
Demi mengobati rasa penasarannya, Biya mengikuti Yusuf masuk ke dalam pesta.
"Oh, Pak Yusuf! Maa syaa Allah! Sudah bawa pasangan sekarang, Alhamdulillah," sapa Adrian dengan ramah ketika bertemu di pintu masuk.
Pemuda itu melirik tak enak pada gadis di sampingnya, tapi dia tidak menolak. Hanya tersenyum malu-malu sambil menundukkan kepala. Adrian menelisik gadis yang berwajah masam karena gurauannya itu. Mengingat-ingat wajah tersebut, serasa pernah melihat.
"Maaf, Pak. Ini teman saya, dia nyasar dan hpnya mati. Nggak bisa telpon keluarganya. Kalo diizinkan bisa numpang ngisi daya dulu begitu," ucap Yusuf setelah mendapat serangan dari Biya lewat sorot matanya yang tajam seolah-olah ingin melahapnya.
"Ah ...." Adrian tertawa, merasa malu sekaligus tak enak. "Maaf kalo gitu. Mari! Masuk aja, Pak Yusuf. Ada banyak tempat buat ngisi daya, tapi yang aman di ruang keluarga," ujar Adrian tak bisa berlama-lama karena harus pergi mencari Biya.
"Makasih, Pak." Mereka berpisah, Yusuf mengajak Biya untuk masuk ke halaman.
Mata Biya awas memindai, suara-suara merdu anak-anak melantunkan Al-Qur'an mendamaikan hatinya. Yang membuat penasaran adalah sepasang raja dan ratu yang tengah asik di singgasananya. Tanpa sadar langkah Biya berbelok menuju pelaminan yang terletak di halaman samping rumah.
"Eh, Mbak! Mau ke mana?" Pekikan Yusuf tak diindahkannya, Biya terus melangkah ke halaman samping di mana semua orang berada.
"Ah, iya. Kita ke pengantin dulu." Yusuf dengan cepat mensejajarkan langkah di samping Biya.
Fatih dan Rayan baru saja berpamitan kepada Seira hendak mencari Biya. Mata gadis itu memanas melihat keluarganya berkumpul di sana. Ingin rasanya menangis, tapi terlalu malu karena ada banyak tamu di tempat itu.
"Mas!" Naina menyenggol pinggang Alfin ketika melihat sosok tersebut.
__ADS_1
"Ada apa?" Alfin bertanya sambil tersenyum kepada para tamu.
"Itu bukannya sekretaris kamu, ya?" Naina melihat Yusuf yang berjalan berdampingan dengan Biya.
Alfin mengikuti arah petunjuk Naina, menatap sosok Yusuf yang berjalan dengan seorang wanita.
"Wah, iya. Dia datang sama perempuan itu?" Alfin bertanya karena memang tidak mengenal Biya.
"Itu tante Biya. Kok, bisa sama sekretaris kamu, ya? Apa mungkin mereka ketemu di jalan?" Naina bertanya bingung entah pada siapa meminta jawaban.
Alfin terhenyak, tak menyangka orang yang akan mereka jodohkan, ternyata sudah bertemu lebih dulu.
Fatih dan Rayan berjalan meninggalkan Seira, tapi langkah keduanya terhenti seketika saat melihat sosok Biya yang mematung memandang ke arah mereka.
"Aunty! Maa syaa Allah!" Rayan berlari dan memeluk gadis itu.
Fatih menyusul bersama Seira dan Rani, sedangkan Naina memandang penuh haru. Alfin mendekap pinggang sang istri, ikut merasa haru melihat pertemuan itu.
"Biya! Ya Allah! Ke mana aja kamu? Kami semua cemas di sini," ucap Fatih seraya memeluk adiknya penuh syukur.
Seira mengusap-usap punggung gadis yang menumpahkan tangisan dalam pelukan sang Kakak. Fathya menggenggam tangan Rani, turut merasa lega melihat tantenya.
__ADS_1
Sementara Yusuf, menggaruk kepalanya bingung. Dia yang mengajak Biya, tapi justru di sanalah keluarga gadis itu berkumpul. Tak ingin terjadi kesalahpahaman, Yusuf memilih meninggalkan mereka dan menghampiri Alfin.
"Selamat, Bos. Mudah-mudahan cepet punya mongmongan," ucapnya sambil cengengesan.
"Mongmongan?" ulang Naina tersenyum geli.
"Anak maksudnya, Bu Bos." Dia kembali tersenyum. Tangannya ditepis Alfin ketika hendak berjabat dengan Naina.
Ugh!
Yusuf meniup-niup tangannya sendiri. Terasa panas dan perih, bibirnya cemberut, lebih ngenes lagi ketika melihat Biya yang seolah-olah tak peduli padanya.
"Eh, Mas Yusuf! Tunggu, deh. Aku mau tanya," panggil Naina menghentikan langkah Yusuf yang hendak menuruni pelaminan karena rasa lapar sudah memanggil.
"Iya, Bu Bos. Ada apa? Duh, mana lagi ngenes nih. Perut lapar, pengen makan." Dia meringis mengundang gelak tawa Naina karena merasa lucu dengan ekspresi wajahnya.
"Mas Yusuf, kok, bisa dateng sama tante Biya? Apa kalian saling kenal?" tanya Naina penasaran.
Yusuf berpaling pada Biya yang terlihat bahagia bertemu keluarganya.
Sungguh teganya ... leganya ... leganya ... leganya ....
__ADS_1