Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 114


__ADS_3

Pagi selepas subuh, Naina telah berada di dapur bersama para asisten. Ia ingin menyiapkan makanan pagi itu untuk semua anggota keluarganya, termasuk Alfin.


"Bi, papah sama mamah suka makan apa?" tanya Naina sembari memotong sayuran.


"Bapak sama ibu nggak pernah neko-neko, Non. Apa aja mereka makan, makanya kami kerja di sini betah. Mereka baik nggak pernah protes sama apa yang kami lakukan," jawab Bibi sejujurnya.


Naina mengangguk-anggukkan kepala, terlihat dari sikap mereka selama ia tinggal beberapa hari di rumah itu. Apapun yang terhampar di meja makan, mereka akan memakannya tanpa memprotes rasa apalagi memandang remeh pada makanan.


"Tapi kalo Non mau masak yang spesial, biasanya Bapak suka minta dimasakin rendang. Bapak suka makanan pedas dan berbumbu," lanjut Bibi menjelaskan kebiasaan Adrian saat meminta hidangan yang spesial.


"Oya? Kalo gitu aku mau buat rendang, soalnya suamiku juga suka, Bi." Dengan antusias Naina membuka pintu lemari es dan mengambil stok daging dari dalam sana.


Seperti seorang ahli, tangannya begitu lihai memotong-motong daging sesuai ukuran yang diinginkannya. Selepas itu, ia mulai meracik bumbu.


"Bi, santannya pakai yang instan?" Naina bertanya dari depan lemari es.


"Iya, Non. Nggak ada soalnya, tapi itu stok serundengnya ada di situ."


Naina mengambil sebuah kotak yang berisi kelapa goreng atau serundeng. Menghaluskannya setelah bumbu, kemudian mulai memasak makanan tersebut. Meski hanya belajar dari YouTube, tapi ia selalu merasa puas dengan hasil yang dia dapatkan.


Hingga matahari muncul dan naik sepenggalan, Naina baru menyelesaikan masakannya. Alfin muncul sembari mengendus-endus, mencium aroma makanan yang khas membuat perutnya keroncongan.


"Humairah!" Teguran lembut Alfin mengalihkan kepala Naina dari rendang yang sedang dicicipinya.


"Kenapa, Mas?" Naina kembali melihat wajan memastikan kadar kematangan makanan tersebut.


Alfin menggaruk kepala sambil melihat Bibi. Ingin mendekat pada Naina, tapi ia malu. Mengerti akan situasi sulit itu, Bibi berpamitan kepada Naina.


"Mas, cicipi, deh. Udah pas belum?" pinta Naina sembari menyendok sedikit kuah rendang.


Alfin mendekat, memeluknya dari belakang. Naina yang terkejut celingukan ke kanan dan kiri khawatir ada yang melihat. Alfin membuka mulutnya, menerima suapan Naina. Merasai makanan tersebut, seperti seorang profesional ia mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Udah pas, enak. Aku suka rasanya," komentar Alfin sembari mengeratkan dekapan dan mengecup pipi Naina.


Habsoh dan Adrian yang mencium bau masakan dari kamar, datang ke dapur bertujuan untuk melihat siapa yang memasak. Namun, sesampainya di sana, ia mendapati pemandangan indah yang disuguhkan sepasang pengantin baru itu.


Keduanya bersembunyi di dinding, beberapa saat memperhatikan sampai mereka memutuskan untuk meninggalkan kedua insan dimabuk asmara itu.


Alfin membantu Naina menyiapkan semua makanan, menghidangkannya di atas meja. Lengkap dengan gelas di masing-masing tempat. Keduanya kembali ke kamar, untuk menggantikan pakaian.


"Hari ini rapat di sekolah Halwa, kita datang sama-sama atau aku aja."


Alfin yang tengah memperhatikan Naina berganti pakaian terhenyak sejenak. Dia lupa undangan itu, keinginan untuk bersama selama seharian penuh harus tertunda karena acara sekolah itu.


Ia meneguk ludah kecewa, tapi mau bagaimana lagi? Sebagai orang tua mereka harus memenuhi undangan tersebut.

__ADS_1


"Kita sama-sama datang ke sana." Naina tersenyum mengangguk.


"Yuk!" Naina mengajak Alfin untuk turun ke bawah, sarapan bersama anggota keluarga.


"Kamu duluan, ya. Nanti aku nyusul," ucap Alfin.


Naina merapikan sejenak hijabnya kemudian berlalu lebih dulu keluar kamar. Sementara Alfin, terbaring lesu di atas kasur. Merenung memikirkan cara lain agar bisa berduaan lebih lama dengan sang istri.


Naina yang tengah menapaki anak tangga, mengernyit saat mendengar suara-suara ramai di ruang keluarga. Langkahnya terhenti, menajamkan telinga untuk dapat mendengar lebih jelas lagi.


"Sayang!" tegur Habsoh yang kebetulan hendak memanggil Naina.


