
Di pendopo anak-anak Alfin duduk melingkar mengelilingi Naina, di hadapan mereka Aminah dan Ahmad menatap sedih gadis yang tengah menyusut air matanya itu. Naina menyudahi tangisan, merasa damai ketika ia melihat mata-mata kecil itu mengelilingi.
"Ibu nggak apa-apa?" tanya Halwa sambil menatap lekat wajah Naina yang sembab.
Mendengar panggilan itu, anak-anak yang lain lantas tercengang.
"Halwa? Kenapa kamu panggil Kak Naina ibu!" tegur salah satu anak perempuan yang usianya lebih tua dari Halwa.
"Kenapa? Ini emang ibu kita, kok," sahut gadis kecil itu dengan mata polosnya yang bersinar.
"Jangan serakah. Emang siapa yang bilang kalo Kak Naina itu ibu kita?" sambar yang lain bertanya pula.
"Halwa nggak serakah. Ayah sendiri yang bilang kalo ini ibu kita," jawabnya sambil menggeleng gemas.
"Emangnya kapan ayah bilang begitu?" Masih tak percaya pada ucapan Halwa.
"Tadi pagi. Ayah ajak Halwa ke tempat Ibu kerja. Iya, 'kan, Bu?" Mata kecil itu berbalik menatap Naina meminta persetujuan atas apa yang dia ucapkan.
Mendengar perdebatan itu, Naina tersenyum. Ia menganggukkan kepala membenarkan ucapan Halwa.
"Kamu pasti minta Ibu sama ayah. Iya, 'kan?"
Halwa menunduk sambil tersenyum malu-malu.
"Halwa nggak minta, kok. Halwa cuma tanya kapan ayah bawa ibu buat Halwa? Buat kita," ucapnya jujur sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Itu sama aja, Halwa. Gemas banget, deh." Sang Kakak mengepalkan tangan merasa gemas dengan tingkah adiknya.
Mereka semua akhirnya tertawa karena kepolosan gadis kecil itu. Termasuk Naina yang perlahan hatinya mulai merasa tenang. Berkumpul bersama mereka, memberikan rasa damai yang menghangatkan jiwa dan raga. Sepertinya, Naina akan menerima tawaran Alfin untuk mengasuh mereka.
"Nak, kamu nggak apa-apa, 'kan?" tanya Aminah sembari melirik pergelangan tangan Naina yang memerah.
Semua anak-anak terdiam, ingin mendengarkan bahwa ibu mereka baik-baik saja.
"Alhamdulillah, Nai nggak apa-apa, Umi. Tadi Nai sempat takut karena mau telpon Alfin nggak bisa. Hp Nai dijatuhkan dia ke lantai," jawab Naina teringat kejadian tadi yang hampir membuatnya gila.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalo gitu." Aminah merasa lega karena mereka datang tepat waktu.
"Sebaiknya kamu berhenti bekerja aja. Bukan apa-apa, tempat itu cuma bawa mudharat aja buat kamu. Nggak baik kalo kamu maksa buat nerusin kerja di sana," ujar Ahmad sambil menatap Naina.
Gadis itu menghela napas, padahal hanya tinggal menunggu hari saja untuknya mengundurkan secara resmi. Oleh karena kejadian ini, maka dia akan mengundurkan diri lebih awal.
"Iya, Abi. Sebenarnya Nai juga mau keluar dari sana. Cuma lagi nunggu awal bulan buat berhenti secara resmi, tapi karena kejadian tadi Nai mau ngundurin diri dari sekarang aja," jawab Naina dengan kepala tertunduk memandang tangan Halwa yang memainkan ujung kerudungnya.
"Yah, memang lebih baik dari sekarang. Umi khawatir dia akan semakin berani sama kamu nantinya," sahut Aminah membenarkan ucapan suaminya.
"Ibu, tangan Ibu merah. Apa rasanya sakit?" Pertanyaan dari Halwa mengalihkan perhatian semua orang.
Anak-anak menatap tangan Naina yang memerah sehingga membuat mereka tak berani menyentuhnya. Naina tersenyum, mengusap rambut anak bungsu Alfin dengan lembut.
"Nggak apa-apa, kok. Nanti juga udah nggak sakit lagi," jawab Naina sambil menahan sakit yang berdenyut-denyut di pergelangan tangannya itu.
"Coba bilang sama ayah kalian, ada salep buat memar nggak?" pinta Aminah pada salah satu anak yang paling besar.
