
Anton melangkah keluar menyingkirkan ego dalam dirinya. Setelah berpikir dengan sangat keras dan lama, dia memutuskan untuk mendatangi masjid dan meminta maaf kepada Naina. Berbagai alasan telah dia siapkan, untuk meyakinkan Alfin juga orang tuanya. Utamanya adalah Naina.
Kemeja putih, celana hitam, sepatu hitam mengkilap, selalu melekat di tubuhnya. Ia menyeberangi jalan menuju masjid, menyiapkan hati juga dirinya untuk merendahkan diri.
Langkah Anton terhenti tepat sebelum memasuki halaman masjid. Di teras masjid, Ustadz Hasan berdiri memantau keadaan anak-anak. Ia tersenyum dan mengangguk pelan ketika melihat atasan Naina berdiri di luar halaman masjid.
Laki-laki itu menuruni tangga, meninggalkan teras masjid dan menghampiri Anton yang tampak ragu untuk melangkahkan kaki ke halaman masjid.
"Assalamu'alaikum!" sapa ustadz dengan ramah.
"Wa-waa'alaikumussalaam, Ustadz," sambut Anton sambil melongok ke dalam area masjid. Mungkin sedang mencari Naina.
"Ada apa, Nak? Ada yang Anak ini cari?" tanya pak ustadz. Wajah teduhnya membuat kepala Anton terpaksa menunduk.
"Saya mencari Naina, Pak. Karyawan saya," ucap Anton semakin turun gengsinya di depan laki-laki bersorban itu.
Ustadz Hasan menghela napas, semakin mendekat langkahnya pada sosok manager itu. Ia memperhatikan Anton, menatap dalam-dalam kedua manik hitam di depannya.
"Sudah mengerti dengan apa yang terjadi? Kalo belum, sebaiknya pikirkan lagi karena saya kira gadis itu mengalami trauma," ujar Ustadz Hasan sembari mengulas senyum dengan ramah.
Anton mengangkat pandangan, menatap manik coklat milik pak ustadz yang meneduhkan. Ia menghela napas, terlalu lama menatap matanya membuat Anton merasa tidak nyaman. Seolah-olah sedang dikuliti hidup-hidup.
"Saya cuma mau minta maaf sama dia, Pak. Saya sudah memikirkan hal ini, dan apa yang saya lakukan tadi itu salah. Saya benar-benar menyesal," ungkap Anton meski tak bersungguh-sungguh dari dalam lubuk hatinya.
Ustadz Hasan mengangguk-anggukkan kepala, bukan mengerti ataupun tak tahu. Ia hanya menghargai niat baik atasan Naina meski tak didasari ketulusan.
__ADS_1
"Tapi apa kamu sudah siap menerima kemarahan Alfin? Saya kira hatinya masih memanas. Saya khawatir dia tidak dapat mengontrol diri dan lepas kendali seperti pada waktu malam itu. Dia hampir menghabisi ketiga preman yang membegalnya," ujar pak ustadz sembari menelaah garis wajahnya.
Anton terhenyak, tubuhnya secara otomatis merespon ucapan Ustadz Hasan. Tegang dan tiba-tiba saja menjadi gugup. Terlebih saat ia melihat kedua mata laki-laki tua itu.
"Ya sudah, mari saya antar," ucap Ustadz Hasan sembari menuntun Anton menuju pendopo di mana semua orang sedang berkumpul.
Anton mengikuti langkah Ustadz Hasan memasuki area masjid. Berdebar jantungnya seiring langkah semakin mendekati perkumpulan tersebut. Ustadz Hasan mempersilahkan Anton untuk mendekat dan mengutarakan maksud kedatangannya, sedangkan ia berdiri tak jauh dari pendopo memperhatikan.
Anton menganggukkan kepala mengucapkan terima kasih tanpa kata. Ia melangkah maju beberapa jengkal dari tempat tersebut. Menatap Naina dengan rasa bersalah yang tiba-tiba hadir. Terlebih saat ia melihat pergelangan tangan gadis itu yang memerah bekas cekalan tangannya.
Anton menghela napas, menyiapkan hatinya untuk menerima semua kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Maaf, apa saya mengganggu?" Suara Anton terdengar bergetar, gugup dan malu menjadi satu.
Keceriaan dari semua anak-anak itu seketika raib, berganti hening dan senyap. Mereka semua menoleh, kini berpasang-pasang mata mengarah padanya. Semakin gugup hati Anton. Terlebih saat tubuh Alfin berbalik dengan cepat, membelalak tak suka.
