Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 51


__ADS_3

Pagi hari seusai mengantar anak-anak sekolah, Alfin duduk di serambi masjid membaca kitab bersama sang ustadz. Dilanjutkan dengan berbincang ringan membahas perkembangan semua anak-anak di yayasan tersebut.


"Kamu mau bangun rumah di belakang asrama mereka?" tanya Ustadz Hasan setelah mendengar keinginan Alfin membangun rumah di dekat semua anaknya.


"Yah, begitu rencananya, Ustadz. Ada tanah kosong di sana, rumah sederhana aja. Nggak harus besar, yang penting nyaman untuk ditempati," jawab Alfin mengingat lahan yang sedikit itu saat ini dibiarkan kosong begitu saja.


"Yah, itu terserah kamu. Tanah di sini, 'kan, semuanya punya kamu. Kamu yang beli, walaupun sebagian sudah menjadi tanah wakaf. Saya sangat setuju kalo setelah menikah nanti kamu dan istri kamu tinggal di sini," ucap pak ustadz merasa tenang jika Alfin membangun keluarga di antara semua anak-anak itu.


"Yah, insya Allah. Rencananya sudah menikah nanti saya mau tinggal di sini biar bisa terus mengurus mereka. Rasanya saya nggak bisa ninggalin mereka, saya udah terlanjur sayang sama mereka. Mereka tetap akan jadi anak-anak saya sampai kapanpun," ujar Alfin sambil tersenyum membayangkan dia dan Naina bersama-sama mengurus mereka.


Ustadz Hasan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia sudah melihat sendiri ketulusan Alfin dalam mengurus semua anak-anak itu. Jika meminta orang lain, belum tentu mampu mengurus semua kebutuhan mereka.


"Kamu yakin mau menikahi gadis itu?" tanya Ustadz Hasan memastikan kesiapan Alfin untuk menikahi Naina.


Alfin menghela napas, mengangguk-anggukkan kepalanya yakin dengan keputusannya untuk menikahi Naina.


"Insya Allah, Ustadz. Saya sudah yakin menikahi dia. Dalam setiap petunjuk yang saya dapatkan setelah istikharah, saya merasa semakin didekatkan sama dia, Ustadz. Dalam mimpi pun dia menjelma seperti bidadari yang memiliki kesuburan. Saya hanya berharap doa dari Ustadz semoga semuanya berjalan lancar tanpa hambatan," ucap Alfin dengan yakin.


Dia memilih Naina bukan semata-mata karena dorongan hawa nafsu ingin menikahinya. Melainkan atas petunjuk Sang Kuasa setelah tirakatnya di sepertiga malam terakhir yang sering dia lakukan.


Ustadz Hasan tersenyum, melihat kesungguhan di kedua mata pemuda itu, dia berharap semesta memberikan restunya.


"Hambatan itu pasti ada, Nak. Nggak mungkin nggak ada. Cuma tinggal kitanya saja yang harus pandai-pandai menghadapi setiap hambatan yang datang. Menikah itu sekali, tapi untuk sepanjang hidup. Jika sudah memasuki bahtera, sebesar apapun ombaknya jangan pernah melompat dari kapal. Apa kamu ngerti maksud saya?" ujar pak ustadz menasihati Alfin mengingat pernikahannya dengan Naina hanya tinggal menghitung hari.

__ADS_1


Alfin mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Dia faham maksud dari ucapan gurunya itu dan akan terus mengingatnya sampai kapanpun. Sebagai perhatian, juga alarm peringatan bila sewaktu-waktu dia lupa dan salah memilih jalan, ataupun berada dalam kebingungan mencari putusan saat dihadapkan suatu masalah.


Di tengah perbincangan itu, sebuah mobil menepi di halaman masjid. Mobil yang tak asing di mata Alfin. Ia tersenyum, seraya berbalik menunggu si pengemudi turun dari benda tersebut.


Khadijah membuka pintu mobil, keluar sambil menenteng kantong plastik besar berisi aneka makanan untuk anak-anak Alfin.


"Assalamu'alaikum!" ucapnya dengan sopan.


"Wa'alaikumussalaam. Kak, repot banget," ujar Alfin seraya menuruni teras masjid dan menyambut sang kakak. Ia menyalami Khadijah seraya mengambil alih kantong plastik itu.


"Isinya apa, sih? Kok, berat banget," tanya Alfin saat mengangkat kantung plastik tersebut.


