
Seperti punuk merindukan bulan. Gadis itu berdiri termenung di dekat jendela, menatap hilir mudik manusia yang tiada habisnya. Kepala bersandar pada tiang, kedua tangan dilipat di perut, memeluk tubuh sendiri.
Sesekali tangannya terangkat menghapus air yang tiba-tiba jatuh dari mata. Teringat nasib diri yang selalu dipermainkan perasaan. Apakah cinta memang selalu melakukan hal itu? Datang membawa bahagia, dan pergi meninggalkan derita.
Seperti malam kelam tanpa bintang, seperti itulah hati Naina saat ini. Hampa, sunyi, lagi-lagi harus menerima kenyataan bahwa takdir mempermainkan kisah cintanya. Khadijah berpamitan pulang karena ada keluarga yang harus diurusnya. Alfin? Entahlah, Naina mencoba untuk tidak memikirkannya.
Dia sendirian, hanya bertemankan sepi. Dalam kesendirian, ia mencoba untuk menggenggam asa, menyimpannya dalam hati. Menumbuhkan semangat yang telah hancur berkeping-keping. Ia memilih bergeming ketika derit pintu terdengar.
"Nai!" tegur Sumiyati, tangannya menepuk lembut bahu Naina menyadarkannya dari lamunan.
Naina menoleh, memaksa bibirnya untuk tersenyum.
"Udah makan? Ini Bibi bawakan kesuksesan kamu. Makan, yuk!" ucap Bibi sambil mengangkat rantang makanan yang dibawanya.
Naina kembali tersenyum, mengikuti Bibi menuju ranjangnya kembali. Langkah Naina terhenti di saat ia berbalik, dan melihat seorang laki-laki paruh baya yang sedang menatapnya.
"Siapa laki-laki itu, Bi?" tanya Naina menunjuk ragu padanya.
Bibi menghela napas, mereka butuh waktu berdua untuk saling menjelaskan.
"Bicara aja sama dia, Bibi keluar dulu." Sumiyati hendak pergi, tapi tangan Naina mencekalnya dengan tiba-tiba.
"Bibi di sini aja. Nai takut, Bi," rengek Naina memperkuat cekalan tangannya.
Sumiyati tersenyum, menepuk lembut tangan Naina di lengannya. Ia berujar untuk menenangkan gadis itu, "Nggak apa-apa. Nanti Nai juga tahu sendiri. Bibi sama Paman nunggu di luar. Kalo ada apa-apa tinggal teriak aja, ya."
Naina ragu juga takut berada dalam satu ruang tertutup bersama seorang laki-laki asing. Namun, anggukan kepala Sumiyati meyakinkan hatinya.
Bayangan kelam malam itu, malam tragedi yang nyaris merenggut kehormatannya kembali melintas dan menghantui. Naina memilih berdiri di tempatnya, tak sejengkal pun ia mendekat.
Tangannya yang lembab dimainkan, tubuhnya tegang dan waspada. Laki-laki di sana meringis sedih dalam hati, menggeram marah pada orang yang telah membuat anaknya menderita.
Aku nggak akan tinggal diam, akan aku cari tahu siapa dalang dibalik kejadian itu.
__ADS_1
Hati Adrian mengancam, Sumiyati telah menceritakan semua yang terjadi pada Naina saat di perjalanan tadi.
"Si-siapa ka-kamu?" tanya Naina terbata.
Kaki Adrian melangkah, dan Naina secara refleks mundur.
"Nggak! Jangan mendekat! Jangan mendekat!" pintanya dengan kedua tangan terangkat.
Adrian menarik langkah kembali, mundur semakin menjauh. Ia tak ingin membuat gadis itu ketakutan terhadap dirinya. Melihat itu, Naina merasa sedikit lega, tapi masih tetap waspada.
"Saya Adrian. Saya adalah orang yang paling bertanggungjawab atas semua yang terjadi sama kamu juga ibu kamu. Tolong, maafkan saya," ucap Adrian, matanya berpijak pada kedua manik Naina yang ketakutan.
Sungguh miris anaknya itu.
"Ke-kenapa?" Ia kembali bertanya dengan bingung. Menatap intens wajah laki-laki yang tak lepas dari menatapnya.
Kening Naina mengernyit saat menyadari sesuatu. Garis wajah yang dimiliki laki-laki itu nyaris serupa dengannya. Ia merasa sedang bercermin dalam sebuah keajaiban.
"Si-siapa sebenarnya kamu?" tanya Naina lagi, ketegangan yang ia rasakan dalam hati perlahan pergi.
