Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 154


__ADS_3

"Salma?" panggil Alfin pada putri sulungnya. Ia berpapasan dengan remaja itu sepulang dari masjid dan Salma tengah menyapu halaman asrama di pagi buta.


"Ya, Yah!" Remaja itu menoleh.


"Sini, Nak!" Alfin melambai dan menepuk gazebo di sampingnya.


Salma berlari tanpa meletakkan sapu, duduk di samping ayahnya menunggu apa yang hendak dibahas. Alfin memandangi wajah itu dengan lekat, bocah ingusan dan kumal yang ia temukan di tempat sampah kini sudah beranjak remaja. Cantik dan memiliki bakat yang luar biasa.


"Kenapa, Yah?" tanya Salma bingung ketika Alfin hanya memandanginya tanpa berkata apapun jua.


Laki-laki itu mengusap kepala Salma, mengelus pipinya dengan lembut.


"Kamu udah gede sekarang. Udah remaja, mungkin tiga atau empat tahun lagi akan ada pemuda yang meminang kamu." Alfin tersenyum, ketentuan ketika memiliki anak gadis.


Salma diam, mematri pandangan pada sosok laki-laki baik yang telah merawatnya dengan ikhlas. Terbayang, pada pertemuan pertama mereka kala itu.


****


Sesosok kecil tengah mengais-ngais tumpukan sampah ketika Alfin bersama gengnya melintas di jalanan kota. Pakaian lusuh dan robek-robek, kulit hitam dan kotor, entah laki-laki atau perempuan, sosok tersebut tidaklah jelas. Bersamanya dua anak yang lain dalam kondisi yang sama.


Alfin memutuskan berhenti dan membiarkan semua kawanan meninggalkannya. Ia iba melihat ketiga anak yang tak segan menginjak-injak tumpukan sampah. Laki-laki berpakaian ala anak metal itu mengintip, karung-karung besar tersampir di bahu ringkih mereka. Di tangan kanan memegang sebuah tongkat kayu yang mereka gunakan untuk mengorek sampah.


"Udah banyak ini. Nanti kalo kepenuhan berat bawanya," ujar salah satu dari mereka kepada dua temannya.


Mereka bertiga berjalan meninggalkan hamparan sampah. Terus berjalan beriringan membuat Alfin penasaran.


"Ya Allah, seharusnya mereka menikmati masa kanak-kanak. Sekolah dan bermain, bukan di tempat kayak gini," gumam Alfin memandangi punggung ketiganya yang semakin menjauh.


Ia mengikuti jejak kaki kecil mereka sampai di sebuah penampungan, kemudian setelah menjual hasil pencarian mereka, ketiga anak itu kembali keluar dengan wajah sumringah. Uang yang tidak seberapa di tangan mereka penyebabnya.


"Di mana orang tua mereka? Kenapa dibiarin mencari uang di tempat kotor?" Alfin kembali bergumam, melanjutkan langkah mengikuti mereka.


Ketiganya membeli sebungkus nasi tanpa lauk, hanya tempe goreng dan pergi ke bawah jembatan. Di atas sebuah dus yang dibentangkan, mereka duduk dan menikmati makan siang tanpa mencuci tangan.


"Astaghfirullah al-'adhiim!" Alfin merasa berdosa karena di sekitarnya masih ada orang-orang susah seperti mereka. Dia bertafakur setelah pulang dari sana. Saat itu Alfin baru merintis usaha matrialnya dan belum sebesar sekarang ini.

__ADS_1


"Suf, tolong bangun sebuah asrama di lahan yang aku beli."


"Buat apa, Bos?" tanya Yusuf bingung. Permintaan Alfin terlalu tiba-tiba dan toko matrial mereka belum seramai sekarang ini.


"Aku mau buat tempat tinggal untuk anak-anak di jalanan," jawab Alfin teringat pada tiga anak yang dilihatnya, "bangun juga masjid sekalian di sana. Aku udah capek di jalanan," lanjut Alfin semakin membuat bingung Yusuf.


"Tapi, Bos. Sebulan ini aja kita belum mengeluarkan barang, nggak ada yang dateng buat beli di sini. Nggak ada pemasukan, terus kalo barang-barang dipake buat bangun masjid sama asrama, nanti yang ada habis semua. Jangankan untung, modalnya saja hilang."


Menyedihkan, begitulah awal-awal Alfin merintis usahanya.


"Nggak apa-apa, Suf. Kalo memang Allah masih berkehendak atas usaha ini, insya Allah, Allah akan datangkan pembeli." Alfin meyakinkan mereka.


Selama beberapa bulan, karyawan Alfin membangun masjid juga asrama. Dengan barang-barang yang terdapat di toko matrial. Sementara Alfin mengawasi anak-anak itu. Bangunan hampir selesai ketika semua barang-barang di toko pun hampir habis tak bersisa.


