
Alfin mengemasi beberapa barang yang diperlukan anak-anak juga Naina saat tinggal di rumah Aminah. Dibantu sang istri juga anak-anaknya yang besar.
"Mas, apa nggak apa-apa kita tinggal di rumah umi? Nanti ngerepotin," tanya Naina tak enak hati.
"Nggak apa-apa, sayang. Umi pasti senang, dulu Umi pernah bilang supaya bawa anak-anak menginap di rumahnya. Lagian mereka cuma tinggal berdua, kak Dijah sama kak Busyro udah sibuk sama keluarganya," jawab Alfin merapikan tas-tas tersebut dan menatap Naina.
"Nggak usah sungkan, umi sama abi juga orang tua kamu. Mas juga nggak enak kalo harus nitipin anak-anak di rumah papah, tapi bukannya mereka senang kalo anak-anak ada di rumah? Sama kayak abi juga umi." Ia tersenyum, Naina mengangguk semua itu memanglah benar.
Habsoh dan Adrian selalu antusias menyambut kehadiran mereka di rumah jika semua anak-anak itu akan menginap. Ia membantu Alfin membawa barang-barang ke mobil, memadukannya bersama milik anak-anak. Malam itu, mereka akan menginap di rumah Aminah.
Mereka berpamitan sekalian mengantarkan Bas kembali ke kantor. Alfin memeluk semua rekannya, bersyukur di dalam hati mereka ingin belajar agama. Ustadz Hasan memang orang yang tepat untuk mereka datangi.
"Ayah, kita akan menginap di rumah nenek?" tanya Halwa yang duduk di atas pangkuan Naina di belakang.
"Iya, sayang. Asrama kalian, 'kan, dipake kakak-kakak itu sementara. Nanti kalo mereka udah selesai belajar, mereka akan pulang ke kotanya dan barulah bisa kalian tempati lagi," jawab Alfin sambil tersenyum.
"Apa rumah ayah juga mereka pake? Kok, ibu ikut menginap sama kami?" tanya Salma sedikit heran.
"Yah, karena kebanyakan mereka itu laki-laki Ayah nggak mau Ibu kalian tinggal di sana. Ngerti, 'kan?" Tak perlu menjelaskan, bagi Salma dan anak-anak yang berusia remaja memahami kondisi tersebut.
"Apa mereka nggak akan bikin masalah di masjid?" tanya Bas cemas.
__ADS_1
"Aku tahu mereka kayak apa, Bas. Yah, kemarin itu cuma salah faham aja. Perempuan itu emang dari dulu ngejar-ngejar aku, tapi aku nggak suka walaupun dulu aku nakal ... aku tetap nggak suka main perempuan," ujar Alfin yang didengarkan Naina meski tak memperhatikan.
"Aku kira kamu sama nakalnya kayak mereka. Kamu tahu, 'kan, imagenya anak-anak punk itu kayak gimana? Mereka drug, mabuk, malak, dan ya ... hubungan bebas kayak gitu. Makanya daerah kita punya aturan kelompok itu dilarang masuk. Kamu juga dulu gitu, 'kan? Makanya nggak pernah pulang," ungkap Bas menguak masa lalu Alfin.
Laki-laki itu terkekeh, melirik Naina yang diam sambil sesekali bermain bersama anak-anak.
"Dulu itu selain karena peraturan, aku diusir abi, Bas. Abi mergokin aku lagi kumpul sama anak-anak itu, terus pas pulang malah diusir. Ya udah, tapi mereka nggak pernah tahu tujuanku bergabung di kelompok itu. Semua juga nggak tahu, termasuk kamu, 'kan? Kalian selalu berpikir aku termasuk salah satu dari mereka, tapi itu nggak masalah buatku. Apapun penilaian manusia, aku nggak terlalu peduli. Ini rahasia tangan kanan yang tangan kiri nggak boleh mengetahuinya."
Alfin tersenyum penuh misteri kala pemuda bertitel itu menoleh padanya. Benar, dulu Bas dan semua orang di daerah tersebut termasuk kedua orang tua Alfin menganggap dia adalah salah satu bagian dari mereka. Sampai detik itupun sebagian masyarakat di sana masih menganggap Alfin seperti mereka.
