Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 107


__ADS_3

Selepas ashar, masjid disibukkan oleh berbagai macam persiapan menjelang pengajian rutin malam hari. Ada istri Ustadz Hasan beserta anaknya, yang mengatur kaum wanita untuk menyiapkan hidangan yang akan dibagikan kepada para tamu.


Menurut Alfin, jamaah yang datang tak hanya dari penduduk setempat, tapi juga dari luar daerah yang rutin menjalani pengajian akbar yang diselenggarakan masjid tersebut setiap tiga bulan sekali.


"Maaf, ya, pengantin baru jadi ikut sibuk begini. Ya ... emang begini kalo ada pengajian akbar, semua ikut sibuk," celetuk istri Ustadz Hasan yang tak kalah ramah seperti Khadijah.


"Nggak apa-apa, Ustadzah. Saya senang bisa bantu-bantu di sini. Jadi tahu kegiatan apa aja yang rutin diadakan di masjid," sahut Naina tidak keberatan sama sekali.


"Oh, ini istri Ustadz Alfin, ya? Ternyata masih muda, dan cantik." Ibu-ibu menimpali memuji Naina.


"Iya, mudah-mudahan rumahnya cepat jadi. Biar Bu Ustadzah cepat pindah ke sini."


Naina meneguk ludah ketika panggilan ustadzah disematkan ibu-ibu tersebut kepadanya. Ia tersenyum canggung, berat hati menerima panggilan tersebut.


"Maaf, Ibu-ibu. Panggil Naina saja, nggak usah pake ustadzah. Saya ini faqir ilmu, hati berat nerima panggilan itu," tutur Naina menyampaikan isi hatinya.


"Apa nggak apa-apa kita panggil nama aja? Rasanya, kok, nggak sopan. Anak-anak kita diajar ngaji oleh ustadz Alfin, tapi pake nama aja manggil istrinya." Mereka saling mengangguk setuju.


Naina meringis, terlalu malu untuk menyandang status sebagai ustadzah yang terkenal akan ilmu agamanya yang mumpuni. Sementara ia, masih merangkak seperti bayi, tertatih-tatih dalam melangkah, meraba selayaknya orang buta.


"Nggak apa-apa, kok. Saya malah seneng kalo Ibu-ibu panggil saya pake nama aja, bukan ustadzah," jawab Naina dengan sikapnya yang sopan lagi ramah.


"Ya udah kalo gitu." Mereka tersenyum, bersama-sama membuat aneka makanan di dapur masjid.


Istri Ustadz Hasan banyak bercerita tentang Alfin dan anak-anaknya. Bagaimana perjuangan pemuda itu dalam meramaikan masjid tersebut. Mengajak anak-anak untuk mengaji dan mengkaji kitab bersama sang ustadz hingga tak sedikit yang datang dari desa lain untuk mengaji di masjid tersebut.


"Yaa Habiibati qalbii, yaa Humairah!"


Suara teriakan itu membuat kaum hawa menghentikan aktivitas memasak mereka sejenak. Teriakan lantang yang digaungkan oleh seorang pemuda, membuat hati penasaran ingin melihat. Termasuk Naina di sana, tertegun mengenali suaranya.


"Alfin?" Ia bergumam lirih, menoleh ke belakang tubuh merasa tak dipanggil laki-laki itu. "Dia manggil siapa?" Lisannya kembali bergumam bingung, kepalanya ikut tertunduk berpikir.


Sampai sebuah tepukan mendarat di pundaknya membuat Naina menoleh pada istri sang ustadz.

__ADS_1


"Dia manggil kamu, Nak," katanya sambil tersenyum.


"Tapi itu bukan nama saya, Ustadzah," kilah Naina dengan kerutan di dahi. Lagipula Alfin tetap berdiri di sana, tidak beranjak menghampirinya.


Sang ustadzah terkekeh melihat kepolosan Naina. "Itu panggilan mesra yang diucapkan suami kepada istrinya. Diucapkan dalam bahasa arab yang artinya, wahai kekasih hatiku, wahai yang berwajah kemerah-merahan. Sama saja dengan, wahai cintaku, kekasihku."


Naina tersipu, kembali menunduk menahan gejolak yang bangkit.


"Datangi suami kamu, dia menunggu."


Naina mengangkat kembali wajahnya, menatap penuh tanya pada wanita tersebut.


"Tapi kenapa dia nggak datang ke sini aja, Ustadzah?" tanya Naina masih belum mengenal jauh tentang Alfin.