"Mau apa lagi kamu ke sini?" tanyanya sembari menahan diri agar tidak mendaratkan pukulan di wajah laki-laki itu.
Anton meneguk saliva, dia tahu Alfin sedang menahan amarahnya. Beruntung, pemuda itu pandai mengendalikan diri. Jika tidak, kepalan tangannya itu pastilah sudah mendarat di wajahnya.
"Maaf saya mengganggu. Saya datang ke sini cuma mau minta maaf sama Naina. Saya lepas kendali dan saya benar-benar menyesal karena itu." Anton menjatuhkan pandangan pada kedua mata Alfin yang memerah secara drastis.
Jemarinya yang mengepal menandakan ia tengah meredam emosi yang meluap. Naina menunduk, mendekap tubuh Halwa untuk menghilangkan rasa takut di hatinya.
"Apa kamu yakin kamu benar-benar menyesali semuanya?" tanya Alfin meragukan maksud kedatangan Anton.
__ADS_1
"Ayolah! Semua orang pernah melakukan kesalahan, dan semua orang berhak mendapatkan kesempatan untuk dimaafkan. Aku mengaku salah, dan aku sudah menyadari kekeliruanku. Aku menyesal. Naina, maafkan aku," ucap Anton dengan wajah memelas saat menatap ke arah Naina.
"Kamu betul, Nak. Semua orang memang pernah melakukan kesalahan dan semua orang berhak diberi kesempatan untuk memperbaikinya. Biarkan dia meminta maaf sama Naina, Alfin. Itu hak Naina untuk memutuskan apakah dia mau memaafkan atau justru hatinya masih tak rela," cetus Ahmad dengan bijak.
Alfin berdecih, jika bukan karena laki-laki tua yang dia hormati meminta, tak akan Alfin memberinya kesempatan untuk meminta maaf kepada Naina. Alfin memalingkan wajah, tak ingin melihat Anton yang mendekati Naina.
Gadis itu semakin dalam menundukkan kepalanya, bahkan ia beringsut mendekati Aminah meminta perlindungan. Wanita itu menatap Ahmad, mengangguk suaminya meminta sang istri untuk memberikan ketenangan pada Naina.
"Nai, aku tahu apa yang aku lakukan tadi itu salah. Nggak seharusnya aku maksa kamu buat ikut sama aku tadi. Aku minta maaf, Nai. Aku benar-benar menyesal," ungkap Anton benar-benar menyingkirkan gengsinya.
Satu yang dia takutkan adalah, Naina berhenti dari pekerjaan sehingga Anton tak lagi dapat melihat senyumnya untuk semua orang. Naina memainkan jemarinya yang lembab dan terasa dingin. Aminah yang melihat, segera diraihnya tangan itu. Digenggamnya dengan hangat, ditepuknya dengan lembut.
Menguatkan Naina lewat sentuhan tangan, meyakinkannya bahwa dia tidak sendirian. Naina menghela napas, mengangkat wajah tanpa menatap laki-laki yang telah memberinya rasa trauma itu. Ia menguatkan hati untuk memaafkannya, semata-mata hanya karena tak ingin masalah itu semakin berlarut.
"Ya. Saya maafkan." Singkat saja, terdengar sangat jelas dan tegas, tapi menyakitkan bagi Anton.
Sang manager menatap sendu wajah Naina yang berpaling darinya. Dia akan merindukan senyum gadis itu. Karena perbuatannya itu sudah pasti dia akan kehilangan senyum Naina, bahkan semakin jauh darinya.
"Sekarang. Anda boleh pergi. Mulai hari ini saya berhenti dari pekerjaan. Saya nggak akan pernah menginjakkan kaki saya di tempat itu lagi," ujar Naina tanpa keragu-raguan.
Anton terhenyak, apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Hatinya semakin sedih teriris, rencana mempertemukan anaknya dengan Naina kandas begitu saja.
"Tapi, Naina. Kenapa? Aku sudah mengaku salah dan aku minta maaf sama kamu. Aku berjanji nggak akan pernah ganggu kamu lagi, tapi jangan berhenti dari pekerjaan. Kamu bisa terus bekerja dengan tenang di sana tanpa gangguan dariku," ucap Anton mulai terlihat gelisah.
"Maaf. Saya nggak bisa. Saya sudah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan." Naina bersikeras menolak kembali ke tempat itu.
__ADS_1
Anton harus rela menelan kepahitan di hatinya. Semua itu salahnya karena terlalu memaksakan keinginan. Anton kembali dengan hati yang menanggung kecewa.