terjadi, ucapan ibuku yang nyakitin kamu, nyakitin ibu kamu. Aku minta maaf," ungkap laki-laki itu dengan sedih.


Mendengar itu, bayangan Lita yang sekarat kembali melintas. Tahun yang dipenuhi penderitaan kembali terkuak, ditinggalkan seorang diri oleh sandaran hidup untuk selamanya. Siapa yang tak sakit?


"Mas, aku nggak mau di sini." Suara parau Naina dan sedikit tercekat di tenggorokan membuat Alfin dapat merasakan sakitnya.


"Istriku sudah memaafkan kamu, tolong jangan kejar kami lagi! Melihat kamu hanya mengorek luka di masa lalunya. Aku nggak mau kehilangan senyumnya, aku nggak mau kehilangan bahagianya cuma karena melihat kamu," tandas Alfin seraya melanjutkan langkah meninggalkan laki-laki itu.


Getaran tubuh Naina yang tengah menangis, mengguncang relung jiwanya. Alfin tak ingin ada tangis kesedihan dalam kehidupan wanita itu lagi.


"Naina!" Laki-laki itu memanggil lirih, tapi tak berani lagi mengejar. Hanya menatap punggung keduanya yang terus menjauh.


"Aku cuma mau kamu maafin ibu aku, Nai. Dia struk dan ditinggalkan papahku, tapi laki-laki itu benar kamu sudah bahagia sekarang." Lisannya bergumam perih, mengusap air yang jatuh dari pelupuk tanpa komando.


Terbayang betapa dulu dia dan ibunya teramat angkuh. Seolah-olah kehidupan hanya milik mereka. Segala cacian, hinaan, makian, dan semua perkataan buruk yang terlontar mulus dari mulut mereka, menjadi sebuah hantaman berduri dalam hatinya.


Melihat senyum Naina, menyaksikan kebahagiaannya secara langsung karena laki-laki yang bersamanya, dia benar-benar menyesal. Juga menyadari Naina memang pantas diperlukan seperti itu. Laki-laki itu berbalik, melanjutkan pekerjaannya sebagai penjaga pantai.


Alfin menurunkan sang istri dan mendudukkannya di atas sebuah batu. Disapunya air mata Naina yang masih menetes di pipi. Dikecupnya kedua mata itu, dahi, kemudian bibir. Ia berjongkok sambil menggenggam kedua tangan wanita itu.


"Mas tahu hati kamu sakit, Humairah. Mas tahu laki-laki itulah yang dulu merendahkan kamu. Melihat kamu menangis dengan wajah penuh luka, hati Mas sakit. Sakit sekali, tapi cobalah untuk mengikhlaskan semuanya supaya luka itu benar-benar pergi. Ada Mas, yang akan selalu menggenggam tangan kamu, mencintai kamu, melindungi kamu dari kekejaman lisan manusia. Mas nggak akan pernah membiarkan mereka merendahkan kamu lagi. Nggak akan pernah," ungkap Alfin bersungguh-sungguh.


Naina yang menunduk, mengangkat pandangan menatap kedua manik Alfin. Senyum tulus laki-laki itu menghangatkan hatinya, ucapannya mendamaikan jiwa Naina yang perih penuh luka.


Perlahan senyum terbentuk di bibir manis itu, anggukan kepalanya menyusul kemudian. Benar, sudah ada Alfin yang sejak awal pertemuan menerima asal-usulnya. Hanya Alfin laki-laki yang tak pernah merendahkan kelahirannya.


Alfin beranjak, mendekap sang istri.

__ADS_1


"Maaf, karena dulu Mas juga sempat ragu sama kamu. Maafin Mas, sayang." Alfin mencium ubun-ubun Naina penuh cinta, menyesali sikapnya yang dulu pernah meragukan Naina. Beruntung, dia tidak pergi dan meninggalkannya.


Memendam luka hanya akan mengundang sebuah kesengsaraan, dan mengikhlaskannya akan mendatangkan kebahagiaan.


__ADS_2