Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 133


__ADS_3

"Mas, emangnya hari ini mau ke mana?" tanya Naina saat dalam perjalanan meninggalkan rumah. Ada rasa tak enak karena keadaan di rumah sedang disibukkan untuk acara resepsi nanti.


"Nggak tahu, kak Dijah yang minta. Katanya disuruh jajal baju pengantin," jawab Alfin seraya membawa mobil berbelok ke arah masjid di mana semua anak-anak telah menunggu mereka untuk pergi ke sekolah.


Naina sigap membukakan pintu untuk mereka begitu tiba di jalan depan masjid. Anak-anak itu sudah menunggu. Mobil kembali melaju dan Halwa mengambil tempat di samping Naina. Bernyanyi, bercanda, membaca doa, riang gembira, memenuhi seisi mobil. Naina merasa bahagia.


Satu per satu dari mereka turun ketika tiba di sekolah masing-masing. Tiba giliran Halwa, Naina ikut turun dan menggandeng tangan gadis kecil itu ke sekolah. Bertemu dengan guru yang menunggu semua murid datang.


"Hari ini Ibu nggak bisa nungguin Halwa karena ada keperluan. Insya Allah besok Ibu tunggu sampai Halwa selesai belajar, ya," ucap Naina mengusap kepala gadis kecil itu dan mengecup kepalanya.


Halwa mengangguk dan berkata, "Baik, Ibu. Hati-hati, jangan telat menjemput." Halwa menyalami tangan Naina dengan takzim, menghangatkan hati guru yang menunggunya. Ia tahu mereka bukanlah ibu dan anak kandung, tapi perlakuan Naina tak ada beda dengan para ibu yang berstatus kandung.


Naina beranjak, tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya. Ia masih berdiri di sana menunggu Halwa yang pergi bersama gurunya. Dengan hati yang penuh rasa bahagia, Naina kembali ke mobil setelah Halwa menghilang dibalik kelas.

__ADS_1


"Tadi itu ibu Halwa?" tanya sang guru kepada gadis kecil Alfin.


"Iya, Ibu baik banget. Ibu sayang sama Halwa, dan masakan ibu itu enak banget." Halwa tak segan memuji Naina di hadapan guru juga temannya.


"Wah, Halwa sekarang udah punya ibu, ya. Pasti seneng." Halwa mengangguk ketika seorang teman berseru.


"Ibu kamu galak nggak? Suka mukul nggak kalo kamu nakal?" tanya yang lain meledek.


Halwa menggeleng seraya menjawab, "Nggak. Ibu nggak pernah galak. Ibu baik sama Halwa juga kakak-kakak. Ibu nggak pernah marah kalo baju Halwa kotor abis main tanah. Ibu pasti mandiin Halwa."


"Sudah, sudah. Ayo, duduk!" Guru wanita itu membubarkan anak-anak dari mengerubungi Halwa. "Halwa, selamat, ya. Halwa harus bersyukur karena sekarang udah punya ibu sama ayah. Apalagi Ibu lihat tadi ibu Halwa itu sayang banget sama Halwa. ya?" nasihat ibu guru sembari mengusap kepala anak itu.


"Iya, Bu. Terima kasih." Halwa berucap dengan sopan, kemudian berjalan menuju mejanya dan memulai belajar.

__ADS_1


Sementara Alfin tiba di rumah Ahmad, mereka disambut dengan hangat oleh kedua orang tua Alfin. Aminah bahkan menggandeng tangan Naina dan membawa istri Alfin itu untuk duduk di sampingnya.


"Gimana kabar kamu, Nak? Alfin nggak nakal, 'kan, sama kamu?" tanya Aminah mengusap lembut tangan sang menantu.


Naina terkekeh, meski belum terbiasa dengan sikap hangat Aminah karena peristiwa yang terjadi di malam itu, Naina tetap tersenyum ramah dan mengangguk sopan.


"Ya, nakal sedikitlah, Umi. Suka gigit-gigit." Tergelak semua orang yang ada, kecuali Alfin yang menunduk dengan wajah bersemu dan diam-diam mencuri pandang pada istrinya.


Awas kamu, Yang!


Ia mengancam, jemarinya saling bertaut satu sama lain dengan erat.


"Udah cukup, 'kan, ngobrolnya? Sekarang kita berangkat ke butik. Kalian harus mencoba gaunnya," ucap Khadijah menghentikan obrolan semua orang.

__ADS_1


"Ya sudah. Padahal Umi masih kangen, masih pengen ngobrol, tapi kalian harus pergi. Nggak apa-apa, nanti datang lagi ke sini, ya." Aminah mengusap-usap bahu Naina, sepenuh hati telah menerima wanita itu sebagai menantu.


"Iya, Umi. Insya Allah." Naina beranjak dan pergi bersama Khadijah juga Alfin.


__ADS_2