Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 52


__ADS_3

"Kalo dia kerja lagi gimana?"


Mata Alfin seketika menjegil mendengar pertanyaan sang kakak. Ia membelalak tak senang, tapi Khadijah justru tersenyum-senyum kecil.


"Dia nggak akan kerja lagi!" tolak Alfin dengan tegas, melengos menghindari tatapan sang kakak yang menggodanya.


"Dia butuh kerjaan, Fin, buat bantu paman sama bibinya," ujar sang kakak membuat Alfin tertegun.


"Kalo kalian udah nikah, sih, nggak masalah. Kakak mau nawarin dia kerjaan yang lebih baik dan pastinya aman karena yang kerja di sana semuanya perempuan," ucap Khadijah antusias.


Alfin melirik, tapi belum menoleh ke arah sang kakak. Hatinya berat membiarkan Naina harus bekerja. Rasanya, ingin segera menikahi gadis itu dan mengekangnya di rumah.


"Di mana? Kerjaan apa?" tanya Alfin sedikit ketus.


Khadijah menghela napas, menatap sang adik yang tampak tak senang mendengar usulnya.


"Kamu tahu butik di seberang toko matrial itu? Toko matrial YANG BESAR ITU?" tanya Khadijah menekan dua kata terakhir ucapannya.


Ia menelisik wajah Alfin yang seketika menegang mendengar toko matrial besar disebut. Ia gugup sendiri, dan segan menatap sang kakak.


"Butik?" ulang Alfin sedikit gugup.


"Iya. Butik yang di seberang toko matrial YANG BESAR itu. TOKO BAROKAH," sahut Khadijah menekan kata yang membuat Alfin semakin salah tingkah.


"Oh, butik Umi? Emangnya butuh karyawan?" tanya Alfin kemudian.


"Mmm ... iya. Kemarin Kakak dari sana, dan pemiliknya bilang dia butuh karyawan tambahan buat gantiin yang lagi cuti hamil. Ya, cuma sebulan aja sampai kalian nikah. Nanti kalo udah nikah, itu terserah kamu," ujar Khadijah membuat Alfin gamang.


"Atau kerja di toko matrial itu aja? Kayaknya gajinya besar kalo di sana!"


Alfin mendelik lebar, sedangkan sang kakak tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Bercanda. Ih, galak banget, sih." Ia memukul lengan Alfin merasa lucu dengan ekspresi wajah sang adik yang terlihat marah.


"Kakak tahu nggak? Di sana itu yang kerja laki-laki semua. Nggak ada perempuan. Nggak mungkin aku biarin dia kerja di sana," cetus Alfin tegas dan penuh penekanan.


"Hei! Kok, kamu tahu di sana yang kerja laki-laki semua? Emang kamu pernah ke sana?" Khadijah mencolek bahu sang adik.


Menelisik wajah pemuda itu yang seketika terlihat gugup. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, salah tingkah sendiri.


"Ya-ya ... Alfin pernah ke sana buat beli bahan bangunan pas bangun asrama anak-anak," jawab Alfin menggigit lidahnya sendiri.


"Udah, deh. Nggak usah nutup-nutupin lagi. Kenapa, sih, kamu itu main rahasia-rahasiaan sama keluarga sendiri? Gemes banget." Khadijah menekan-nekan punggung Alfin dengan jari telunjuknya, merapatkan gigi gemas karena dia masih terus berkilah tentang toko matrialnya.


Alfin tertawa malu, melipat bibirnya sendiri karena rahasia yang selama ini dia sembunyikan akhirnya terbongkar.


"Kamu itu, ya, nggak bilang-bilang kalo sekarang jadi bos. Hebatnya adik nakal Kakak ini! Maa syaa Allah!" Khadijah merangkul bahu Alfin mengecup ubun-ubun sang adik dengan gemas.


"Apa, sih, Kak. Kakak tahu dari mana kalo itu punya Alfin?" Akhirnya pemuda itu menoleh pada sang kakak. Tersenyum simpul tak lagi menyembunyikan rahasianya..


Alfin tak dapat berkilah lagi, mungkin sudah waktunya semua keluarga mengetahui rahasianya.


