Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 127


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju toko, Alfin memilih menaiki mobil sendiri berdua saja dengan Naina. Sesuai kesepakatan, setelah tanda tangan kontrak mereka akan melihat-lihat toko matrial yang dimaksud.


Tiga mobil beriringan di jalan, dengan berbagai macam ekspresi wajah dari masing-masing penumpangnya. Yusuf menekan rasa yang tiba-tiba hadir, agar tidak berkelanjutan. Adrian tak henti-henti menertawakan pertemuan tak terduga mereka, dan sepasang suami istri itu saling berpegangan tangan dengan mesra.


"Kenapa Mas selama ini nggak pernah cerita kalo punya usaha besar?" tanya Naina semakin mengagumi sosok suaminya.


Alfin menarik tangan sang istri, menciumnya dengan mesra. Ada kelegaan di hatinya Naina mengetahui semua rahasia.


"Mas, 'kan, udah bilang kalo Mas punya usaha matrial. Kamu lupa?" Alfin balik bertanya.


Naina mencebik, ingat betul waktu itu apa yang dikatakan Alfin padanya. "Apalagi yang Mas rahasiakan dari aku? Kenapa aku nggak tahu apa-apa tentang suami sendiri, ya?" Naina berpaling sedih.


Ternyata dia belum benar-benar mengenal Alfin. Seperti apa sosoknya, dia belum mengetahui semua tentang laki-laki itu. Alfin tercenung, berpikir rahasia apa yang masih dia sembunyikan.


"Apa, ya? Kamu udah tahu tentang masa lalu Mas. Sekarang, kamu juga tahu usaha Mas. Kayaknya nggak ada lagi yang Mas sembunyiin," ucap Alfin mendekap tangan Naina di dadanya.

__ADS_1


Wanita itu memicingkan mata, masih mencurigai sosok Alfin yang misterius.


"Kalo Mas punya toko, kenapa lebih sering di masjid? Nggak ngurus toko gitu?" tanya Naina lagi menyelidik.


Alfin tersenyum, mungkin Naina memang harus tahu semuanya agar tidak menjadi bumerang di kemudian hari.


"Mas serahkan pengelolaan toko pada semua karyawan. Mas percaya sama mereka, seratus persen. Karena prinsip Mas, bekerja jujur atau tidak sama sekali. Kenapa Mas lebih fokus di masjid?" Alfin menghela napas, memandang sang istri dalam-dalam saat menunggu lampu merah.


"Itu karena Mas banyak dosa, sayang. Mas cuma pengen khusyuk beribadah bertaubat kepada Allah. Mas nggak mau terlalu sibuk dengan urusan dunia, tapi sekarang ceritanya lain. Mas udah punya istri, punya kewajiban memenuhi kebutuhan anak orang. Jadi, Mas nggak bisa cuma duduk di masjid beribadah karena menafkahi istri itu kewajiban dan merupakan ibadah juga," tutur Alfin tersenyum manis pada istrinya yang tercenung.


"Aku beruntung karena jadi istri kamu, Mas. Kamu mengajak aku untuk lebih dekat dengan Allah. Jangan lepas tanganku, Mas. Aku butuh kamu," ungkap Naina seraya menjatuhkan kepala di bahu Alfin.


Mobil kembali melaju, meninggalkan lampu merah. Menuju sebuah bangunan ruko yang hanya ditempati satu pemilik saja.


"Iya, sayang. Sama-sama kita meniti jalan ridho-Nya. Kamu pelengkap hidup Mas, penyempurna keimanan Mas, pelindung dari kejahatan hawa napsu."

__ADS_1


Hatimu tempat berlindungku


Dari kejahatan syahwatku


Tuhanku merestui itu


Dijadikan engkau istriku


Engkaulah bidadari surgaku ....


Alfin melantunkan sepotong lagu bidadari surga milik alm. Ustadz Jefri Al-buchori. (Allaahumma-ghfir lahu). Membuat hati Naina semakin diliputi rasa haru. Ia mengusap sudut matanya yang berair, tak henti hati melafalkan kalimat syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan.


Naina tak pernah meminta kebahagiaan, dia hanya meminta kekuatan serta ketabahan. Naina tak pernah menduga, kehidupannya akan berubah seratus persen sejak mengenal laki-laki yang menjadi suaminya kini.


Dia, Naina, gadis kecil yang rela menerjang hujan demi sebuah kata maaf untuk sang ibu.

__ADS_1


__ADS_2