Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 44


__ADS_3

"Bi, coba lihat itu kenapa Naina ditarik-tarik kayak gitu? Cepat, Bi! Umi takut Naina diapa-apain sama laki-laki itu, Bi" ucap Aminah panik.


Tak sengaja matanya melihat aksi Anton menarik tangan Naina dengan kasar dari balik kaca jendela toko. Ahmad menggeram, tak rela calon istri anaknya disentuh orang lain. Apalagi terlihat kasar seperti itu.


Ia mempercepat laju kakinya yang sudah tua, membuka pintu toko dengan kasar. Menerobos masuk dan menatap teman-teman Naina yang tak melakukan apapun.


Mendengar suara pintu terbuka, Anton dan Naina sama-sama menoleh. Harapan timbul di hati gadis itu. Sudah pasti mereka dapat membantunya terlepas dari cekalan sang atasan.


"Umi, Abi! Tolong Nai. Nai nggak mau ikut sama dia, Mi!" teriak Naina dengan air mata yang berderai.


"Lepasin Naina. Kenapa kamu tarik-tarik dia kayak gitu? Ini pemaksaan namanya, aksi kamu ini bisa saya laporin ke pihak berwajib," ucap Ahmad sembari menahan diri agar tidak emosi.


"Mi, telpon Alfin. Pinta dia ke sini!" titah Ahmad pada istrinya.


"Heh, Pak Tua! Siapa kamu? Beraninya memerintah aku! Kamu tahu siapa aku, hah? Aku atasan mereka, aku cuma mau ngomong sama dia aja. Nggak akan ngapa-ngapain!" kilah Anton menuding Ahmad dengan angkuh.


Naina menggelengkan kepala, memohon pada Ahmad untuk membantunya terlepas dari cekalan laki-laki itu. Lirikan Anton jatuh pada Aminah yang sedang menghubungi Alfin.


"Eh, kamu ngapain? Mau telpon si Marbot itu, hah? Awas kamu kalo berani telpon dia!" ancam Anton dengan kedua matanya yang membesar.


"Telpon aja, Mi. Jangan takut! Sebagai atasan dia nggak akan mungkin nyakitin bawahannya sendiri," tegas Ahmad ketika melirik Aminah yang hendak mengurungkan niat untuk menghubungi Alfin.


Ahmad menatap tajam pada atasan Naina itu, meski tubuhnya tua dia tidak memiliki rasa takut saat membela kebenaran.


"Anak muda! Kamu tahu siapa gadis yang kamu perlakukan dengan kasar itu? Dia calon menantuku. Aku minta baik-baik sama kamu, lepasin dia," ucap Ahmad dengan tegas.


"Emangnya siapa kamu? Kenapa aku harus takut sama kamu? Dia calon ibu anakku. Denger itu, calon ibu anakku!" sahut Anton dengan berani.

__ADS_1


"Nggak! Abi, tolong! Nai nggak mau sama dia, Abi. Tolong!" Suara Naina yang bergetar membuat hati Ahmad meradang. Terlebih saat melihat air matanya yang tak henti meleleh. Sungguh Ahmad tidak tega.


"Kamu udah berani menantang aku, Anak Muda. Padahal kamu nggak tahu siapa yang kamu hadapi. Sekali lagi aku minta lepasin calon menantuku sebelum Alfin datang dan kamu pasti nggak tahu apa yang bisa dia lakukan untuk merebut calon istrinya," ujar Ahmad masih bersikap tenang.


Anton mencibir, mendengus sambil tertawa mengejek.


"Si Marbot itu? Kamu pikir aku takut? Dia cuma anak ingusan yang tahunya cuma bersih-bersih masjid. Selebihnya ... nol!" ejek Anton meremehkan sosok Alfin.


Berselang, pintu toko terbuka dan sosok Alfin datang dengan wajah memerah panik.


"Umi! Abi!" Ia tertegun di pintu toko. Amarahnya segera bangkit melihat tangan Anton mencekal tangan Naina.


"Alfin. Tolong Naina, Nak. Dia maksa Naina buat ikut sama dia." Aminah mendatangi Alfin yang masih bergeming di pintu toko.


"Lepasin Naina!" pinta Alfin menahan getaran emosi yang meluap-luap.


Tanpa berkata, Alfin melangkah maju. Menyingkirkan segala halang rintang sambil terus membunyikan alarm dalam hati agar tidak melebihi batas seperti pada waktu malam itu.


