Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 132


__ADS_3

Ugh!


Naina melenguh, seraya meringis saat membuka mata. Seluruh tubuhnya remuk redam karena harus melayani Alfin di setiap malam. Sudah hampir satu Minggu ini Alfin tak pernah absen meminta jatah ranjangnya.


"Pegel banget." Ia membentang kedua tangan, melenturkan otot-otot yang terasa kaku. Melirik jam ... melotot lebar karena subuh sudah terlewati.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Kenapa mas Alfin nggak bangunin aku?" pekiknya panik.


"Aw!" Merintih merasakan pegal mendera kedua kakinya saat hendak beranjak. Naina menghela napas, mengatur tubuhnya untuk dapat diajak bergerak.


"Sayang?" Alfin berlari sesaat setelah ia membuka pintu kamar. Penampilannya dengan pakaian sholat menandakan kepulangannya dari masjid.


"Ya Allah! Sini, aku bantu!" Alfin membantu membungkus tubuh Naina menggunakan selimut, menggendong dan membawanya ke kamar mandi.


Wanita itu hanya diam dan mengalungkan kedua tangan di leher suaminya. Tak dinyana, air hangat telah tersedia untuknya mandi. Alfin menurunkan Naina di dekat bathtub, ia menggaruk kepala salah tingkah.


"Mmm ... maaf, ya. Karena kelakuan Mas, kamu jadi susah kayak gini," ucap Alfin bersemu malu.


"Mas keluar dulu, aku mau mandi. Masa mau ditungguin." Naina mendorong tubuh Alfin yang justru mematung di tempat.

__ADS_1


Alfin bergeming, menatap dalam manik sang istri. Menangkup wajahnya dengan kedua tangan, mengecup seluruh bagiannya. Lalu, berbalik tanpa berkata-kata meninggalkan Naina di kamar mandi.


Disiapkannya pakaian karena hari itu Alfin ingin mengajaknya bertemu Khadijah untuk mencoba pakaian yang akan mereka kenakan saat resepsi nanti. Ia merebahkan diri, membayangkan malam-malam panas yang mereka melewati tanpa gangguan berarti.


"Rasanya makin cinta aja sama kamu, Nai." Ia bergulir memeluk bantal guling, mendekapnya erat. Menciumi seolah-olah itu adalah Naina.


"Mas? Kenapa, ih, cium-cium guling?" tegur Naina tersenyum geli melihat aksi Alfin mencium bantal guling.


Laki-laki itu terkekeh, berbalik dan tersenyum cerah. "Mas nggak tahu, tadi guling ini kelihatannya kamu," katanya terkekeh geli.


Naina menggelengkan kepala, berjalan menuju sudut kamar dan menggelar sajadah. Menunaikan ibadah dua raka'at sendirian. Alfin beranjak duduk, memandangi punggung sang istri yang begitu khusyuk menunaikan sholat.


"Mas kenapa nggak bangunin aku? Jadi, kesiangan gini, 'kan?" tanya Naina sedih.


Alfin mengusap pipi sang istri, menarik tubuhnya ke dalam dekapan. Ciuman bertubi-tubi dilayangkannya pada ubun-ubun Naina. Gemas dan benar-benar menumpahkan segala rasa yang membuncah.


"Mas udah bangunin, tapi kamu lelap banget. Kayaknya capek banget, ya. Jadi, nggak tega banguninnya." Alfin mengeratkan dekapan dikala kedua tangan Naina ikut melingkar di pinggangnya.


Tersenyum bibir wanita itu, merasa menjadi wanita paling beruntung dan paling dicintai suaminya. Rasa hangat dan nyaman, membuatnya merasa aman dan terlindungi.

__ADS_1


"Pegel, ya? Mas pijitin, ya." Alfin melepas dekapan, menarik kedua kaki Naina yang menjuntai di lantai, menumpuknya di atas kaki sendiri.


"Nggak usah, Mas. Nggak apa-apa, kok." Naina hendak menarik kembali kakinya, tapi tangan Alfin dengan cekatan menahannya.


"Nggak apa-apa. Ini juga karena Mas, 'kan. Pijit sebentar, biar nanti nggak pegel lagi," ucap Alfin seraya memberikan pijatan-pijatan lembut di kedua kaki Naina.


Terenyuh ia melihatnya, memandangi sang suami dengan senyuman. Senyum penuh cinta dan ketulusan.


"Hari ini nggak usah bantuin masak dulu. Biar bibi aja, nanti Mas tambahin uang bulanan mereka," pinta Alfin sembari terus menekan-nekan betis Naina dengan lembut.


Ia mengangguk tatkala mereka saling menjatuhkan pandangan satu sama lain.


"Mas nggak apa-apa mijitin kaki aku kayak gini? Nggak keberatan? Harusnya aku yang mijitin kaki Mas," tutur Naina sedikit merasa berdosa.


Alfin terkekeh, tangannya tak henti melakukan apa yang ingin dia lakukan.


"Kenapa harus keberatan? Menjaga kamu agar tetap sehat dan bugar adalah tugas Mas. Karena Mas butuh pelayanan kamu, dan semua ini juga karena kelakuan Mas sendiri. Kamu udah bekerja keras setiap malam menyenangkan hati Mas. Sekarang, biarkan Mas bertanggungjawab." Tatapan Alfin begitu lembut menyentuh manik Naina.


Terenyuh hatinya, tersenyum bibirnya, bahagia perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2