"Alfin nggak akan datang ke tempat di mana banyak kaum hawa, Naina. Di sini semuanya ibu-ibu, udah pasti dia nggak akan datang ke sini." Ustadzah menunjuk pada wanita yang sibuk memasak.


Naina mengerti, tanpa bertanya lagi ia berpamitan kepada mereka dan menghampiri Alfin. Berdiri malu-malu karena sebutan yang digaungkan laki-laki itu.


"Ada apa? Kenapa teriak-teriak?" tanyanya dengan rasa gugup yang melanda hati.


Wanita itu melirik langit, awan jingga telah bertabur di sana. Waktu senja telah tiba, dan ia harus kembali ke rumah sesuai yang diminta Alfin.


"Kamu pulang, ya. Usahakan jangan nunggu aku karena biasanya penggajian rutin ini selesai sampai larut," pinta Alfin sembari menggenggam tangan istrinya.


Naina mengangguk, mencoba untuk mengerti akan kegiatan yang rutin dijalankan Alfin. Mereka melangkah bersamaan, bergandengan tangan mesra, mengguncang arsy, membuat para bidadari di surga terbakar cemburu.


"Mang, titip Naina. Dia udah seharian di sini dan belum istirahat." Alfin menyerahkan Naina kepada Asep yang menunggu di teras masjid.


"Nak Alfin nggak pulang?" tanya Asep merasa kasihan pada pengantin baru itu yang harus berpisah.


"Belum tahu, Mang. Gimana nanti," sahut Alfin sembari melirik Naina. Bohong, jika ia tak ingin pulang dan bermalam di kamar istrinya.


"Ya sudah, Mamang anter Naina pulang dulu. Kalo jadi, Adrian juga katanya mau ikut pengajian, tapi orang sibuk jam segini aja masih di kantor," ujar Asep sambil tersenyum maklum.

__ADS_1


"Papah mau ke sini, Paman? Kalo gitu, Nai tunggu di sini aja. Nanti pulang sekalian sama papah," sambar Naina merasa ada harapan untuk menunggui Alfin selesai.


"Hei! Nggak! Kamu harus pulang, kamu kelihatan capek banget itu. Lihat muka kamu, kusam terus lesu." Alfin mengusap kepalanya dengan lembut, ia melanjutkan, "kamu pulang, ya. Istirahat."


Naina mengangguk, siapa yang tahan bersitatap dengan manik yang dipenuhi kekhawatiran. Naina memeluk Alfin tanpa canggung lagi. Interaksi yang cukup intens seharian itu mengikis kecanggungan mereka.


Alfin melirik Asep, sedikit bersemu karena malu. Namun, ia membiarkan Naina beberapa saat, menyelami rasa hangat pelukannya.


"Hati-hati!"


"Jangan terlalu cepek," timpal Naina yang diangguki Alfin.


Malam itu mereka kembali berpisah, menahan rindu yang semakin menggebu-gebu. Naina menoleh, melambaikan tangan kepada Alfin. Laki-laki itu masih berdiri di sana, menatap kepergian motor Asep yang membawa cintanya.


Satu per satu jamaah berdatangan dari berbagai tempat dan daerah. Alfin menyambut dengan suka cita seperti biasanya. Ramah dan sopan, santun dan cakap dalam memilih kata.


****


"Malam ini pengajian rutin di masjid Alfin, kita nggak bisa hadir kayak biasanya, Mi." Ahmad mendesah. Seharusnya malam itu ia bersilaturahmi dengan rekan sejawat. Baik dari daerah tersebut maupun dari luar daerah.


"Maafin Umi, Bi, tapi dokter baru membolehkan pulang besok," sahut Aminah menyesal.


"Nggak apa-apa, Abi, Umi. Ada Busyro sama abinya anak-anak datang ke sana. Mereka pasti paham," sambar Khadijah yang baru saja datang diantar suaminya.


"Iya. Rasanya Umi pengen pulang sekarang, terus besok kita ke rumah Naina menyatukan dua keluarga kita dengan sempurna," celetuk Aminah tak sabar ingin mendatangi menantunya.


"Alhamdulillah, mudah-mudahan besok kita pulang. Dijah sama Amaliah sudah menyiapkan semuanya. Apa aja yang akan kita bawa ke rumah Naina, Mi," sahut Khadijah merasa lega dengan keinginan Aminah.


Sungguh, ia amat bersyukur karena hati wanita tua itu telah melunak.


"Alhamdulillah."


****

__ADS_1


Naina baru saja terlelap, ketika sesuatu menjamah tubuhnya.


__ADS_2