
Di sebuah bangku kayu, di taman kecil belakang rumah. Duduk sepasang paruh baya memandangi langit kelam tanpa bintang. Ditemani dua cangkir teh, keduanya merenung memikirkan jalan hidup yang digariskan Tuhan.
"Naina dan Nadia itu beda, ya, Mi. Nadia kelihatannya berpendidikan, ngerti agama. Naina kelihatannya biasa aja, sederhana, apa adanya, tapi dia punya kelebihan yang nggak dimiliki perempuan lain. Jujur. Sikap itu yang jarang dimiliki orang lain. Abi udah salah menilai Naina, coba aja Abi nggak nurutin permintaan Khadijah, udah pasti Abi akan nyesel," ungkap laki-laki yang tak lain adalah Ahmad, ayah Alfin.
Ia menghela napas, membayangkan siang tadi di mana terjadi perdebatan sengit antara Khadijah juga dirinya.
****
"Apa maksud kamu, Dijah? Kamu bilang perempuan yang dipilih Alfin adalah perempuan yang lahir diluar nikah? Apa Abi nggak salah denger?" sentak Ahmad ketika Khadijah, putri sulungnya memberitahu soal status gadis yang disukai bungsu mereka.
"Abi nggak salah denger, yang Dijah bilang tadi emang bener. Naina adalah anak yang baik meskipun lahir diluar nikah. Abi harus lihat dan setelah itu nilai sendiri," sahut Khadijah tegas.
"Jadi, namanya Naina? Tinggal di mana dia?" tanya Aminah terlihat lebih tenang dari suaminya.
"Dia pindahan dari Jakarta, Umi. Mungkin baru dua bulan, dia kerja di minimarket seberang masjid Alfin. Dia juga suka bantu-bantu Alfin bagi-bagi makanan di masjid. Pokoknya Abi sama Umi harus ketemu dulu sama dia setelah itu baru memutuskan," pinta Khadijah serius.
"Untuk apa? Anak yang lahir diluar nikah, itu karena akibat orang tuanya yang nggak bisa menjaga diri. Zinah itu hutang, Dijah. Dan hutang harus dibayar. Gimana nanti kalo dia ngerusak Alfin, makin jauh anak Abi itu dari kita. Pikir dulu, Dijah. Pikir sebelum bertindak," tegas Ahmad tetap menolak keinginan Khadijah untuk memberi restu pada Naina.
Tatapan mata Khadijah penuh dengan kekecewaan, untuk pertama kalinya Ahmad melihat rasa kecewa di kedua manik itu.
"Naina hidup sebatang kara di dunia ini, Abi. Dia butuh seseorang untuk melindunginya dari kejahatan semua makhluk. Dia seseorang yang sedang meniti jalan hidayah, dan membutuhkan tongkat untuk menuntunnya. Dia seorang bayi yang baru dilahirkan, dan membutuhkan kasih sayang untuknya dapat belajar. Jika kita menolak, siapa lagi yang akan membimbingnya, Abi? Orang lain belum tentu bisa, yang ada mereka akan semakin membuatnya hancur. Secara otomatis Abi akan terdampak dosanya karena bersikap tak acuh terhadap masalah Naina," papar Khadijah tak putus asa.
Ahmad tertegun mendengar pemaparan sang anak. Aminah terhenyak, menuntun seseorang menemukan jalan hidayah itu lebih mulia dari pekerjaan apapun, dan sudah menjadi tugas seorang alim untuk membimbingnya.
__ADS_1
"Abi. Mendengar itu Umi jadi pengen ketemu langsung sama Naina. Biarin Alfin bawa dia ke sini, kemarin kita sudah mempertemukan Alfin sama Nadia tanpa dia tahu. Sekarang, kita lihat Naina seperti apa? Apakah dia lebih baik dari Nadia? Atau lebih buruk," tutur Aminah dengan bijaksana.
"Bi, percaya sama Dijah. Naina itu mutiara yang disembunyikan di dalam lumpur yang kotor," ujar Khadijah bersungguh-sungguh.
Ia menatap keduanya sambil memohon, tatapan yang tak pernah dilakukannya kecuali bila benar-benar menginginkan sesuatu.
"Baik. Kalo emang nggak sesuai harapan, maka Abi akan langsung menolaknya. Kamu nggak boleh keberatan dengan keputusan Abi," tegas Ahmad menerima permintaan anak sulungnya untuk bertemu dengan Naina.
Khadijah tersenyum, senyum yang tak sama pula seperti yang sering dilihat keduanya. Ada ketulusan juga keyakinan memancar dari kedua manik itu.