Khadijah tersenyum, menghampiri Ustadz Hasan untuk menyapanya. Ia duduk bersama Alfin di serambi masjid menggantikan posisi sang ustadz yang berpamitan setelah kedatangannya.


"Itu susu kotak buat anak-anak kamu. Kakak cuma khawatir mereka kekurangan gizi karena adik Kakak ini, 'kan, nggak kerja," sindir Khadijah sembari melirik Alfin yang mencibirkan bibirnya.


"Kok, Kakak tahu semua kesukaan anak-anak?" selidik Alfin curiga.


Khadijah mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Sebuah kertas kecil, struk belanjaan Alfin. Pemuda itu manggut-manggut mengerti. Pantas semua yang dibeli Khadijah sama persis seperti yang selalu dia beli.


"Kamu setiap belanja habis segini, Dek? Dari mana uangnya?" selidik Khadijah melihat nominal yang tidak sedikit dikeluarkan Alfin setiap kali berbelanja.


Alfin tersenyum, dia belum memberitahu keluarga perih bisnis besar yang dijalankannya. Mengira Khadijah belum mengetahui itu, dia terus bermain rahasia.

__ADS_1


"Dari Allah, Kak. Dari siapa lagi? Kata Kakak aku, 'kan, nggak kerja. Orang-orang juga bilang aku keenakan, hidup cuma ngandelin pemberian orang. Yah, namanya manusia mereka cuma menilai apa yang dilihat mata mereka. Bukan begitu, Kak?" ucap Alfin tetap tersenyum tenang.


Tak jarang para tetangga mencibirnya, bahkan omongan-omongan tak sedap pun kerap ia terima.


"Oya? Siapa yang bilang begitu?" Khadijah memekik, ada rasa tak percaya orang-orang sampai mengejek adiknya seperti itu.


"Iya. Ada-lah, Kak. Katanya, tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah. Bekerja itu mulia walaupun cuma serabutan, daripada terus duduk sambil nunggu orang-orang yang ngasih sedekah. Menurut Kakak gimana? Apa aku harus kerja serabutan? Kuli bangunan? Atau menanam padi di ladang orang? Supaya mereka nggak mengatai aku kayak gitu lagi." Alfin menatap wajah sang kakak, wanita yang selalu pandai memainkan kata.


Namun, meskipun begitu, dia tak pernah mempermainkan perasaan seseorang. Apalagi bersilat lidah untuk membohongi semua orang. Dia perempuan paling berani mengakui kesalahan saat melakukannya.


Mendengar itu, Khadijah tertawa. Membayangkan Alfin harus bekerja keras seharian penuh pada orang lain. Sementara dia sendiri adalah seorang bos di toko matrial terbesar di kota tersebut. Jika saja mereka tahu, mungkin mereka akan menjilat ludah sendiri.


"Namanya manusia. Selalu ingin menilai seseorang. Kita begini, diomongin. Kita begitu, masih diomongin juga. Sekarang mereka bilang bekerja lebih mulia walau serabutan. Nanti kalo kamu udah kerja jadi kuli bangunan, mereka juga akan bilang. Wah, marbot masjid ganti profesi. Udah bosen jagain masjid? Nah, kalo nggak percaya sama Kakak, coba aja." Khadijah tersenyum menantang Alfin.


Pemuda terkekeh melihat ekspresi wajah sang kakak.


"Omongan orang itu nggak akan ketampung meskipun di rumah kita punya tempat penampungan sebesar lapangan. Nggak usah didengerin, orang-orang yang ingin bersedekah harus ada tangan yang menerima. Tangan orang-orang jujur, tangan yang lemah lembut, tangan yang lebih baik mengepal daripada harus memakan rezeki mereka. Lanjutkan!" pungkas Khadijah diakhiri tepukan tangannya di pundak Alfin.


Pemuda itu terkekeh lagi, menggelengkan kepala takjub pada lisan sang kakak yang begitu pandai menyusun kata. Alfin tidak berniat meninggalkan masjid meski cemoohan kerap ia dapatkan. Tak masalah baginya karena hanya di sana dia mendapatkan ketenangan lahir dan batin.


"Kakak denger, Nai udah nggak kerja lagi di sana, ya?" tanya Khadijah menunjuk ujung jalan di mana toko tempat Naina bekerja.


Alfin menganggukkan kepalanya, bersyukur dalam hati dengan keputusan Naina yang berhenti bekerja.

__ADS_1


"Kalo dia kerja lagi gimana?"


Kedua mata Alfin membelalak.


__ADS_2