
"Mobilnya mogok di jalan, aku tadi cuma mau nolong aja. Tadinya mau numpang ngisi daya di sini, tapi nggak tahunya emang keluarganya di sini."
Yusuf menatap Biya yang tersenyum di tengah-tengah keluarganya. Namun, pemandangan itu tak membuat perutnya berhenti protes. Bunyi kriuk yang nyaring membuatnya tersenyum malu.
Alfin menepuk bahu pemuda itu memintanya untuk mengisi perut terlebih dahulu.
"Kamu sama siapa ke sini? Siapa yang kasih tahu kamu alamat di sini?" tanya Fatih seraya mengajaknya untuk duduk.
Wajah sang adik terlihat sedikit pucat mungkin karena panik tertinggal sendirian.
"Mobilku mogok, Kak. Untung ada laki-laki yang nolong dan nawarin aku ikut ke sini. Coba tadi aku tolak, aku nggak akan ketemu kalian. Tadinya aku cuma mau numpang nge-charge hp buat telpon Kakak," sahut Biya merasa bersyukur karena menerima tawaran laki-laki asing itu.
"Di mana orangnya? Kakak harus berterimakasih sama dia karena udah ngajak kamu ke sini," ucap Fatih mencari-cari laki-laki yang datang bersama Biya.
Biya barulah tersadar bahwa dia tidak datang sendiri. Celingukan mencari sosok Yusuf di antara banyaknya kepala. Namun, laki-laki itu menghilang, sedikit rasa sesal karena ia belum sempat mengucapkan terima kasih padanya.
"Tadi dia sama aku, Kak. Di samping aku, tapi ke mana, ya?" Biya terlihat bingung, masih mencari sosok Yusuf berharap akan menemukannya.
"Mungkin ketemu temannya, kalo kamu lihat kasih tahu Kakak. Sekarang, di mana mobil kamu?" tanya Fatih lagi.
__ADS_1
"Di bengkel." Biya melihat ke arah pelaminan, anggukan kepala Naina menyambutnya. Wanita itu sengaja melihat ke arah Biya untuk menyapa.
"Aku ke atas dulu." Biya beranjak dan menaiki pelaminan, menemui Naina seraya memeluknya.
"Selamat, ya. Kamu beda banget sekarang. Aku suka gaun ini, beda dari yang lain," ucap Biya mengagumi pesona Naina meski wajahnya tertutup selembar kain.
"Makasih, Tante. Tante juga cantik. Oya, tadi Tante datang sama teman suami aku. Ketemu di mana?" tanya Naina penasaran.
Biya melirik Alfin, tersenyum dia dengan ramah. Benar-benar sama persis seperti yang dikabarkan Fatih. Matanya tajam, hidungnya mancung, bibirnya tipis dan merah alami, rahang tegas, berkulit putih. Laki-laki idaman.
Biya memutuskan pandangan sekaligus memutuskan harapan untuk dapat bersuamikan seorang ustadz muda.
Naina tersenyum, menggenggam tangan Biya dengan lembut.
"Gimana orangnya? Apa Tante tertarik?" goda Naina memulai misi.
"Apaan, sih!" Biya memukul lengan Naina, bersemu kedua pipinya.
"Dia orangnya baik, insya Allah. Seorang sekretaris juga, cuma penampilannya aja yang sederhana. Padahal, dia pemuda yang luar biasa," ucap Naina melebih-lebihkan.
__ADS_1
Biya tertarik, matanya membelalak ingin tahu. "Oya?" tanyanya.
"Mmm ... coba Tante lihat, betapa dia pemuda yang sederhana." Naina menunjukkan posisi Yusuf yang tengah berkumpul bersama semua karyawan Alfin.
Makan dan bersenda gurau, terlihat akrab. Diam-diam Biya tersenyum, memuji kebaikan Yusuf.
"Tante pergi dulu, ya. Nanti kenalin sama Tante siapa yang perancang gaun ini. Tante suka," ucap Biya segera menuruni pelaminan dan menemui kakaknya. Ia menunjukkan posisi Yusuf kepada Fatih juga yang lainnya.
"Yang di sana, Kak. Yang pakai batik coklat, dia pemuda yang menolongku tadi," ucap Biya.
Fatih tersenyum, meski tak mengenal siapa sosok tersebut, tapi mereka tahu dia adalah pemuda yang baik.
"Tunggu sampai dia selesai makan, baru kita akan datangi," ucap Fatih diangguki semua.
Habsoh datang menghampiri, mengajak mereka untuk masuk ke dalam rumah. Di sana telah tersaji jamuan yang sengaja disiapkan untuk mereka. Jadi, tidak perlu lagi mengantri bersama tamu yang lainnya.
"Kamu mau, ya, dikenalin sama laki-laki. Kenalan aja, siapa tahu cocok," ucap Fatih menimbang dengan hati-hati.
Biya tersenyum, dia sudah membuat persetujuan dengan Rayan.
__ADS_1
"Iya, Kak. Nggak apa-apa," jawabnya membuat Fatih merasa lega. Disapunya kepala sang adik dengan penuh cinta, betapa dia menyayangi Biya.