Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 71


__ADS_3

Malam telah terlewati, satu malam sudah Alfin berada di lapas. Tak ada yang dilakukannya selain bertafakur di atas hamparan sajadah. Memutar bulir tasbih mengucap kalimat istighfar sebanyak-banyaknya.


Sementara Bas, melanglang buana menyelidiki kasus Alfin. Kali ini bukan lagi tentang pembunuhan yang dilakukan Alfin, melainkan tentang sebab kenapa sampai terjadi pembunuhan itu.


Kasus melebar, saksi satu-satunya yang menjadi korban sebenarnya belumlah ia temukan. Rumah Sumiyati masih kosong, tapi ia bersama tim tak henti melanjutkan penyelidikan.


Khadijah mendatangi lapas bersama seorang laki-laki berpakaian resmi. Kedatangannya tak disenangi Alfin, pemuda itu takut jika sosok Khadijah dikenali banyak orang sebagai anak seorang ustadz.


"Kenapa Kakak ke sini?" tanya Alfin sambil membuang muka dari kakaknya.


Khadijah yang duduk di sampingnya, mencengkeram dagu Alfin. Membalik kepalanya agar ia bisa melihat wajah sang adik bungsu.


"Apa kamu nggak tidur? Kamu nggak beristirahat sama sekali?" Ia melepaskan cengkraman tangannya, menghela napas panjang dan berat.


Apa yang menimpa pada keluarganya benar-benar membuat Khadijah tak dapat fokus membantu sang suami dalam usahanya.


"Aku udah bilang jangan datang ke kantor polisi. Gimana kalo orang-orang tahu?" sungut Alfin.


Helaan napas wanita itu kembali terdengar, berat dan panjang. Apa yang dilakukannya semata-mata hanya untuk Alfin.


"Kakak ke sini, membawa pengacara. Beliau yang akan membantu kamu untuk menyelesaikan kasus ini," beritahu Khadijah menunjuk pada laki-laki berseragam yang duduk di seberang mereka.


Alfin melirik laki-laki itu dengan malas, mendesah berat. Semuanya menjadi sia-sia jika Naina tidak ditemukan.


"Gimana kabar Naina? Apa Kakak berhasil menemukannya?" tanya Alfin menundukkan kepala berharap akan mendengar kabar tentang wanita itu.


"Belum, tapi Kakak masih berusaha mencari." Khadijah menilik wajah sang adik yang terlihat lebih pucat. Terdapat lingkaran hitam di kedua matanya yang sembab.


"Apa mereka nggak lapor ke polisi soal kasus Naina yang dilecehkan?" Khadijah bergumam didengar secara jelas oleh Alfin dan pengacara itu.


"Mungkin ada faktor yang membuat mereka tidak melapor. Saya kira dalam kasus ini ada konspirasi beberapa pihak," ujar si Pengacara menebak-nebak kemungkinan.

__ADS_1


Alfin tidak peduli, jika benar sekalipun dia hanya ingin bertemu Naina. Sampai kepergian sang kakak, Alfin tak banyak merespon. Dia bahkan tidak bertanya tentang anak-anaknya di masjid. Bukan tak peduli ataupun tak mau tahu, Alfin hanya tak ingin mendengar kisah mereka yang terus bertanya tentang ayah.


****


Hari-hari berlalu tanpa banyak perubahan, kabar dari orang yang ditunggunya belum juga datang. Hati Alfin semakin sakit, perih teriris. Ingin mencari Naina, tapi apalah daya dia sedang menjalani hukuman.


Hanya berharap dalam hati, semoga gadis itu dalam keadaan baik-baik saja.


Di rumah besar Adrian, Naina tengah duduk termenung di depan cermin. Menatap pantulan dirinya yang terlihat lebih cerah. Perlahan hati Naina menjadi lebih tenang. Mencoba untuk menerima setiap takdir yang digariskan Tuhan.


"Sayang, udah siap belum?" tanya istri Adrian sambil mengetuk pintu kamar Naina.


Ia menghela napas, menoleh pada pintu yang jarang sekali terkunci.


"Iya, Mah. Bentar lagi Nai keluar," sahut Naina.


Ia kembali memandang cermin, tersenyum tipis mensyukuri kehidupannya kini. Pandangannya jatuh pada sebuah figura yang ia bawa dari Jakarta. Foto dirinya bersama sang ibu, Lita.


