
Wanita di dalam ruangan itu, duduk gelisah di hadapan cermin besar. Riasan natural yang dipoles di wajahnya, tak dapat menutupi kegugupan yang melanda hati.
"Santai, Naina. Kamu udah nikah sama Alfin." Dia memberi semangat pada diri sendiri, tapi itu belum cukup.
Kedatangan keluarga besar Alfin untuk melakukan prosesi lamaran tetap membuatnya gugup sekalipun malam pertama telah mereka lewati tanpa gangguan. Jemarinya saling meremas satu sama lain, sesekali akan menggigit bibir. Menekan rasa gugup yang melanda hati.
"Gimana kalo belum nikah coba?" Dia kembali bergumam.
Di tengah kegelisahannya itu, sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Menyita perhatian Naina dari memikirkan kedatangan keluarga Alfin. Ia mengernyit ketika laki-laki itu mengirimkan sebuah gambar. Tersenyum bibirnya melihat gambar sang suami bersama anak-anak di masjid.
Perlahan hatinya mulai menemukan ketenangan ketika membaca deretan kalimat yang ditulis Alfin, yang membuat pipinya merona.
Humairah ... rona di pipimu selalu membuatku ingin menggoda, merayu, memuja, menyanjungmu agar aku selalu dapat melihatnya. Karena itulah aku memanggilmu Humairah. Seperti Rasuulullaah yang menyukai rona merah di pipi sayyidah Aisyah.
Yaa Habiibati qalbii ... engkau laksana rembulan yang menabur cahaya di kegelapan malam. Laksana bintang gemintang yang menari dalam kelip. Laksana pelangi menorehkan warna-warni indah dalam hidupku.
Ya zaujatii ... yaa qalbii ... engkaulah setetes air yang mampu menghapus dahagaku. Sepotong roti yang menghilangkan laparku. Engkau laksana tali kekang yang mengikat nafsuku. Engkaulah pelindungku. Sebaik-baik pelindung dari kejahatan hawa nafsu.
Wahai sang pelita hati ... disaat engkau mendekat, maka engkau akan melihat kasihku lebih dekat denganmu. Disaat engkau menjauh, kau akan tetap melihat kasihku berada di dekatmu. Aku mencintaimu, Naina, istriku, Humairahku, kekasih hatiku.
Sederet puisi yang dikirimkan Alfin lewat pesan singkat itu, menitikan air mata Naina tanpa sadar. Tangannya bergetar, ingin menulis sesuatu, tapi ia tak mampu merangkai kata.
Notifikasi itu masuk lagi, pesan dari laki-laki yang sama.
Kirimin gambar kamu, sayang. Aku kangen.
Naina tersenyum, tapi air tetap jatuh dari matanya. Ia menghapus air di pipi, mengangkat ponsel memasang kamera. Membentuk senyuman paling manis khushushon untuk suami tercinta.
"Maaf, aku nggak bisa merangkai kata. Aku mencintaimu, suamiku. Sangat mencintaimu. Cuma itu yang bisa aku tulis."
Pesan terkirim, Naina menunggu dengan hati yang bergetar. Pesan balasan kembali masuk, rasanya Naina ingin memeluk tubuh Alfin saat itu juga.
__ADS_1
Kutundukkan pandangan, demi engkau wahai bidadari hatiku. Kamu cantik banget, sayang. Aku pengen peluk cium kamu.
Naina tertawa kecil, merasa gemas dengan isi pesan suaminya. Ia tertegun saat mendengar suara deru mobil di halaman rumah. Naina beranjak dari meja rias, mendekati jendela. Membuka tirainya sedikit untuk dapat melihat sang Arjuna datang.
Hatinya mewanti-wanti, menghitung dan memperhatikan tanpa berkedip. Mobil pertama, Busyro dan keluarganya. Mobil kedua Fahmi dan keluarganya.
"Tiwi? Mmm ... kangen sama kamu, Wi!" Naina memekik melihat sahabatnya turun dari mobil Fahmi.
Mobil ketiga, Ahmad beserta Aminah dan dua orang yang belum dikenal Naina. Senyum di bibirnya pupus, mengingat sosok Aminah yang sempat membencinya. Apakah dia benar-benar telah menerima semua yang terjadi? Atau hanya terpaksa saja.
Suara deruan mobil yang terakhir kembali mengambil alih perhatian Naina. Senyumnya muncul kembali, melihat anak-anak itu turun dari mobil dan berjalan menyusul semua orang.
"Di mana kamu, Mas?" gumam Naina menggigit bibir mencari sosok Alfin.
Laki-laki itu muncul mengenakan kemeja batik dengan celana katun juga sepatu. Ketampanan juga kegagahannya, membuat pipi Naina kembali merona. Alfin mendongak, berkedip mata saat melihat sosok sang istri di jendela.
Naina melengos, bersembunyi di balik tembok sembari menutup tirai. Ia menengadah sambil memegangi dadanya yang naik dan turun. Alfin menggeleng, menyusul semua orang masuk ke dalam bersamaan dengan Naina yang turun.
