
Naina masih setia memandangi ponselnya, menunggu Alfin menghubungi. Ia menghela napas, menelusupkan wajah ke dalam bantal. Mencoba menepis hal buruk yang datang menyambangi hati dan pikirannya.
"Bodoh! Kenapa masih mau dikasih harapan palsu?" umpatnya pada diri sendiri. Naina memukul-mukul kasur melampiaskan kekesalan.
Menangis sedih, tapi ditahannya sebisa mungkin. Namun, sebuah notifikasi pesan yang masuk, menghentikan tangisnya. Naina takut-takut melirik siapa si pengirim. Tangannya gemetar, rasa cemas merundung ketika ia memikirkan isi pesan yang tak baik.
Udah tidur belum, Nai? Maaf, ya, kemalaman.
Bunyi pesan Alfin diakhiri emoticon senyum dengan kedua pipi merona. Naina beranjak duduk, mengusap air di matanya, dan mengetik pesan balasan dengan cepat.
Ia tersenyum, menjatuhkan tubuhnya kembali ke kasur. Bunga-bunga bertaburan di dalam hati, segala hal buruk yang sempat singgah, raib dengan sendirinya.
Berselang, nada dering ponsel pun berbunyi. Alfin menghubunginya. Naina berdekhem, menormalkan suaranya setelah beberapa hari berlalu tanpa mendengar suara pemuda itu, ia menjadi gugup.
"Assalamu'alaikum!" sapa Naina segera setelah mengangkat sambungan telepon.
"Wa'alaikumussalaam. Belum tidur?" sahut Alfin seperti biasa dengan suara yang lembut mengalun.
"Belum, kamu udah selesai?" Naina balik bertanya, menggigit bibir senang sembari berbalik menghadap langit-langit kamar.
Alfin berguling di gazebo, menghadap asrama tempat anak-anaknya bernaung dari panas dan hujan.
"Aku udah bilang sama orang tua aku soal kamu. Mereka pengen ketemu sama kamu, Nai," ujar Alfin memainkan telunjuk, membuat coretan abstrak di lantai gazebo.
Naina tersentak, tubuhnya terlonjak duduk dengan cepat. Wajah seketika memucat. Teringat akan penolakan yang dilakukan dua laki-laki dulu, bagaimana jika kedua orang tua Alfin juga menolak?
Naina terdiam untuk waktu yang lama, merenung memikirkan segala kemungkinan buruk yang akan menimpa kepadanya.
"Nai? Kamu masih ada di situ, 'kan?" Suara teguran Alfin menyentak lamunan Naina.
Ia menghela napas panjang, menormalkan keadaan jantungnya.
"Tapi sebelum itu, aku mau ngomong dulu sama kamu. Boleh?" pinta Naina dengan lirih.
__ADS_1
Berdegup jantungnya, rasa putus asa pun terus saja datang merundung hati. Sekarang, dia tidak terlalu berharap kepada Alfin. Untuk jaga-jaga supaya hatinya tidak terlalu sakit ketika ditolak lagi.
"Boleh, kita ngomong di gazebo sini aja, ya. Abis bagi-bagi makanan sama anak-anak," jawab Alfin sembari tersenyum membayangkan wajah polos Naina.
Gadis itu setuju dan dengan segera menutup telpon, kemudian termenung kembali. Ia melirik samping kanan tubuh, meraih gambar Lita yang dipasangnya di atas lemari.
"Ibu, gimana ini? Gimana kalo mereka menolak Naina lagi? Nggak ada Ibu di sini. Ke mana Naina menumpahkan kesedihan, Ibu? Nai butuh Ibu," ratapnya sembari bercucuran air mata.
Naina mendekap gambar tersebut dengan erat, menangis tersedu-sedu seorang diri di kesunyian malam. Rasa sakit itu selalu membuat dadanya sesak setiap kali datang menyapa. Tak ada Lita di sampingnya yang akan memberi semangat, juga dukungan dan doa tulus untuk menenangkan hatinya.
Ia menjatuhkan tubuh di kasur, berguling sambil terus mendekap gambar sang ibu. Larut dalam tangisan dan andai-andai bisa bertemu. Hingga rasa kantuk membawanya melupakan segala kesedihan.
****
"Nai, mau ke mana? Katanya libur?" tanya sang bibi ketika melihat Naina yang telah rapi berpakaian.
"Nai mau bantuin Alfin, Bi, di masjid. Bagi-bagi makanan sama anak-anak yatim di sana. Katanya, sekarang ada anak-anak dari beberapa kampung yang diundang," jawab Naina sembari merapikan kemeja panjang yang dikenakannya.