Ia menahan gejolak dalam hati, yang perlahan menyalurkan rasa panas hingga menyentuh kedua mata. Jakunnya naik dan turun dengan berat, untuk meneguk ludah pun ia kepayahan.
Tubuh Naina menegang kembali, air mata tanpa sadar jatuh. Seseorang di sana adalah salah satu harapan dalam hidupnya.
"Pa-papah?" ulang Naina tak percaya.
Laki-laki itu menggigit bibir, menahan air mata yang terus mendesak. Kepalanya mengangguk kecil, menjawab kebingungan Naina.
"Pa-papah?" Lisan Naina bergetar saat kembali mengulang kata itu.
Tubuh Naina termundur hingga menabrak dinding, meluruh ke lantai sambil menutupi wajah menangis.
"Papah?" ulangnya berkali-kali di sela-sela isak tangis yang terus menyeruak.
__ADS_1
Tubuh laki-laki itu bereaksi, tapi ia masih menahan diri untuk tidak mendekati Naina. Air matanya ikut jatuh membasahi pipi, berpaling muka tak tega melihat sang anak menangis.
"Papah? Ibu, aku menemukannya. Aku menemukannya." Hati Naina bergetar, isak tangis yang terdengar semakin lama semakin membuat sesak.
"Naina!" panggil laki-laki itu, ragu kedua kakinya ingin mendekat, ingin mendekap tubuh berguncang itu dan memberinya rasa aman.
Naina membuka kedua tangan, menatap wajah laki-laki di sana dengan matanya yang basah.
"Naina!" panggilnya lagi, betapa dia ingin mendekat.
Gadis itu bangkit perlahan, melangkah dengan pelan. Sesekali tangannya akan berpegangan ketika tubuh hilang keseimbangan.
"Papah? Apa kamu benar-benar papah aku?" tanya Naina ketika tiba di hadapan laki-laki itu.
Mata mereka beradu, saling menelisik, saling menumpahkan kerinduan. Adrian merogoh saku jas bagian dalam, mengeluarkan selembar foto darinya. Ia memberikan foto tersebut kepada Naina. Gadis itu menangis, itu adalah gambar Lita muda yang tampak tersenyum bahagia, di sampingnya laki-laki itu berdiri dan mengecup pelipis sang ibu.
Naina membekap mulutnya sendiri, air mata terus menganak sungai seiring perasaan yang tak terkendali. Ia mengangkat wajahnya kembali, mematri tatapan pada laki-laki di depannya.
"Papah?" panggilnya sekali lagi.
Adrian mengangguk, air mata yang menjatuhi pipi laki-laki itu menandakan perasaan yang sama seperti yang dirasakan hati Naina.
"Papah!" Naina menjatuhkan tubuh ke dalam pelukan laki-laki itu. Dia tahu mereka bukan mahram, tapi biarlah. Dia merindukan sosok itu, sosok seorang ayah yang selalu melindungi anak gadisnya. Sosok yang seharusnya menjadi cinta pertama dalam kehidupan seorang anak gadis.
Keduanya menangis dalam keharuan yang mendalam. Adrian membalas pelukan Naina, mengecup ubun-ubun gadis itu berulang kali. Perasannya murni, seperti seorang ayah kepada anaknya.
"Maafkan Papah, Nak. Semua yang terjadi sama kamu adalah karena kesalahan Papah. Kamu harus menanggungnya sendirian. Maafkan Papah. Mulai sekarang, Papah akan selalu ada buat kamu. Jangan pernah merasa sendirian lagi," ungkap Adrian dengan hati yang teriris pilu.
Naina tidak menyahut, terlalu kelu lidahnya untuk berkata. Ia hanya ingin menangis, menumpahkan segala kerinduan yang dipendamnya sendiri.
Beberapa saat lamanya, mereka terhanyut dalam pertemuan setelah dua puluh tahun lebih tidak bersua. Adrian berjanji akan menjaga Naina dengan nyawanya, demi tanggung jawab yang terabaikan di masa lalu.
Ia melepas pelukan, menangkup wajah Naina dengan kedua tangannya. Mengusap air mata gadis itu yang tak henti berderai. Ia tersenyum ketika Naina menatapnya.
__ADS_1
"Kamu makan dulu, ya. Biar cepat sembuh, Papah ingin mengajak kamu berjalan-jalan untuk menebus waktu yang berlalu dengan sia-sia," ucap Adrian yang dipatuhi Naina.
Gadis itu tersenyum, mengangguk pelan. Duduk ditepi ranjang, makan disuapi Adrian. Sumiyati dan Asep yang mengintip di luar, tersenyum haru melihat keduanya. Wanita sepuh itu bahkan meneteskan air mata, tak kuasa menahan luapan emosi dalam dada.