
"Aku ingin menikahi Naina sekarang juga!"
Serentak semua kepala menoleh ke arah sumber suara. Terkejut. Satu kata itu yang dapat menggambar ekspresi wajah semua orang yang duduk di gazebo termasuk Busyro. Matanya berkedip, rasa tak percaya Alfin akan langsung pada inti tujuan.
Naina mengedip-ngedipkan mata, hatinya sekali lagi ingin mendengar pernyataan itu. Ada bunga bertaburan, tapi juga awan kelabu yang bertebaran.
"Alfin!" teguran lembut dari Ustadz Hasan menyadarkan semua orang dari lamunan.
Busyro menepuk dahi, kemudian mengusapkan tangan ke wajahnya. Tak habis pikir adiknya akan langsung menembak tepat pada sasaran.
Alfin menegaskan pandangan pada manik Ustadz Hasan, menyampaikan kesungguhan ucapannya lewat sorot mata.
"Ka-kamu ...."
Alfin mengalihkan pandangan dari sang ustadz pada Adrian. Laki-laki itu meneguk ludah melihat kesungguhan Alfin yang terpancar di matanya.
"Aku ingin menikahi putri Bapak hari ini juga!" tegas Alfin mengulangi ucapannya.
Busyro mengintip dari sela-sela jari, sedikit merasa malu ketika melihat Adrian yang menganga kemudian tertawa kecil.
Naina tersentak, darahnya berdesir hingga mencapai puncak kepala. Keinginan untuk mendengar ucapan Alfin terkabulkan.
Ustadz Hasan tersenyum, manggut-manggut setuju. Mungkin memang sebaiknya mereka dinikahkan segera.
"Bagaimana, Pak? Alfin melamar Naina ... ini nggak bisa disebut lamaran sebenarnya. Silahkan!" Ustadz Hasan tertawa kecil. Bukan nafsu yang dilihatnya di kedua manik Alfin, tapi kekhawatiran akan kepergian Naina.
Adrian menghela napas, melirik Naina yang tengah memandang ke arah Alfin.
"Apa alasan kamu ingin menikahi putriku?" tanya Adrian menatap dalam-dalam manik Alfin.
Pemuda itu menoleh pada Naina, pandang mereka bertemu untuk beberapa saat lamanya. Kali ini Naina tidak berpaling, membiarkan Alfin menyelami kedalaman hatinya.
"Aku nggak tahu apa aku punya alasan untuk menikahi Naina, tapi putri Bapak adalah alasan yang sebenarnya. Aku yang membutuhkan Naina untuk tetap berada di sampingku, membimbingku, menemani perjalananku. Apakah itu bisa disebut alasan?" Alfin memalingkan wajah, menatap Adrian yang diam mendengarkan.
__ADS_1
"Aku mencintai anak Bapak karena aku membutuhkan teman untuk bersama-sama menimba ilmu agama. Menyiarkannya ketika mampu, membantu membimbing anak-anak di sini. Aku menemukan semua harapan pada sosok putri Bapak itu." Alfin menunduk, menyudahi ungkapan isi hatinya.
Adrian menghela napas, kembali melirik Naina yang tetap mematri tatapan pada pemuda itu. Bibirnya bergetar, seperti hendak mengucapkan suatu kata. Adrian kembali berpaling pada Alfin yang masih menunggu jawaban.
"Saya serahkan semuanya kepada Naina. Dia yang berhak menentukan pilihannya sendiri." Adrian dan Alfin sama-sama menoleh kepada Naina, gadis itu menunduk. Bahunya naik dan turun seiring napas yang ditariknya dengan panjang.
"Bagaimana, sayang?" tanya Adrian pada gadis itu.
Naina menghela napas, mengangkat wajah menatap satu per satu dari keempat laki-laki yang menunggu jawabannya.
"Allahu Akbar! Allahu Akbar!"
Gema adzan berkumandang, membuat mereka menghela napas. Busyro dan Ustadz Hasan mengusap wajah gemas.
"Kita lanjutkan setelah sholat Maghrib. Mari!" Ustadz Hasan beranjak disusul Busyro, kemudian Adrian dan terakhir Alfin. Dengan perasaan tak rela ia memandang Naina dalam-dalam.
"Kita bicara selepas sholat nanti ... berdua," ujar Naina selangkah Alfin menuruni tangga gazebo. Matanya tertuju pada dahi juga tangan Alfin yang dibalut perban.
****
"Abi! Abi mau tetap di sini? Nggak ke ruangan Umi?" tanya Khadijah yang menghampiri Ahmad selepas menunaikan sholat Maghrib.