"Oh, gitu. Ya udah, tapi Paman udah berangkat," beritahu Sumiyati soal Asep yang sudah berangkat bekerja.
Naina tercenung saat sesuatu menyambangi pikiran. Ia mendatangi Sumiyati yang telah pergi kembali ke dapur untuk menanyakan sesuatu padanya.
"Bi! Mmm ... gimana kalo aku pake kerudung, ya? Pantes nggak?" tanyanya sembari menggigit bibir bagian dalam, tersipu malu.
Sumiyati terperangah mendengar pertanyaan Naina, berbalik kemudian tersenyum dan menangkup wajah keponakannya itu.
"Ayo! Kita coba di depan cermin," ajaknya dengan cepat menarik tangan Naina untuk masuk ke kamarnya.
"Kamu punya kerudung?" tanya Sumiyati antusias.
"Ada, Bi. Dulu pernah dikasih sama ibu Sei. Ntar, Nai ambil dulu," ucap Naina seraya membuka pintu lemari dan menarik kerudung pemberian Seira.
Masih terbungkus plastik dan rapi, belum disentuhnya. Sumiyati mengambil dengan segera dan membukanya. Sebuah kerudung yang bagus, dengan bahan yang halus. Sumiyati meraba permukaan kain tersebut, tersenyum puas.
__ADS_1
"Kerudung ini bahannya bagus, nggak bikin kamu kepanasan waktu makenya. Sini, Bibi pakein," ujarnya seraya membentang kain segiempat itu dan melipatnya menjadi dua bentuk segitiga.
Tak lupa menyelipkan sebuah jarum sebelumnya di baju daster yang ia kenakan. Sumiyati menggulung rambut Naina dan mengikatnya. Kemudian meletakkan kain tersebut di atas kepala Naina, menyatukan kedua sisinya di bagian bawah dagu gadis itu dan menahannya dengan jarum.
Sederhana saja, Kemudian menyematkan sebuah bros berbentuk bunga, di bagian tengah kerudung.
"Nah, selesai. Coba kamu nilai sendiri gimana menurut kamu?" tanya Sumiyati setelah menyelesaikan tugasnya menyempurnakan seorang Naina.
Gadis itu menelisik wajahnya di depan cermin, tidak ada yang berbeda. Hanya saja, kini dia jadi tertutup tak ada bagian tubuh yang terbuka. Naina tersenyum, berharap dalam hati semoga dapat istiqamah menjalankan syari'at Islam sesuai tuntunan.
"Bagus, ya, Bi? Coba dari dulu Nai belajar pake kerudung, pasti sekarang udah biasa," celetuknya sembari mendekati cermin melihat dengan jelas wajah yang terbalut kain itu.
Naina memegangi pipinya, membolak-balik ke kanan dan kiri, menilik setiap inci garis wajah barunya.
"Iya, bagus dan tambah cantik lagi. Nak Alfin pasti pangling lihat kamu," sahut Sumiyati sembari ikut menatap Naina dari balik cermin.
Ia bersyukur hati Naina terketuk untuk menyempurnakan agama dengan menutup aurat. Berharap dalam hati semoga tak hanya sekelip mata gadis itu memakainya. Mendengar nama Alfin, hati Naina mencelos.
"Ya udah, Bi. Nai berangkat, ya." Naina berbalik, menyalami tangan sang bibi seperti biasa.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalaam, hati-hati!"
"Iya, Bi!"
Naina mengenakan sepatunya, berjalan melewati gang menuju jalan besar. Sumiyati tampak senang, hari itu Naina bahkan terlihat lebih ceria dan cerah tentunya.
"Mudah-mudahan nak Alfin dan keluarganya bisa nerima kamu apa adanya, Nai. Kamu gadis yang baik, sholihah dan taat. Siapapun yang mendapatkan kamu sebagai istri, pasti beruntung. Zaman sekarang anak muda tahunya senang aja." Sumiyati bergumam lirih, berbalik dan menutup pintu kembali pada pekerjaannya.
Sementara Naina, merasakan hatinya menghangat. Ada kedamaian yang menyapa, juga rasa aman setelah mengenakan hijab tersebut. Ia menatap sekeliling, tak ada lagi mata-mata liar yang menatapnya penuh nafsu.
"Bismillahirrahmanirrahim! Aku berlindung pada-Mu, ya Allah, dari kejahatan makhluk-makhluk ciptaan-Mu." Naina melangkah mantap menyusuri jalanan besar sambil menunggu angkutan umum.
__ADS_1
Ia sudah meyakinkan hatinya untuk hari ini, menerima segala apapun yang akan terjadi dan membenahi semua yang salah.