Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 126


__ADS_3

Beberapa saat sebelum kedatangan Alfin.


"Ayah, di mana ibu? Kenapa nggak dateng ke sini?" tanya Halwa yang sudah merindukan sosok Naina untuk bermain padahal, semalam mereka tidur bersama.


Alfin terkekeh seraya mengusap kepala gadis kecil itu.


"Ibu sedang belanja keperluan kalian, nanti akan pulang ke sini. Tunggu, ya. Mungkin sebentar lagi," jawab Alfin seraya bangkit dan berpamitan pada semua anaknya.


"Ayah harus pergi. Doakan semoga urusan Ayah lancar tanpa hambatan," pamit Alfin diaminkan semua anak-anak.


Ia pergi dengan terburu-buru karena jarum jam telah menunjukkan pukul dua siang.


"Aku harus cepat. Jika tidak klien pasti akan kecewa karena menunggu terlalu lama," gumamnya sambil menancap gas lebih dalam.


Kali ini, Alfin mengenakan kemeja lengkap dengan dasinya. Dia memiliki beberapa setelan jas juga kemeja dan sepatu di lemarinya. Menyempatkan diri berganti pakaian karena akan berhadapan dengan seorang pengusaha besar.


Sementara di restoran, mereka masih berbincang ringan perihal kontrak kerjasama yang akan mereka jalin. Yusuf berkali-kali mencuri pandang pada seorang wanita yang duduk di samping kliennya.


"Ini atasan saya, Pak Adrian namanya, dan itu putri beliau." Mansyur memperkenalkan atasannya kepada Yusuf.


Pemuda itu mengangguk, tersenyum manis saat bersitatap dengan gadis berhijab tersebut.

__ADS_1


"Saya Yusuf. Selaku sekretaris yang mewakili bosa saya. Beliau sedang ada urusan, mungkin sebentar lagi akan datang," ucap Yusuf yang pandangannya terus tertuju pada Naina.


"Ah, ya. Nggak apa-apa, Pak. Santai aja. Maklum orang besar memang selalu banyak kesibukan," sahut Mansyur memaklumi keterlambatan Alfin.


"Pah, apa orang sibuk selalu datang terlambat?" bisik Naina pada Adrian.


"Nggak selalu, sayang. Biasanya dia ada urusan lain yang nggak bisa ditinggalin. Papah denger bos mereka masih sangat muda dan belum menikah. Sama seperti sekretarisnya itu, dia selalu mencuri pandang sama kamu. Mungkin dia pikir anak Papah ini belum menikah," balas Adrian berbisik pula.


Naina tercenung mendengarnya, diam-diam menatap Yusuf yang dengan cepat mengalihkan pandangan. Dia terlihat gugup karena kedapatan mencuri pandang padanya. Naina menundukkan kepala, berpaling pada jendela. Menghindari tatapan Yusuf yang terasa lain.


Di parkiran, Alfin baru saja tiba. Ia buru-buru turun, mengunci mobil dan berlari memasuki restoran terbesar di kota itu. Merapikan penampilannya sebelum benar-benar mendekati meja yang dihuni oleh empat orang di sana.


"Assalamualaikum. Maaf, saya terlambat!" Suara Alfin terdengar sedikit serak lantaran berlari.


"Wa'alaikumussalaam. Nah, ini Bos saya, Pak." Yusuf berdiri memperkenalkan Alfin kepada tiga orang yang duduk di sana. Adrian dan Naina serentak menoleh begitu mengenali suara laki-laki yang baru muncul itu.


"Alfin?"


"Mas?"


Alfin tersentak, senyumnya hilang karena kejutan tak terduga itu. Mata mereka menjegil secara serempak, ada kaget, sekaligus senang yang tak dapat dijelaskan.

__ADS_1


"Papah? Humairah? Ka-kalian ...." Lisan Alfin kelu tak dapat berkata-kata.


Beberapa saat kemudian, tawa menggelegak memenuhi restoran.


"Maa syaa Allah! Ternyata kliennya menantu Papah sendiri," ucap Adrian begitu takjub dengan takdir Tuhan untuk keluarganya.


Mereka semua berdiri, Adrian memeluk Alfin dengan bangga dan menepuk-nepuk pelan punggung menantunya. Merasa gemas sendiri.


"Mas! Ini beneran Mas Alfin suamiku?" tanya Naina tak percaya. Melihat penampilan Alfin yang begitu lain, tak sama seperti yang biasa dia lihat dalam keseharian.


Alfin melepas pelukan Adrian, menghampiri sang istri seraya memeluknya.


"Kamu pikir siapa? Cuma karena penampilan Mas yang berbeda, kamu udah nggak ngenalin suami sendiri?" bisik Alfin menatap lembut manik Naina.


Ada yang patah hatinya, ada yang terluka tanpa berdarah. Yusuf patah semangat sebelum berjuang.


Naina tersenyum, tanpa dapat berkata-kata ia membalas pelukan Alfin.


"Jadi, beliau ini menantu Anda, Pak?" tanya Mansyur setelah mereka semua duduk di kursi masing-masing.


"Benar, Pak. Saya juga nggak nyangka kalo yang akan kita ajak kerja sama itu menantu saya sendiri." Mereka tertawa lagi. Kecuali Yusuf yang hanya tersenyum, hampir saja ia menyukai istri sang atasan.

__ADS_1


__ADS_2