Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 70


__ADS_3

"Bas!" Alfin memanggil temannya yang berjaga malam itu.


Ada yang dia ingat dan lupa untuk disampaikan. Dia mengira yang diingat itu penting dalam perkembangan kasusnya tersebut.


"Ada apa?" Bas mendekati ruangan di mana Alfin berada, mereka berdiri terhalang pintu. Berbincang lewat lubang yang hanya cukup untuk memperlihatkan wajah saja.


Alfin menggigit bibir, berpikir dan menimbang perlukah ia melakukannya.


"Alfin?" tegur Bas menyentak tubuh Alfin dari lamunan.


Pemuda itu mengangkat wajah, memandang sahabatnya dengan ragu. Entah mengapa, dia sendiri tidak yakin untuk mengatakannya.


"Apa polisi masih menyelidiki kasus ini?" tanya Alfin meski sedikit harapan, ia harus mencobanya.


"Aku yang ditugaskan untuk menyelesaikan kasus ini. Sebenarnya cuma tinggal nunggu sidang aja karena tersangka telah ditangkap. Semua tuduhan merujuk sama kamu, Fin," ucap Bas menatap iba pada temannya itu.


Alfin menunduk, menghela napas panjang.


"Aku ada satu orang saksi lagi malam itu ... nggak, mungkin dua." Alfin mengira-ngira apakah keduanya bisa berguna di persidangan nanti.


Bas berbinar, sebisa mungkin dia akan mengusut tuntas kasus yang menimpa Alfin.


"Siapa?" tanyanya tak sabar.


"Tapi aku ragu apakah ini berguna? Aku sendiri nggak yakin soalnya," tutur Alfin putus asa.


Bas membuka pintu ruangan, masuk kembali ke dalam. Mengajak Alfin untuk duduk di lantai, membicarakan yang dia tahu.


"Apapun itu, bilang aja. Kita nggak tahu mana yang akan berguna untuk sidang nanti. Jangan putus asa, Fin. Allah nggak suka," tuturnya membuat Alfin tersadar.


Benar, jangan berputus asa. Dia harus yakin Allah akan memberikan petunjuk mana yang benar dan mana yang salah.

__ADS_1


"Kamu tahu butik di seberang tokoku?" Alfin menatap wajah temannya.


Polisi muda itu menganggukkan kepalanya.


"Pemilik butik itu yang menyuruh Naina pergi ke lokasi kejadian untuk mengantarkan pesanan. Naina bekerja di sana, malam itu aku pergi mencarinya ke sana. Dia bilang sejak sore Naina pergi. Juga rumah paling besar di lokasi kejadian, penerima barangnya. Apa keduanya bisa berguna?" tanya Alfin sedikit berharap pada keduanya akan meringankan hukuman.


Tanpa berpikir, Bas menganggukkan kepala. Ia menepuk pundak Alfin memberinya kekuatan juga keyakinan.


"Aku akan pergi menyelidikinya. Kamu tenang aja, mereka juga saksi yang cukup kuat. Semoga bisa bekerjasama dengan pihak kepolisian," ucap Bas dengan pasti.


Alfin tersenyum, beruntung yang menyelidiki kasusnya adalah teman sendiri hingga ia bisa leluasa berbincang dengannya. Bas beranjak, sekali lagi melihat ke arah Alfin sebelum menutup pintu.


Malam itu juga dia pergi ke butik untuk mencari tahu kebenaran dari yang disampaikan Alfin.


****


Di teras belakang rumah, Naina termenung seorang diri. Menghadap kolam renang yang luasnya hampir menyamai kolam-kolam di tempat umum. Duduk memeluk lutut di sebuah kursi malas.


Halwa, apa kamu mencari Ibu? Aku kangen sama dia.


Naina tersenyum tipis membayangkan kebersamaannya dengan gadis kecil itu. Mereka layaknya ibu dan anak, meski belum menikah dia sudah bisa merasakan jadi seorang ibu.


"Gimana kabar Alfin? Apa dia datang lagi ke rumah sakit?" Ia menghembuskan napas, terus merenung dan hanyut dalam lamunan hingga tak sadar bahwa Adrian sudah berada di belakangnya.


