
"Ingat! Jangan pernah tinggalkan sholat, karena kalo kamu meninggalkan sholat sama saja kamu meninggalkan Allah. Dan kalo kamu meninggalkan Allah, itu artinya kamu meninggalkan Ayah. Ayah nggak pernah pergi jauh dari kamu karena Ayah ada di sini, di hati kamu. Begitu juga Salma dan anak-anak Ayah yang lain, ada di hati Ayah."
Nasihat Alfin yang menjadi obrolan pamungkas mereka di subuh tadi, selalu mengiang di telinga Salma. Ia tersenyum penuh arti, menatap punggung Alfin yang mengemudi.
Celoteh sang adik tidak menghilangkan suara ayahnya yang menasehati dengan lembut dan penuh keyakinan.
Kalo kamu lelah, menukiklah dan kembali. Ayah akan membuka lebar kedua tangan untuk menyambut kamu.
Salma masih memiliki tempat kembali dan selalu memilikinya untuk mengeluh, mengadu, dan melabuhkan kelemahan, ketika dunia mengekangnya. Dia tidak akan membiarkan pengorbanan Alfin sia-sia. Semua waktu yang digunakan laki-laki itu untuk merawatnya, harus terbayar dengan kesuksesan yang dia raih.
Salma bertekad mewujudkan impiannya karena bukan hanya dia yang bermimpi, tapi Alfin juga bermimpi untuknya. Remaja itu mengerti untuk apa dulu laki-laki itu memungutnya, mengasuhnya, merawatnya, memberikan pendidikan yang layak untuknya. Kalo bukan untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik dan sukses. Menunjukkan pada dunia bahwa anak jalanan yang ditelantarkan orang tua sekalipun bisa sukses menggenggam dunia.
"Kakak, apa Kakak tahu gimana kota Jakarta?" tanya Halwa menggoyang-goyangkan tangan Salma.
Remaja itu berpikir, mengingat-ingat perjalanan yang pernah ia lakukan bersama-sama teman-teman sekolah saat melakukan tour.
"Setahu Kakak, Jakarta itu kota yang padat. Banyak mobil-mobil besar, gedung-gedung tinggi ... pokoknya padat dan ramai," jawab Salma sambil tersenyum kepada Halwa.
"Apa Kakak pernah ke sana?" tanya yang lain antusias.
"Sekali waktu sama sekolah. Nanti kalian juga tahu, coba tanya sama Ibu. Kakak dengar Ibu dari Jakarta," usul Salma saat mengingat Naina datang dari sana dan mereka pun akan berziarah ke makam ibunya.
Halwa berpindah tempat duduk ke sisi Naina, menunjukkan deretan gigi susunya yang sedikit rusak akibat cokelat dan permen kepada ayah dan ibunya itu.
"Ibu, apa Ibu dari Jakarta? Kakak bilang Ibu dari Jakarta," tanya Halwa menatap Naina. Wajahnya amat menggemaskan, Naina tak bisa untuk tidak mencubit kedua pipi yang menyembul ke atas itu.
Dia terkekeh saat Halwa justru meringis.
"Yah, belum ada satu tahun Ibu di sini. Ibu lahir dan tumbuh di Jakarta, hidup berdua di kontrakan sempit dan makan aja susah." Naina menatap Halwa yang diam mendengarkan.
Alfin menoleh, salah satu kisah yang belum didengernya secara langsung dari Naina.
__ADS_1
"Apa di Jakarta banyak mobil besar dan gedung tinggi? Kakak bilang kayak gitu," tanyanya lagi dengan antusias.
"Banyak, sayang. Jalanan di sana penuh sama mobil-mobil besar, banyak gedung tinggi juga dibangun. Salah satunya tempat Ibu sekolah." Naina tersenyum pada Halwa.
Alfin kembali melirik, menghela napas. Mengingat obrolan Naina dan Tiwi malam itu, ia teringat untuk menawari Naina melanjutkan sekolah.
"Ibu sekolah? Kayak gimana sekolah di Jakarta?" tanya Halwa lagi semakin bersemangat. Tak hanya gadis kecil itu, tapi anak-anak yang lain juga ingin mendengarnya.
"Ibu sekolah, sama kayak Halwa, kayak Kakak-kakak, sampai perguruan tinggi, tapi sekolah Ibu gratis karena nggak ada yang membiayai."
Anak-anak itu tertegun, seperti mendengar kisah dongeng yang sering dibacakan Naina ketika mereka menginap.
"Apa kakek nggak kasih uang sama Ibu?" Teringat pada Adrian.
"Dulu, Ibu belum ketemu sama kakek. Ibu tinggal berdua sama nenek," jawab Naina.
Hati Alfin terenyuh, seperti apa kehidupan istrinya saat di Jakarta dulu. Dia ingin mengoreknya dari Naina.