"Berhenti di sana kalo kamu nggak mau dia kenapa-napa!" perintah Anton tidak menyurutkan langkah Alfin untuk merebut Naina darinya.


Sosok yang terus melangkah maju itu, membuat Anton mulai resah. Ia menyembunyikan kakinya yang bergetar, Alfin tak lagi terlihat tenang seperti biasanya meskipun sudah menahan diri.


Ia tiba di hadapan laki-laki itu, mencekal tangan Anton dengan sangat kuat.


"Lepas!" ucapnya bergetar.


Dengan terpaksa Anton melepaskannya, Naina segera berlari menemui Aminah. Ibu Alfin memeluk gadis itu untuk membuat hatinya tenang kembali.

__ADS_1


Perlahan Alfin melepaskan cekalan tangannya, mengancam Anton lewat tatapan mata yang begitu tajam menghujam. Tanpa banyak mengumbar kata, ia berbalik. Merangkul Ahmad untuk meninggalkan tempat tersebut dan menggandeng Aminah yang memeluk Naina.


Langkahnya terhenti saat mata Alfin tak sengaja melihat ponsel Naina. Diambilnya benda itu, dan terus melanjutkan langkah keluar dari toko. Dia berhasil menguasai dirinya, amarah yang memuncak tidak membuatnya lepas kendali.


Alfin berbalik saat tiba di ambang itu, melirik Anton yang masih bergeming di tempatnya menahan kesal.


"Aku mengawasimu dari rumah Allah di sana. Sekali lagi aku lihat kamu memperlakukan karyawan dengan semena-mena, tanganku sendiri yang akan menyeret kamu ke kantor polisi!"


Alfin kembali berbalik setelah mengatakan itu. Terus pergi bersama kedua orang tuanya yang membawa Naina ke masjid. Di halaman masjid, anak-anak Alfin menunggu dengan cemas didampingi Ustadz Hasan yang menjaga mereka.


Aminah membawanya ke pendopo diiringi anak-anak itu, sedangkan Alfin menghadap sang guru. Menangis karena berhasil menguasai dirinya. Ia pergi ke kamar mandi, membuka kran air dan mengambil wudhu. Membersihkan hatinya dari emosi.


Air dingin dan sejuk yang menyentuh permukaan kulitnya, meresap ke dalam pembuluh darah, menghantarkan rasa damai ke dalam hati. Alfin menengadah, memuji asma Allah dengan segenap rasa yang ada dalam dirinya.


Disapunya wajah, seraya berbalik menemui Ustadz Hasan di dalam masjid. Ia tidak pergi ke pendopo karena butuh waktu sendiri untuk hatinya yang masih terasa panas.


"Inilah hidup, di mana seseorang terkadang memaksakan keinginannya sehingga tak peduli telah menyakiti orang lain. Fitrah manusia yang dibekali keserakahan juga hawa-nafsu. Tergantung kita dalam mengendalikannya, mampukah? Atau justru dikalahkan." Alunan petuah dari lisannya selalu berhasil membuat hati Alfin mengerti lebih dalam tentang makna kehidupan.


"Dalam meraih sesuatu, jalan setiap orang itu berbeda. Ada yang mudah tanpa hambatan sebagai ujian rasa syukur kita terhadap karunia Allah. Ada pula yang harus dilalui dengan ujian yang berat untuk mereguk rasa manisnya. Satu kuncinya, sabar. Sering-seringlah pergi memancing, karena di sanalah ujian kesabaran terasa. Sabar menunggu umpan dimakan, sabar ketika melihat orang lain telah berhasil mendapatkan ikan. Sabar ketika hasil yang didapatkan tak sesuai dengan keinginan."


Ustadz Hasan menghela napas. Menatap Alfin yang menundukkan pandangan. Pemuda itu telah berhasil melewati ujian, menahan diri agar tidak terbawa emosi.


"Apa yang mau kamu lakukan setelah ini?" tanya Ustadz Hasan tak lepas pandangan dari muridnya.


Alfin menggelengkan kepala, tak ada rencana apapun yang ingin dia lakukan.


"Nggak ada, Ustadz. Saya cuma butuh waktu buat nenangin diri," ucapnya lirih.

__ADS_1


Sang ustadz mengerti, sendiri bukan berarti seorang diri. Alfin selalu ditemani Ustadz Hasan dalam kesendiriannya. Membantunya mendapatkan kedamaian hati, menghilangkan prasangka buruk yang kadang datang menghampiri. Menuntunnya untuk memasuki jalan orang-orang yang berserah diri.


__ADS_2