"Wa'alaikumussalaam!" seru mereka serentak.
Di dalam, dua keluarga besar bertemu, saling berhadapan. Adrian dan Habsoh berdiri menyambut, bersama Seira dan Fatih. Di antara mereka seorang wanita yang dicari Alfin terselip menunduk malu-malu.
"Mari! Silahkan!" Adrian membawa mereka ke tempat yang telah disiapkan. Duduk melantai dengan berbagai macam hidangan telah disediakan.
Satu per satu menyerahkan barang bawaan kepada para penghuni rumah. Menyisakan Aminah ditemani Alfin yang berdiri di belakangnya. Tak henti laki-laki itu mencuri pandang pada wanita yang berdiri dengan kepala tertunduk, sendirian.
Aminah melangkah pelan, di tangannya membawa sebuah kotak berisi perhiasan yang dulunya akan ia gunakan sebagai mas kawin pernikahan mereka. Aminah menjulurkan kotak tersebut kepada Naina, wajahnya dipenuhi rasa penyesalan akan apa yang telah terjadi.
"Mohon diterima ini, Nak. Sebagai permintaan maaf Umi karena sudah salah faham sama kamu. Maafkan wanita penuh dosa ini." Aminah bergetar, membuat hati Naina ikut terguncang. Sungguh tak dinyana, kata maaf akan meluncur dengan tulus dari lisannya.
Naina menerima kotak tersebut, memberanikan diri untuk mendongak. Di tengah derai air mata Aminah, Naina tersenyum tulus. Melangkah semakin mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Pandangannya lembut, memancarkan ketenangan hatinya.
__ADS_1
Ia menggelengkan kepala meminta Aminah untuk tidak menangis apalagi menyesali semua yang terjadi. Naina mengusap air di pipi Aminah menggunakan jemarinya. Merengkuh tubuh tua nan ringkih itu ke dalam pelukan. Tangis Aminah semakin menjadi, membalas erat pelukan Naina.
"Maaf. Maafin Umi, Nak. Umi benar-benar berdosa sama kamu. Tolong maafin Umi," lirih Aminah menangis sesenggukan dalam dekapan hangat Naina.
Istri Alfin itu memejamkan mata, menjatuhkan kepala di bahu Aminah. Dia tidak mengharapkan apapun, hanya ingin diterima oleh semua orang sebagai manusia ciptaan Allah. Sama seperti mereka.
"Nggak usah diingat-ingat lagi, Umi. Semuanya udah berlalu, kita pikirin aja untuk ke depannya. Nai udah maafin Umi meskipun Umi nggak minta maaf. Gimana juga sekarang Nai istri dari anak Umi, itu berarti Umi juga Umi Nai. Cukup diterima aja Nai udah bahagia, Nai nggak berharap lebih, Umi." Naina berucap dengan lirih dan tulus.
Aminah semakin tersedu-sedan, rasa sesal semakin merundung jiwa mendengar kalimat Naina yang diucapkan dengan setulus hati. Naina melepas pelukan, kembali membersihkan air di pipi Aminah.
"Senyum, Mi. Ini hari bahagia," pintanya sembari menggenggam tangan Aminah dengan lembut.
Wanita tua itu menganggukkan kepala, menarik garis bibir ke atas membentuk senyuman. Disentuhnya pipi sang menantu, sentuhan penuh cinta.
"Makasih. Makasih karena kamu masih mau nerima Umi," katanya masih dengan lisan yang bergetar.
"Nai juga terima kasih sama Umi karena udah menerima Naina apa adanya." Keduanya tersenyum, kembali berpelukan.
Mereka yang duduk di lantai, memperhatikan penuh haru. Pada akhirnya semua kesalahpahaman dapat terselesaikan dengan baik. Naina mengajak Aminah untuk bergabung dengan lain, tapi tangan Alfin sigap menarik lengannya.
Membawa kabur sang pengantin, bersembunyi di balik sebuah dinding.
"Mas!" Naina memekik tertahan. Kedua tangan Alfin tengah mengurungnya di dinding. Memeluk, dan menjatuhkan kepala di pundak Naina, sedikit menggigitnya karena luapan rasa rindu di hati.
"Kangen, sayang. Mas kangen sama kamu," bisiknya semakin merapatkan tubuh.
"Ayah! Ibu! Kenapa masih di sini? Semuanya udah nungguin," tegur Halwa yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat tempat mereka bersembunyi bersama keponakan Alfin.
Keduanya dengan cepat melepas pelukan, bersikap salah tingkah karena malu terpergok bermesraan. Alfin memalingkan muka sambil menggaruk kepalanya. Gemas dengan tingkah anak-anak yang memergokinya itu.
"Ayo!" Tangannya terayun menggiring para kurcaci menuju tempat perkumpulan. Naina mengikuti di belakang, digandeng Halwa dengan erat.
__ADS_1