"Nenek yang menyuruh Ibu pergi ke sini. Waktu itu Nenek udah sakit, terus ninggalin Ibu sendirian. Jadi, Ibu pindah ke sini dan ketemu sama Ayah, ketemu juga sama kakek, ketemu sama kalian juga. Kalo Ibu nggak ke sini, mungkin kita semua nggak akan ketemu," ucap Naina sambil tersenyum penuh syukur ketika matanya bersitatap dengan Alfin yang kebetulan melirik.
Pada akhirnya mobil itu terisi oleh celoteh mereka yang tak henti bertanya tentang Naina. Seperti apa sekolahnya, dan banyak pertanyaan lain lagi. Sampai akhirnya tiba di perbatasan kota, anak-anak begitu takjub melihat banyaknya kendaraan di jalan yang mereka lintasi.
"Wah, Kakak benar. Gedung di sini tinggi-tinggi, nggak sama kayak di kota kita," seru mereka antusias melihat deretan gedung yang menjulang tinggi dari permukaan.
"Sayang, apa masih jauh? Kalo masih, sebaiknya kita istirahat dulu," ucap Alfin mengingat waktu menunjukkan sebentar lagi dzuhur akan berkumandang.
"Lumayan, Mas. Di sana ada rest area, kita berhenti di sana aja," ucap Naina menunjuk ke sebelah kiri jalan.
Alfin berbelok, diikuti tiga mobil lainnya. Mobil milik Adrian, Ahmad dan keluarga Busyro, serta mobil Khadijah. Beristirahat sejenak untuk menunaikan sholat dzuhur, juga mengisi perut mereka sebelum melanjutkan.
****
__ADS_1
"Mah! Kak Naina ada di Jakarta! Coba lihat!" jerit Fathya saat melihat unggahan Naina di media sosialnya.
Seira terburu-buru mendekat, dan melihat dengan antusias yang ditunjukkan Fathya.
"Hubungi dia, minta mampir di restoran papah. Biar Mamah kasih tahu papah dulu," titah Seira seraya beranjak dan berlari ke kamar untuk menghubungi Fatih.
Mereka membuat rencana penyambutan untuk Naina juga keluarganya. Antusias sekali karena akan kedatangan orang yang mereka harapkan. Karyawan Fatih pun disibukkan melakukan persiapan, sesuai informasi dari Fathya rombongan Naina akan singgah sore nanti di sana.
****
"Mas, bu Sei minta kita mampir ke restorannya," ucap Naina memberitahu Alfin setelah menutup sambungan telpon dari Fathya.
"Insya Allah, pulang dari makam ibu kita mampir ke sana," sahut Alfin.
Ia faham Naina merindukan suasana kota kelahirannya meski ada banyak luka yang ditorehkan tanah itu. Mungkin juga dia merindukan sekolahnya, teman-teman dan para dosen yang membimbingnya.
"Sayang!" Alfin meraih tangan Naina dan menggenggamnya, "kampus kamu di mana? Apa jauh dari rumah tempat tinggal kamu dulu?" tanyanya seraya mengecup punggung tangan sang istri.
Naina mengingat-ingat kembali jarak sekolahnya.
"Nggak begitu jauh, sih. Kalo naik bus itu cuma lima belas menitan. Aku kuliah gratis waktu itu, beasiswa," jawab Naina menoleh pada suaminya kemudian menjatuhkan kepala di atas bahu laki-laki itu.
"Kamu mau melanjutkan kuliah?" tanya Alfin kemudian.
Naina tersenyum, menggelengkan kepala tanpa harus berpikir. Dia hanya ingin menjadi ibu rumah tangga, sukses berkarir di rumah tanpa harus menempuh pendidikan tinggi.
"Aku mau fokus sama Mas dan anak-anak aja. Kalo dulu ... kenapa aku kuliah? Itu karena aku nggak punya orang lain selain ibu. Aku nggak bisa bergantung sama ibu, dan harus mengandalkan diriku sendiri. Dengan bersekolah, aku berharap dapat bekerja di perkantoran dan punya gaji yang besar."
Ia memalingkan wajah pada suaminya.
"Aku dulu kuliah sambil kerja paruh waktu, selain buat bayar kuliah yang sewaktu-waktu juga buat makan dan pengobatan ibu yang sakit. Sekarang, aku sudah menikah, punya suami dan anak-anak yang harus diurus. Kuliahku di rumah, tempat kerjaku juga di sana. Jadi, aku akan fokus pada tugasku saja sebagai istri dan seorang ibu."
__ADS_1
Jawaban Naina membuat hati Alfin terenyuh, lama ia menatap wajah sang istri. Lalu, mengecup bibirnya yang selalu mengeluarkan kata-kata manis itu.