"Mamah? Kenapa ada banyak suara-suara?" Naina bertanya bingung seraya melanjutkan langkah menuruni anak tangga.


"Iya, ada yang mau ketemu sama kamu," ucap Habsoh dengan senyum penuh arti.


"Siapa, Mah?" Naina tak ingat memiliki kenalan selain mereka dan juga Tiwi.


"Tiwi?"


Habsoh menggelengkan kepala.


"Terus siapa, Mah? Jadi penasaran." Naina gemas sendiri. Tak sabar ingin melihat siapa yang datang mencarinya.


"Mereka ...."


Bibir istri Alfin itu gemetar, matanya memanas, tubuhnya bergetar melihat Fathya yang muncul secara tiba-tiba.


"Fa-fathya?" lirihnya seraya melangkah mendekati gadis tersebut.


Fathya mengikis jarak, tersenyum menahan tangis yang memuncak.


"Kakak!"


"Fathya. Ya Allah!" Naina menyentuh kedua bahu Fathya, mengusapnya seraya memandangi seluruh tubuh remaja itu. Ia merengkuh Fathya, mendekapnya penuh kerinduan.


"Kakak kangen banget sama kamu," bisik Naina dalam pelukan.


"Aku juga kangen banget sama Kakak."


Beberapa saat mereka berpelukan, saling terhanyut dalam kerinduan. Naina menjauhkan tubuh, mengusap kepala Fathya yang sekarang tertutup dengan hijab.


"Kakak cantik pake kerudung kayak gini. Aku sempat pangling tadi, aku kira bukan Kakak," sanjung Fathya melihat penampilan Naina yang tertutup sempurna.


Istri Alfin itu tersenyum, bersyukur karena pertemuannya dengan laki-laki itu membawanya ke jalan hidayah.

__ADS_1


"Alhamdulillah, ini semua berkat wasilah suami Kakak." Naina tersenyum tak menyembunyikan apapun dari gadis kecil itu.


Fathya sedikit memberengut, kabar tentang pernikahan Naina ternyata bukan sekedar tipuan.


"Jadi, Kakak beneran udah nikah?" tanyanya sedih.


Naina menganggukkan kepala, merasa tak enak karena tidak memberitahu mereka.


"Nikah diam-diam aja, Kakak. Nggak ngasih kabar ke Jakarta," ketus suara Rayan yang muncul dari arah lain.


Naina membelalak senang saat melihat semua keluarga baik itu ada di hadapannya sekarang.


"Rayan!" Ia mendekati pemuda tampan itu, menyambut uluran tangan Rayan tanpa segan.


"Ibu!" Naina memeluk Seira penuh keharuan.


"Bagaimana kabar kamu, Nak?" Seira mengusap punggung Naina yang terus saja berguncang. Ia menangis haru dan bahagia, pada akhirnya dapat berkumpul kembali bersama keluarga itu.


"Nai baik, Bu. Ibu sendiri gimana? Sehat, 'kan?" Naina berbisik lirih, gemetar lisannya karena rasa haru yang menguap.


Mereka melepas pelukan saling menatap satu sama lain. Lalu, beralih pada Fatih, menyalami laki-laki itu.


"Ibu baik, dan kami semua baik. Alhamdulillah, sekarang kamu udah jadi istri. Nggak nyangka baru pergi beberapa bulan aja udah ketemu jodoh aja di sini," celetuk Seira menggoda Naina yang terlihat malu-malu.


"Alhamdulillah, Bu. Aku diterima baik oleh keluarga suamiku walaupun sempat terjadi kesalahpahaman, tapi semuanya sudah selesai. Alhamdulillah," jawab Naina penuh syukur.


"Di mana suami kamu, Nak? Kami juga mau kenal," tanya Fatih sembari melirik lantai dua.


"Di kamar, Pak. Nggak tahu lagi apa, aku disuruh duluan ke sini." Naina menghendikan bahu tak tahu.


"Kamu cantik, sayang. Ibumu pasti bangga," tutur Seira sembari mengusap kepala Naina. Wanita itu menggenggam tangannya, merasai kasih sayang Seira yang tanpa pamrih.


"Aamiin."


"Ayo, kita sarapan. Nai udah masak tadi subuh," ajak Naina menggamit tangan Seira menuju ruang makan.


"Humairah! Jam berapa rapatnya?" tanya Alfin sembari menuruni tangga, tangannya sibuk mengancingkan kemeja, mata tertunduk fokus sampai-sampai tak sadar jika di bawah sana ada beberapa pasang mata melotot ke arahnya.


Langkah mereka terhenti begitu suara Alfin terdengar, segera berbalik untuk dapat memastikan pemilik suara itu.


"Jam sembilan, Mas," jawab Naina tersenyum.


"Ustadz Alfin!"


Langkah laki-laki itu terhenti, mendongak dengan cepat.

__ADS_1


"Pak Fatih!"


__ADS_2