"Alfin udah bilang sama mereka supaya nggak manggil Alfin dengan sebutan itu, tapi mereka tetep aja keukeuh." Alfin menggelengkan kepala.


Ia menghela napas, tak menyangka usaha yang dirintisnya dari nol akan sebesar seperti sekarang. Mungkin karena tujuan Alfin yang berbeda dari kebanyakan orang. Dia membangun usaha karena ingin membantu para ayah memiliki pekerjaan tetap untuk menghidupi keluarganya. Untuk itulah, toko tersebut diberkahi sesuai dengan namanya Barokah.


"Ngomong-ngomong Naina tahu nggak kalo kamu bos di sana?" tanya Khadijah penasaran.


Alfin menggelengkan kepala, ia segan memberitahu gadis itu karena terlanjur merasa nyaman dengan hubungan mereka yang saat ini. Naina tidak mempersalahkan pekerjaannya yang hanya sebagai marbot masjid dan pengurus anak-anak yatim. Semoga ke depannya, dia akan selalu mendukung apa yang dilakukan Alfin.


"Nggak, Kak. Dia belum tahu soal itu," ucap Alfin membayangkan Naina yang tak pernah membahas soal pekerjaan Alfin.


"Apa dia nggak pernah tanya soal pekerjaan kamu?" selidik Khadijah lebih dalam menatap wajah sang adik yang bersemu-semu.

__ADS_1


"Sekalipun dia nggak pernah tanya soal itu. Dia bahkan bilang nggak mau terima uang dariku kalo itu punya anak-anak ini. Dia sangat berbeda," tutur Alfin sembari tersenyum membayangkan wajah Naina saat merona.


"Oh, rupanya adik nakal Kakak ini sudah dimabuk asmara. Jatuh cinta memang begitu, tak kenal siapa yang dicintai tak mau tahu dari kalangan mana. Yang mereka tahu hanyalah cinta." Khadijah tergelak.


Alfin terkekeh, jatuh cinta terhadap Naina sangatlah berbeda. Tak seperti ketika ia jatuh cinta pada wanita lain.


"Katanya ada pekerjaan buat Naina, apa Kakak serius soal itu?" tanya Alfin menatap sang kakak serius.


"Iya. Mumpung masih anget, kalo nanti-nanti takutnya keburu ada yang menempati," jawab Khadijah.


"Ya udah, Kakak datengin aja ke rumahnya. 'Kan, Kakak udah tahu rumahnya di mana," ujar Alfin memberi saran pada kakaknya itu.


Khadijah tercenung, ia pernah mengantar Naina pulang meski tak sampai ke rumahnya.


"Iya, nanti Kakak ke sana. Kakak cuma mau minta izin dari kami aja dulu, takutnya kamu nggak rela. Kalo di sana, kamu bisa mengawasi Naina dari toko kamu itu," ucap Khadijah disambut senyum manis Alfin.


"Ya udah, Kakak pergi ke rumahnya dulu, ya. Jangan ngelamun terus, nanti juga ngalamin. Haha ...." Khadijah tertawa sembari beranjak dan masuk ke mobilnya. Berniat pergi ke rumah Sumiyati untuk menawari Naina pekerjaan.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata memperhatikan dari dalam jendela kaca. Manager Naina menatap kedua kakak adik itu dengan tangan yang mengepal. Berharap akan melihat Naina walau hanya di kejauhan.


Namun, berhari-hari berdiri di sana, tak sekalipun melihat sosok Naina berada di masjid itu.


"Apa pemuda itu yang melarangnya? Kurang ajar! Apa aku harus mendatangi rumahnya? Yah, harus aku coba," gumamnya seraya pergi dari jendela tersebut dan masuk ke dalam ruangannya.


"Vit, aku pergi sebentar. Kamu jaga toko dengan baik, ya," pamit Anton kepada penjaga kasir pengganti Naina, Vita.


"Iya, Bos," sahut Vita.


Anton pergi setelah menyematkan senyum pada wanita itu. Senyum pertama kalinya setelah Naina pergi meninggalkan pekerjaan. Vita tertegun, perubahan yang luar biasa. Atasannya bahkan tidak membentak mereka hari itu.


"Kenapa lagi sama si Bos?"

__ADS_1


__ADS_2