"Mungkin ini alasan ibu kenapa meminta aku buat tinggal sama Bibi. Supaya aku bisa ketemu sama papah. Mereka orang baik, Bu. Ibu nggak usah khawatir lagi tentang Naina. Sekarang, ada yang melindungi Nai di dunia ini. Nai nggak akan kekurangan makan lagi, Bu. Papah juga melarang Nai buat kerja. Makasih, Ibu." Ia mendekap bingkai gambar tersebut.


Terpejam matanya merasakan betapa hangat pelukan Lita. Rindu menyeruak, ingin bertemu dengannya. Dia akan meminta kepada Adrian untuk mengantarnya ke Jakarta.


Naina mengecup gambar tersebut sebelum beranjak dan pergi meninggalkan kamar. Menemui Adrian juga istrinya yang sudah menunggu di lantai bawah.


"Kita ke tempat Papah dulu, ya. Setelah itu kalian bisa pergi," ucap Adrian sembari melangkah keluar rumah. Tak lupa berpamitan kepada Sumiyati juga Asep.


Naina tak mengira bahwa tempat yang mereka tuju adalah toko di mana dulu ia bekerja dan bertemu dengan Anton. Adrian melirik gadis itu, tersenyum saat membayangkan wajah Naina yang terkejut.


Kening gadis itu mulai berkerut saat mengenali jalan yang mereka lalui. Ia menegakkan tubuh, melilau ke kanan dan kiri sambil menduga-duga ke mana mereka akan pergi.


Mata Naina semakin lebar terbuka ketika mobil berhenti di depan toko.

__ADS_1


"Ayo, turun!" ajak Adrian disusul istrinya yang keluar kemudian.


"Papah, kenapa kita ke sini?" tanya Naina dengan bingung, ia masih duduk di dalam mobil belum berniat untuk beranjak.


"Papah emang mau ke sini. Toko ini ... yah, bisa dibilang punya Papah. Kenapa?" terang Adrian sambil memandang wajah gadis itu.


Naina membelalak sambil menyahut, "Dulu, Nai kerja di sini, tapi cuma sebentar." Naina berubah sendu mengingat semua yang terjadi selama dia bekerja di toko tersebut. Adrian terkekeh, begitu pula dengan istrinya yang tersenyum.


"Papah tahu. Papah bisa nemuin kamu juga karena lihat berkas kamu di sini. Kamu nggak kangen sama teman-teman?"


Naina menunduk, teringat pada Vita yang begitu baik terhadapnya. Ia beranjak turun setelah Adrian dan istrinya masuk ke toko tersebut. Bibirnya tersenyum, setidaknya bisa menemui semua anak-anak di masjid. Tak peduli meski Alfin melarangnya, dia akan tetap pergi menemui mereka.


"Naina!"


"Vita!"


Kedua wanita itu saling berpelukan melepas rindu. Tak ada yang dilakukan Naina selain duduk di bawah samping meja kasir. Naina beranjak, mengambil keranjang belanjaan. Dengan hati riang gembira, ia memilah dan memilih apa saja yang ingin dibelinya


Terbayang wajah mereka, senyum polos mereka yang akan mengobati kerinduannya.


"Mudah-mudahan Alfin nggak melarang aku buat ketemu sama mereka," gumam Naina sembari melanjutkan berbelanja banyak makanan dan semua kebutuhan mereka.


Sementara di masjid, semua anak-anak Alfin duduk berbaris di serambi bangunan itu. Menunggu kedatangan ayah mereka. Halwa duduk sambil memangku dagu, memandang gerbang, tepatnya pada toko di mana dulu Naina bekerja.


Hati kecilnya berharap dia akan melihat Naina walau sekejap saja.


"Ibu nggak pernah nengok kita lagi, sekarang ayah juga nggak datang-datang. Apa kita udah nggak dipeduliin lagi?" racau Halwa diakhiri dengan helaan napas olehnya.


"Nggak boleh mikir kayak gitu. Mungkin ayah emang ada kerjaan. Nanti juga pasti pulang buat jengukin kita." Anak yang lebih besar mengusap kepala Halwa.


Mereka terus diam tanpa ingin melakukan apa-apa, bahkan bermain sekalipun.

__ADS_1


"Ibu!"


__ADS_2