Laki-laki itu menatap Naina sendu. Sudah sering ia lihat anaknya melamun seorang diri, tapi tidak berani untuk menegur. Ia hanya takut Naina tak senang ketika bertanya ini dan itu. Namun, kali ini, hati Adrian mendapat dorongan untuk melakukan tugasnya sebagai ayah.


"Sayang!" tegurnya seraya melangkah dan duduk di samping Naina.


"Papah." Naina menurunkan kedua kaki, menunduk tanpa ingin bersitatap dengan papahnya itu.


"Maafkan Papah, tapi akhir-akhir ini Papah sering lihat kamu melamun. Bukan cuma Papah, Mamah juga sering lihat kamu duduk sendirian di sini. Kalo kamu nggak keberatan, boleh Papah tahu apa masalah kamu, sayang?" ungkap Adrian dengan penuh perhatian.

__ADS_1


Naina menghela napas, lupa bahwa dirinya sekarang memiliki keluarga yang utuh meski tak bisa disebut kandung. Naina mengangkat wajah, menatap lekat rupa Adrian di sisinya.


"Nai, kangen sama anak-anak di masjid, Pah. Nai cuma berpikir, apa mereka mencari Naina? Itu aja," ucap gadis itu sedikit merahasiakan masalah Alfin dan hatinya.


Adrian menilik kedua manik hangat Naina, manik yang mengingatkannya pada sosok seorang wanita yang pernah menjalin asmara dengannya, Lita.


"Kalo kamu cuma kangen sama mereka, nanti kita mampir ke sana. Jangan melamun sendirian lagi, Mamah butuh teman mengobrol di dalam. Atau kalian bisa berenang bersama kalo Papah lagi kerja," saran Adrian sembari mengusap kepala Naina yang ditutupi hijab instan.


Naina menganggukkan kepala, bibirnya tersenyum meski terkesan terpaksa. Gadis itu masih merasa canggung, dia bahkan tidak berani menyentuh barang-barang yang ada di rumah besar itu. Senyum Adrian surut ketika teringat sesuatu yang ingin dia tanyakan pada Naina.


"Nai, Papah dengar kamu jadi korban pelecehan di malam sebelum Papah datang. Apa itu yang membuat kamu sering melamun?" tanya Adrian mengorek kepastian kabar yang ia dengar dari Sumiyati.


Naina membuka sedikit bibirnya, terkejut karena laki-laki itu mengetahui yang terjadi, tapi kemudian ia menyadari bahwa mungkin semuanya memang harus terbuka.


"Hampir, Pah. Mereka nggak sempat melecehkan Nai karena ada orang yang menolong. Seandainya dia datang terlambat, mungkin aja hal itu bisa terjadi," ucap Naina sambil berpaling muka darinya.


Ia menghela napas, sudah beberapa hari terakhir mencoba untuk melupakan kejadian itu. Namun, tetap saja, bayangan kedua laki-laki yang hendak melecehkannya terus melintas dan mengganggu Naina.


"Syukur kalo gitu, Papah sangat berterimakasih pada orang yang sudah menyelamatkan kamu." Adrian tersenyum penuh syukur karena Naina tidak sempat dilecehkan.


Dia Alfin, Papah. Calon suami Naina, tapi nggak tahu sekarang apa dia masih menganggapku sebagai calon istrinya?


Naina membatin, perih dan teriris ketika bayangan Alfin yang meragukan ucapannya timbul dalam pikiran. Ia menghela napas lagi, terlalu berat beban yang dipikul pundak ringkihnya.


Sejak kecil, hidupnya penuh dengan perjuangan, dunia memperlakukannya dengan keras. Tak sedetik pun Naina dapat menikmati masa-masa kecilnya untuk bermain-main dan bersenang-senang seperti anak-anak yang lain.


Adrian mematri pandangan pada wajah anaknya, berjanji dalam hati akan menuntaskan kasus Naina. Tugasnya saat ini adalah membuat Naina merasa aman tinggal bersama di rumah itu.


"Ayo, masuk. Papah mau berangkat kerja, Mamah sama Bi Sum lagi di depan televisi." Adrian beranjak, menunggu Naina untuk bangkit dari duduk.


Gadis itu berdiri dan mengekor di belakang sang papah yang membawanya ke ruang keluarga. Ia berpamitan pada semua orang, meninggalkan mereka seperti biasa. Ada hal yang harus dia selidiki di toko.

__ADS_1


__ADS_2