
Naina dan Alfin duduk di atas sebuah batu, tangan keduanya saling bertautan. Sesekali akan dicium Alfin dengan gemas.
"Mas, dulu pernah pacaran nggak?" tanya Naina mengulik hanya sekedar ingin tahu.
Alfin melirik, tersenyum gemas melihat wajah penasaran sang istri. Ia menghela napas, berpaling menatap deburan ombak di laut.
"Punya," jawab Alfin membuat Naina memberengut cemburu.
Ia melengos tatkala Alfin kembali menoleh padanya. Tersenyum diam-diam, senang rasanya melihat sang istri cemburu.
"Siapa namanya?" Naina bertanya tanpa mengalihkan wajah padanya. Kenapa rasanya sakit. Begitu kira-kira.
"Hmm ... namanya unik, cuma sedikit singkat saja. Cuma satu kata," jawab Alfin terus melirik sang istri sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Satu kata? Sama kayak nama aku?" Naina menoleh penasaran, dan semakin tak senang saat melihat senyum Alfin. Dia pikir laki-laki itu sedang bernostalgia tentang masa lalunya.
"Ya, persis kayak kamu. Kayaknya namanya juga sama, deh. Aku nggak tahu juga, sih." Alfin menghendikan bahu, berpaling menggoda istrinya.
Naina semakin cemberut, tangannya meremas ujung hijab dengan kuat.
__ADS_1
"Apa namanya Naina juga?" Bertanya karena penasaran.
"Hmm ...." Alfin berpikir, "iya. Sama namanya emang Naina," jawab Alfin sambil mengusap dagu berpura mengingat-ingat.
Naina merajuk sedih, ia menarik tangan yang digenggam Alfin. Menyatukannya dengan tangan yang lain.
"Berarti Mas nikahin aku karena nama kami mirip? Begitu?" tanya Naina dengan nada sedih dan kecewa.
Alfin mendesah, melirik sang istri yang menarik-narik hijabnya sendiri.
"Lho, mantan Mas cuma satu, kok. Sekarang udah beda statusnya, kemarin baru Mas putusin pas di depan penghulu."
"Jadi, Mas masih hubungan sama dia? Mas udah nikahin dia?" pekik Naina hampir menangis.
"Yah, mau gimana lagi? Mas nggak mau kehilangan dia, Mas juga nggak bisa jauh dari dia. Jadi, Mas nikahin aja biar dia nggak bisa ke mana," jawab Alfin jujur sejujur-jujurnya.
Naina menatapnya sedih, air mata menggenang di kedua pelupuk nyaris terjatuh. Ia beranjak hendak pergi, tapi tangan Alfin dengan cepat menariknya.
"Mau ke mana?" Alfin mengurung tubuh sang istri di pangkuan.
__ADS_1
"Lepas, aku mau pergi. Aku mau pulang!" rengek Naina persis seperti kanak-kanak yang merajuk karena meminta permen.
"Kamu cemburu?" Alfin menggesekkan kepala di leher Naina. Pelukannya semakin kuat seiring Naina semakin meronta.
"Kamu yang tanya, Mas jawab. Mantan pacar Mas sekarang udah jadi istri Mas. Mas cuma punya pacar satu, namanya Naina. Dia pindahan dari Jakarta, kerja di supermarket sebagai kasir. Kesederhanaannya benar-benar memikat hati Mas. Cuma kamu perempuan yang pernah Mas cintai dan sampai sekarang Mas cintai juga sampai nyawa Mas sendiri kembali kepada pemiliknya. Mas cinta kamu, Humairah."
Alfin mengeratkan pelukan, memejamkan mata merasakan perasaan yang mendalam. Benar-benar hanyut dalam buai asmara yang yang bertepi.
Naina tercenung, berpikir beberapa saat untuk mencerna kalimat yang terlontar dari bibir suaminya. Ia tersipu, berpaling sambil tersenyum menyembunyikan rona merah di pipi.
"Apa yang Mas bilang itu benar? Mas nggak pernah punya pacar selain aku?" Naina memastikan bahwa semua yang diucapkan Alfin memanglah benar.
"Iya, dong."
Keduanya semakin terbawa arus perasaan yang kian memuncak di hati. Tak menghiraukan kehadiran orang lain yang tengah menikmati keindahan alam.
Keindahan itu seketika pergi disaat seseorang muncul di hadapan mereka.
****
__ADS_1
Terima kasih atas doanya Kakak-kakak semua. Mohon maaf belum bisa bales satu per satu. Selamat membaca. Sekali lagi, terima kasih karena udah doain si Bungsu.