
Seorang laki-laki paruh baya berjalan di lorong rumah sakit sendirian. Setelan jas yang membalut tubuh, membuatnya tampak gagah dan terlihat lebih muda dari usia yang sebenarnya.
Ia mendatangi meja informasi dan bertanya tentang sebuah kamar. Adrian mengucapkan banyak terima kasih setelah mendapatkan informasi yang dia inginkan.
Dia berencana menjemput Naina dan akan mendatangi kantor polisi untuk melihat otak perencana kejahatan yang menjadikan putrinya korban.
Di ruangannya, Aminah masih menangis mengingat Alfin yang menyakiti dirinya sendiri.
"Maafin Umi, Alfin. Maafin Umi!" lirih Aminah tak henti air mata berderai dari kedua kelopak.
Amaliah yang tidak tahu apapun, sedikit mengerti tentang semua yang terjadi. Mungkin ada salah kata yang diucapkan Aminah dan didengar oleh Naina.
"Aku lihat Naina tadi di lorong. Dia berlari sambil menangis. Mungkin ada kesalahpahaman atau apa, Umi? Apa yang sebenarnya sedang menimpa keluarga kita?" tutur Amaliah sembari menatap sendu ibu mertuanya.
Aminah menggelengkan kepala, terlalu malu mengakui semua yang dia ucapkan. Hatinya menyadari ketidakpantasan tersebut. Pikiran mulai menyalahkannya, menyudutkannya karena lisan yang tak bisa dijaga.
"Nggak mungkin Naina nangis kayak gitu kalo nggak ada apa-apa, dan nggak mungkin Alfin sampai kayak gitu kalo nggak ada sesuatu yang menyebabkannya. Coba Umi pikir kenapa Alfin bisa ada di sini? Siapa yang membebaskannya? Untuk dapat bebas dari sana perlu sebuah jaminan, Umi. Siapa yang menjadi jaminannya?" Amaliah bergetar, jatuh air matanya bila teringat pada Naina.
Gadis itu baik meski terlahir dari sebuah kesalahan. Ia tak patut menerima semua hukuman yang diakibatkan kesalahan kedua orang tuanya.
Aminah tertegun sejenak, kemudian tangisnya histeris saat mengerti maksud dari pernyataan menantunya.
"Ya, Umi. Alfin kayak gitu kemungkinan Naina mengorbankan dirinya. Ini cuma dugaan aku aja, tapi semuanya bisa terjadi karena ada yang salah di sini. Naina gadis yang berhati mulia, Umi. Untuk itulah Alfin memilihnya," ucap Amaliah semakin mengiris hati Aminah.
Perempuan itu kemudian diam, membiarkan sang mertua larut dalam tangisannya. Ia berbalik miring, menjatuhkan kepala pada sandaran kursi. Membenamkannya di sana, meredam tangis yang menguar dengan hebat.
Sementara di luar, Adrian baru saja tiba di ruangan Aminah. Laki-laki itu berdiri di depan pintu, mengetuk dengan sopan sambil mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum!"
__ADS_1
Ia diam menunggu sahutan dari dalam. Sementara kedua wanita itu, tersentak mendengar suaranya. Tanpa melihat Aminah, Amaliah mengangkat wajah, mengusap air matanya sebelum beranjak untuk membuka pintu.
"Wa'alaikumussalaam!" Dahinya mengernyit melihat sosok gagah di depan ruangan Aminah yang tersenyum ramah.
"Maaf, Bapak siapa? Dan cari siapa?" tanya Amaliah dengan bingung.
Adrian masih tersenyum, dia laki-laki yang ramah.
"Maaf, saya mencari putri saya, Naina. Dia pamit sama saya mau ke rumah sakit ini menjenguk calon ibu mertuanya. Saya datang untuk menjemput," jawab Adrian masih berdiri di depan ruangan.
Jantung Amaliah berdegup kencang, detaknya memukul-mukul rongga dada menimbulkan sesak yang menghimpit. Ia gugup seketika, jawaban apa yang harus dia beri? Apa dia harus mengatakan jika Naina tak pernah datang, tapi dia melihat sendiri gadis itu.
"Emh ... maaf, Mbak. Apa Naina masih ada di dalam? Tolong bilang sama dia saya udah datang menjemput, soalnya saya telepon hp dia nggak aktif," tegur Adrian lagi menyentak lamunan Amaliah.