Sigap, anak tersebut turun dari pendopo dan berlari ke masjid menemui Alfin. Laki-laki itu sedang terpekur di atas sajadah, menunduk sambil memainkan bulir-bulir kayu di tangan.
Ia melangkah pelan menghampiri mereka, duduk bersimpuh seraya menyalami keduanya.
"Ada apa? Kenapa panik begitu?" tanya Alfin mengusap keringat di dahinya.
"Tangan ibu memar. Kata nenek, Ayah punya salep buat memar nggak?" katanya.
Alfin terhenyak, teringat pergelangan tangan Naina yang tadi dicekal Anton. Ia beranjak, berpamitan pada Ustadz Hasan untuk pergi ke apotik.
"Kamu tunggu di sana, ya. Ayah ke apotik dulu," titahnya sambil menatap semua orang yang ada di pendopo. Tak sengaja matanya bertemu dengan manik Naina yang sendu. Ia memutuskan pandangan dan segera menaiki motor.
Di toko, Anton yang merasa kesal karena semua rencananya gagal masuk kembali ke ruangannya dengan membawa kekalahan. Dadanya terasa sesak karena emosi yang tak tersalurkan.
"Argh! Sial!" umpatnya sembari menepis apa-apa yang terdapat di atas meja kerjanya.
"Kenapa dia selalu beruntung? Aku cuma mau ngomong sama dia soal anakku, bukan mau ngapa-ngapain. Kenapa dia tetap nolak aku?" geramnya seraya memukul meja dengan kedua tangannya yang terkepal.
__ADS_1
"Memangnya siapa mereka? Berani-beraninya mengancam aku. Padahal Naina belum menjadi milik siapapun. Aku masih punya kesempatan untuk memenangkannya," ujarnya pada diri sendiri.
Ia terdiam, kembali menyusun rencana apa yang akan dia lakukan untuk ke depannya. Anton menatap lantai, di mana dokumen dan surat-surat penting lainnya bertabur di sana. Tak sengaja matanya melihat berkas milik Naina yang ikut terserak.
Gadis polos yang menarik perhatiannya sejak pertama kali menjabat sebagai manager di toko itu. Ia memungut berkas tersebut, memandangi foto Naina yang tampak polos dan apa adanya.
"Apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya sama aku, Naina? Aku suka sama kamu, tapi kenapa kamu malah memilih marbot itu? Apa istimewanya seorang pemalas kayak dia?" gumamnya sambil mengusap-usap gambar Naina menggunakan ibu jari.
Ia menghela napas, hatinya belum mau menyerah untuk memperjuangkan Naina. Dia harus mendapatkan gadis itu sebagai istrinya. Apapun akan dia lakukan, agar Naina bisa berada dalam pelukan.
"Aku akan mengalah kali ini." Dia memutuskan.
Menjatuhkan bokong pada kursi, memunguti surat-surat yang berserak dan menyusunnya kembali.
****
Alfin kembali dengan sebuah kantong plastik kecil di tangannya. Ia terus mendatangi pendopo ingin memeriksa keadaan Naina.
"Ini, Mi. Diolesin aja," katanya memberikan salep tersebut kepada Aminah.
"Biar aku, Ayah," sergah anak perempuan paling besar seraya mengambil kantong plastik tersebut.
Dengan telaten ia membuka lengan baju Naina sedikit. Semua anak meringis, termasuk Aminah melihat jejak lima jari melingkar di permukaan kulit gadis itu. Sekeras apa dia mencekal Naina?
Hati Alfin kembali memanas, tak bisa melihat orang yang disayanginya terluka seperti itu.
"Pelan-pelan, Kakak. Nanti Ibu kesakitan," ingat Halwa sebelum sang kakak mengoleskan salep itu ke tangan Naina.
"Iya, bawel. Kakak juga pelan-pelan," sahutnya gemas.
"Nggak apa-apa, kok. Ini nggak sakit," ucap Naina sambil tersenyum pada gadis kecil itu.
Halwa memeluk tangan Naina yang lain, melihat bagaimana sang kakak mengobati memarnya. Alfin terenyuh, mereka semua memang membutuhkan sosok ibu terutama Halwa.
Mungkin setelah mereka menikah nanti, Alfin akan membangun rumah di sana. Tinggal tak jauh dari anak-anaknya, supaya mereka tidak merasa kehilangan. Yah, itu rencananya. Mulai besok akan dimulai pembangunan untuk rumahnya kelak.
__ADS_1
"Maaf, apa saya menggangu?"