Alfin berdiri memandangi toko yang nyaris tak berisi.


"Ya Allah, sesungguhnya semua ini datang dari-Mu dan akan kembali pada-Mu jua. Aku yakin Engkau Maha Kuasa, tidak akan membiarkan hamba-Nya terlunta." Alfin meneguk ludah.


Ia membungkuk hendak mengangkat sekarung semen ketika seorang pelanggan datang untuk membeli barang matrial. Entah dinamakan apa, tapi dari barang yang sedikit itu Alfin bisa memutar uangnya kembali, bahkan asrama dan masjid selesai dibangun.


"Assalamu'alaikum, Adik-adik!" sapa Alfin membuat ketiga anak itu bangkit dengan cepat.


"Wa'alaikumussalaam!"


"Udah makan?"


Mereka menggelengkan kepala. Alfin menangis dalam hati melihat kondisi mereka. Ia tersenyum di bibir, memberikan bungkusan tersebut.


"Habiskan, jangan lupa cuci tangan dulu." Alfin duduk di hadapan mereka, memandangi ketiganya makan dengan lahap.


"Di mana orang tua kalian?"


Mereka kembali menggelengkan kepala. Entah lupa atau tidak tahu, yang pasti ketiganya tidak menjawab di mana.


"Mau ikut sama Kakak? Tinggal sama Kakak, jangan di sini. Kalian bisa sekolah, punya pakaian bersih, bisa main," tawar Alfin sambil tersenyum.

__ADS_1


"Mau, Kak!" Wajah-wajah sumringah itu membentuk senyuman di bibir sang pemuda. Malam itu juga, Alfin membawa mereka ke asrama. Memandikan anak-anak itu, dari sanalah ia tahu jika salah satu dari mereka perempuan.


"Tunggu! Nanti, ya!" sergah Alfin saat Salma menanggalkan semua pakaiannya. Ia mendekat, dan memasangkan kembali pakaian itu ke tubuhnya.


Alfin meminta bantuan kepada istri ustadz Hasan untuk membantu memandikan Salma.


****


"Salma masih ingat malam itu waktu ayah pakein baju Salma lagi, Salma kira ayah nggak mau ngurus anak perempuan," ujar Salma sambil melipat bibirnya.


Alfin tersenyum, melepaskan tangan dari kepala si Sulung.


"Ayah nggak tahu waktu itu kalo kamu perempuan. Jadi, Ayah minta bantuan umi (istri ustad Hasan) buat mandiin kamu. Gimana perasaan kamu waktu pertama kali tinggal sama Ayah di sini?" tanya Alfin masih dengan senyum yang sama.


Bibir remaja itu pun tertarik ke atas membentuk senyuman.


"Salma senang, bahagia. Nggak perlu lagi ngais-ngais sampah buat beli makan, di sini juga Salma bisa melanjutkan sekolah lagi. Salma nggak tahu apa Salma bisa membalas kebaikan Ayah?" Gadis remaja itu tiba-tiba tergugu, menunduk sambil mengusap-usap matanya.


Alfin berpaling, melipat kedua bibir menahan tangis yang menyeruak ke permukaan. Lalu, menarik tubuh Salma ke dalam pelukan. Mencium ubun-ubunnya seperti anak sendiri.


"Kamu bisa membalasnya, sayang, dan kamu memang harus membalasnya agar perjuangan Ayah nggak sia-sia." Alfin melepas pelukan. Pandang mereka beradu lama.


"Gimana caranya, Ayah?" tanya Salma sesenggukan.


Alfin kembali mengusap kepalanya, tersenyum meyakinkan Salma juga hatinya.


"Kejar cita-cita kamu, jadilah seperti apa yang kamu mau. Bentangkan sayapmu selebar mungkin, kepakkan dengan kuat. Terbang bebas di langit, tapi kalo kamu lelah menukiklah dan kembali. Ayah akan membuka lebar kedua tangan untuk menyambut kamu," ujar Alfin bersungguh-sungguh.


Salma mencerna kalimat sang ayah, menduga maksudnya, tapi dia hanya diam saja.


"Kamu mau sekolah di Jakarta? Ikut sama tante Biya? Di sana kamu bisa mengembangkan bakat," tanya Alfin dengan berat hati.


Salma bungkam, di sisi lain dia memang sangat ingin pergi, tapi sebagian hatinya tak ingin meninggalkan Alfin. Dia ingin menemani ayahnya itu sampai menua.


"Terus Ayah gimana? Salma nggak mau ninggalin Ayah. Salma mau sama Ayah aja." Salma berhambur ke dalam pelukan Alfin, menangis tak ingin berpisah dengan ayahnya.

__ADS_1


Ya Allah!


__ADS_2