Istri Busyro itu mengangkat wajahnya, menatap Adrian sedikit tak enak.
Adrian manggut-manggut, bibirnya membentuk bulatan, tapi dahi berkerut heran.
"Oh, gitu. Kenapa dia nggak telpon dulu, ya. Katanya mau nunggu di sini sampai saya selesai kerja. Ya udah, makasih, Mbak. Maaf mengganggu istirahatnya. Assalamu'alaikum!" Adrian bergumam untuk kemudian berpamitan.
"Wa'alaikumussalaam!" Rasa bersalah datang mengerubungi hatinya. Amaliah menatap penuh sesal punggung laki-laki ramah itu.
Gumaman Adrian tentang Naina yang akan menunggu di rumah sakit mengiang bagai sebuah guntur yang menggelegar. Perih, sakit, apalagi jika tahu yang sebenarnya terjadi. Adrian sudah pasti akan kecewa.
Amaliah menutup pintu, berbalik dan menatap Aminah sedikit datar.
"Ayahnya Naina datang mau jemput anaknya di sini. Dia bilang Naina pamit mau menjenguk Umi, tapi gadis itu nggak pernah sampai di sini." Amaliah melengos, duduk kembali di sofa menahan getir di hati.
Aminah kembali tergugu, menyesali sikapnya yang tak mampu menjaga lisan juga hati.
__ADS_1
****
Sementara di mushola masjid, Khadijah membersihkan luka Alfin sepanjang dia bercerita.
"Astaghfirullah al-'adhiim! Ya Allah!" Ahmad mengusap wajah penuh penyesalan.
Rasa kecewa yang diciptakan Aminah perlahan mengikis kepercayaan dalam dirinya. Ia berbalik menghadap sebuah tiang, membenturkan kepala padanya karena kesal pada diri sendiri.
"Ini semua salah Abi yang gagal menjadi imam yang tegas. Salah Abi yang sudah menjadi nakhoda lemah. Ya Allah, ampuni dosa hamba."
Ahmad menangis, tak hanya dirinya. Khadijah dan juga Busyro merasakan kepedihan yang mendalam di hati.
"Kenapa, Bi? Kenapa Naina bisa sampai begitu? Alfin ngerasa nggak pantas menjadi imamnya. Dia terlalu mulia untuk seorang brandal kayak Alfin. Kenapa semuanya jadi begini, Abi? Padahal Alfin berencana menikahi Naina setelah selesai menjalani masa hukuman, tapi semuanya hancur. Semuanya hancur." Alfin tergugu, tangisannya menyayat hati Ahmad juga Khadijah yang mengetahui penyebab itu semua.
Busyro menatap lekat kakak juga abinya, dia tahu ada hal yang disembunyikan kedua orang itu. Ia bergulir menatap Alfin yang berderai air mata, betapa pilu hatinya mengingat kisah cinta Alfin yang dipenuhi ujian juga perjuangan.
"Ada yang Abi dan Kakak sembunyikan dari kita, Alfin. Aku menduga ini semua berkaitan dengan Umi," cetus Busyro membuat tangis Ahmad dan Khadijah semakin menjadi.
Alfin tertegun, memandang keduanya dalam-dalam.
"Apa yang dibilang Kakak itu bener, Abi? Apa Umi yang menyebabkan Naina pergi ke penjara dan menggantikan aku?" tuntut Alfin. Hatinya diliputi rasa kecewa, kecewa terhadap sikap orang yang sangat dia percaya.
"Umi kamu nggak bermaksud demikian, Alfin. Dia cuma nggak tega kamu ada di penjara. Dia cuma terlalu sayang sama anaknya. Sampai-sampai khilaf menjaga lisan. Jangan salahkan Umi, salahkan aja Abi yang lalai dalam menjaga keluarga," sahut Ahmad, tak ingin Alfin menyalahkan Aminah.
Pemuda itu menggelengkan kepala, rasa tak percaya semakin merundung hatinya. Wanita yang paling dia cintai, paling dia hormati, dan paling didengar ucapannya, bisa berbuat demikian.
Rasa kecewa perlahan semakin jelas terlihat di wajah putra bungsu Ahmad itu. Hal tersebut kian membuat jantung tuanya merasakan sakit. Dia sendiri bertanya, kenapa semua bisa menjadi seperti ini?
"Jadi seperti itu?!"
__ADS_1