"Makasih, Abi," tuturnya sembari menjatuhkan diri bersimpuh di kaki kedua paruh baya itu.
****
Begitulah perjuangan Khadijah dalam meyakinkan Ahmad untuk bertemu dan melihat secara langsung sosok Naina. Lalu, membandingkannya dengan Nadia karena Alfin yang sudah memilihnya.
"Pertama kali lihat Naina, hati Umi langsung menerima dia, Bi. Nggak tahu kenapa, kayak ada yang narik Umi buat duduk dekat sama dia. Apalagi waktu dia bilang makasih di kuping Umi, hati ini langsung bergetar. Umi ingin merangkulnya, Abi. Umi ingin dia ada di dekat kita," ungkap Aminah mengutarakan perasaannya ketika berada di dekat Naina.
"Yah, mudah-mudahan jalan mereka dimudahkan. Kita nggak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, cuma berharap semuanya akan baik-baik saja." Ahmad menghela napas, menurunkan pandangan dari langit pada wajah sang istri.
"Oya, di mana Naina kerja?" tanya Ahmad teringat tempat bekerja gadis itu.
"Itu, di seberang masjidnya Alfin. Minimarket itu, Bi. Katanya jadi kasir," jawab Aminah.
__ADS_1
Ahmad menghela napas, ada sesuatu yang mengganjal di hati tua itu dan dia tidak bisa menahannya.
"Perasaan Abi nggak nyaman denger dia kerja di sana, Mi. Coba besok kita ke masjid Alfin, sekalian lihat tempat kerja Naina. Kayaknya ada yang berniat jahat sama calon menantu kita itu, Mi," ujar Ahmad terlihat gelisah di raut wajahnya.
Aminah tertunduk, perasaan sang suami tidak pernah salah. Hatinya ikut merasa gelisah, memikirkan Naina. Ingin secepatnya hari esok tiba, agar ia bisa kembali melihat wajah sederhana itu.
"Iya, Bi. Kita juga belum nengok anak-anaknya Alfin, sekalian aja nengok mereka," sahut Aminah setuju.
Malam itu, pikiran mereka hanyut memikirkan anak-anak yang seiring waktu tumbuh begitu cepat. Utamanya Alfin, yang baru kemarin menangis karena dijahili Busyro yang merebut mainannya. Lalu, ada Khadijah yang selalu menjadi penengah untuk setiap keributan.
Hatinya berharap semoga ketiga anaknya selalu rukun hingga mereka kelak menghadap Tuhan sebagai manusia yang berhasil menjalankan amanah.
"Anak-anak semuanya udah dewasa, mereka punya kehidupan masing-masing. Anak-anak mereka yang lucu dan menggemaskan, jadi hiburan untuk hari tua kita. Rasanya, Umi ingin hidup lebih lama lagi supaya bisa menyaksikan tumbuh kembang cucu-cucu kita semua, Bi," cetus Aminah sembari mengusap kedua sudut matanya.
Tiada yang lebih dia inginkan selain daripada melihat anak-anak mereka tumbuh dengan baik. Yasir, Nisa, dan Naja, menyusul akan ada Alfin kecil sebagai penyempurna rumah.
Ahmad melirik sang istri, diraihnya tangan Aminah dan digenggamnya dengan kuat. Harapan yang sama tertuang di hatinya, hanya saja Ahmad tidak dapat mengucapkannya melalui kata.
Rasa sayang juga cinta yang ia miliki, murni dan tulus. Cinta yang tanpa pamrih, cinta yang tak mengharapkan balasan. Hanya mampu memberi dan memberi seolah-olah tak pernah merasa cukup.
Jangan sampai buah hati mereka kekurangan cinta juga pelukan dari keduanya. Ahmad merangkul bahu Aminah, wanita hebat yang telah memberinya tiga orang buah hati yang luar biasa.
Khadijah, tegas dan pintar. Pandai memimpin kedua adiknya, sebagai penengah ketika dua anak laki-laki itu memperebutkan sesuatu.
__ADS_1
Busyro, meski sering menjahili Alfin, tapi dia yang paling peduli pada adiknya itu. Dialah orang yang selalu panik dan cemas ketika Alfin sakit atau terjatuh hingga terluka.
Alfin, si bungsu yang suka berpetualang. Dua petuah yang dia dapatkan dari seorang sholih. Jalan yang buruk akan membawamu pada kemuliaan di dunia, jalan yang lurus akan membawamu pada kemuliaan di dunia dan akhirat, dan Alfin telah mencoba keduanya.