Keduanya masih berada di mushola setelah kepergian Alfin dan Busyro menyusul Adrian. Laki-laki yang tengah duduk terpekur di tempat imam itu, menghela napas. Ia belum ingin beranjak dari sana. Apalagi ketika harus kembali berdebat dengan Aminah. Lebih baik duduk tenang di rumah Allah sembari meminta petunjuk-Nya.
"Abi segen kalo harus berdebat sama umi lagi, Dijah. Abi akan ke sana kalo umi kamu udah bisa berpikir secara jernih. Dia harus membuka mata hatinya untuk bisa melihat pengorbanan Naina. Gadis itu nggak bersalah dan nggak seharusnya menggantikan Alfin di penjara," ujar Ahmad amat menyesali sikap Aminah yang egois.
Khadijah menunduk, duduk bersimpuh di hadapan sang ayah. Rasa kecewa di hatinya tak dapat ia pungkiri, tapi mengingat kondisinya yang sudah tua dan sakit, ada rasa tak tega jua berselubung di sana.
"Mungkin kita harus ngomong sama umi soal Naina yang menggantikan Alfin, Abi. Siapa tahu umi bisa ngerti," saran Khadijah yang ditanggapi helaan napas Ahmad.
Ia menatap putri sulungnya, kesedihan jelas memancar di kedua mata laki-laki tua itu.
"Abi yakin, Amaliah pasti udah kasih tahu umi. Biarkan umi berpikir dulu. Abi masih mau di sini. Kalo kamu mau kembali ke sana, pergi aja. Abi nggak apa-apa," ucap Ahmad.
__ADS_1
Khadijah menggelengkan kepala, menolak meninggalkan Ahmad sendirian. Biarlah, di ruangannya Aminah tidak sendirian. Ia ditemani Amaliah yang sudah pasti bisa menjaganya.
"Dijah di sini aja nenemin Abi." Ia menunduk, sekilas dapat Ahmad lihat rasa kecewa di wajahnya.
Ia mengangguk, dan meneruskan dzikirnya ditemani wanita hamil itu.
****
"Umi, abinya anak-anak bilang kalo Naina pergi ke penjara dan menggantikan tempat Alfin. Itulah makanya Alfin ada di sini karena Naina yang menjaminkan diri untuk kebebasannya," beritahu Amaliah berharap Aminah akan melunakkan hatinya dan tidak menyalahkan Naina terus menerus.
Wanita tua itu menghela napas, bukan Naina yang dia dipikirkan, tapi Alfin yang menyakiti dirinya sendiri.
"Alfin terlalu mencintai gadis itu, dia tergila-gila padanya. Umi bisa apa? Kalian juga sepertinya mendukung hubungan mereka. Padahal, udah sering Alfin hampir celaka cuma buat nyelamatin dia," ucap Aminah masih bergeming pada hatinya yang sekeras batu.
Amaliah menghela napas, kehabisan akal untuk membuat Aminah menyadari situasi yang terjadi.
"Umi. Kita nggak bisa menyalahkan Naina karena dia di sini adalah korbannya. Coba Umi bayangkan, dia gadis yang nggak bersalah, mendapatkan pelecehan dari laki-laki yang nggak bertanggungjawab, tapi pada akhirnya dia juga yang harus menerima hukuman. Ini nggak adil, Umi. Nggak adil buat Naina. Seharusnya dia mendapat pembelaan, dukungan, juga rangkulan dari kita." Amaliah memandang Aminah kecewa.
Wanita tua itu menoleh, menilik wajah sang menantu yang selalu terlihat teduh itu.
"Terus kamu pikir Alfin pantas dipenjara? Padahal dia nggak sengaja membunuh orang dan itu untuk menyelamatkan dia." Aminah menatap sendu Amaliah, terpancar kesedihan mendalam mengingat nasib Alfin yang harus menjadi tersangka.
Istri Busyro itu menggelengkan kepala, tak abis pikir dengan isi pemikiran sang ibu mertua.
"Bukan begitu, Umi. Kita hanya perlu mengikuti prosedur yang ada, tapi semuanya jadi tambah rumit karena Naina yang sekarang justru ada di penjara. Gimana kalo ayahnya tahu? Itu akan menimbulkan masalah baru," cetus Amaliah masih mencoba meyakinkan Aminah.
"Ayah?" Aminah menatap bingung.
"Ya, Umi. Tadi sore itu ayah Naina yang datang. Dia mau menjemput Naina karena katanya menunggu di sini. Naina tadinya mau menjenguk Umi, tapi urung karena ada ucapan Umi yang menyinggung hatinya."
Pandangan mereka bertemu, tak terasa air mata Aminah jatuh tak tertahankan. Apakah hatinya mulai menyadari?
Entahlah. Semoga saja iya.
__ADS_1