"Tapi aku mau tanya, deh. Kamu beneran nggak ngelakuin yang aku sebutin tadi? Ya, namanya jiwa muda yang pasti suka pengen nyoba hal-hal baru," tanya Bas karena memang seperti itulah anak muda yang selalu penasaran dengan hal baru.
Alfin tertawa renyah, menggelengkan kepala heran. Seburuk itukah penilaian mereka terhadap dia dan kelompok punk-nya?
Percuma menjelaskan, karena sekeras apapun menjelaskan mereka yang tidak percaya tetap tidak akan mempertahankan ketidakpercayaan mereka.
"Aku lebih milih diam, Bas, ketika ada orang yang terus menerus ngomongin aku ... karena diam adalah jawaban yang tepat untuk membungkam mereka yang banyak bicara." Alfin melanjutkan, kalimat sarkas itu sedikit menyindir hati Bas.
Dia terlalu banyak bicara, terlalu ingin tahu, padahal tidak percaya. Seketika saja Bas langsung terdiam, tak lagi bicara. Image buruk yang mereka sematkan pada seorang Alfin, telah melekat dalam pikiran mereka.
Naina melirik, membenarkan apa yang diucapkan Alfin. Teringat pada kisahnya sendiri yang sering mendapat hinaan kata-kata tak sedap atau pertanyaan yang tak mampu dijawab Naina. Bersama Alfin dia menemukan semua jawaban dari pertanyaan di hatinya.
__ADS_1
"Selamat bertugas, Pak polisi! Terima kasih atas bantuannya," ucap Alfin setelah menurunkan Bas di depan kantornya.
Pemuda itu hanya melambaikan tangan tanpa menyahut dengan ucapan. Ia segera berbalik dan masuk ke dalam kantor begitu mobil Alfin melaju. Duduk sambil termenung memikirkan kalimat yang baru terlontar dari lisan sahabatnya.
"Yang, dulu kamu tinggal di Jakarta. Udah pasti kelompok itu banyak banget di sana. Menurut kamu sendiri, mereka itu gimana?" tanya Alfin melirik pada istrinya.
Naina beranjak, menurunkan Halwa ke kursinya. Lalu, berpindah tempat duduk di samping Alfin.
"Gimana, ya? Dulu, aku pernah mergokin mereka ... nggak sengaja, sih, waktu mau berangkat kuliah. Ada perempuan, ada anak-anak juga, lho. Gimana, ya? Mereka itu ... aku, sih, nggak tahu ngapain, tapi kayak yang teler gitu. Ketawa-ketawa, pokoknya nggak jelas." Naina mengangkat bahu tak tahu.
"Itu kalo dilihat di mata aku, ya. Yang sebenarnya aku nggak tahu mereka ngapain," lanjut Naina menerangkan. Ia memang tidak tahu apa yang sedang dilakukan kelompok itu, yang dilihat matanya hanyalah sekelompok orang yang hilang setengah kesadarannya.
"Ya, kamu bener, sayang. Mas sendiri pernah mergokin beberapa dari mereka yang kayak gitu. Mereka lagi pake benda terlarang, tapi kamu percaya sama suami kamu, 'kan?" ucap Alfin berharap Naina tak sama seperti yang lainnya yang menilai dia sama.
"Aku percaya, kok. Aku percaya Mas nggak kayak mereka." Ia meraih tangan Alfin dan menggenggamnya.
Hati laki-laki itu menghangat, menarik tautan tangan mereka dan mencium punggung tangan sang istri. Salma dan yang lainnya tersenyum melihat kemesraan yang ditunjukkan suami istri itu.
Mudah-mudahan Ayah dan Ibu bahagia selamanya. Ya Allah, kami mau adik bayi yang lucu.
Salma melangitkan doa penuh ketulusan. Berharap kebahagiaan untuk keduanya, mereka orang-orang baik yang memiliki hati tulus. Menyayangi dia dan adik-adiknya selayaknya anak sendiri.
__ADS_1
Aamiin.