
"Assalamu'alaikum!"
Sebuah suara salam menyentak jantung Naina yang sejak beberapa saat lalu sudah berpacu tak menentu. Wajah dengan riasan seadanya itu tampak memucat beberapa saat. Namun, kemudian, muncul semburat rona merah di kedua pipinya.
Ia tersipu sendiri, yang di luar itu adalah suara seseorang yang sedang ditunggunya.
"Wa-"
"Wa'alaikumussalaam!" sahut suara bibi disusul langkah kakinya yang mendekati pintu rumah.
Suara pintu berderit menambah debar dalam dada Naina. Ia menutup wajah karena malu, juga tak kuasa menahan gejolak hati yang semakin bertabur bunga.
"Nak Alfin? Mari masuk! Maa syaa Allah, ada apa ini?" tanya bibi seraya membuka pintu lebih lebar lagi supaya Alfin dapat masuk ke dalam.
"Bu!" sapa pemuda itu seraya menyalami bibi sebelum melangkah masuk ke dalam rumah di mana kekasih hatinya bernaung.
"Duduk, Nak!" titah bibi menunjuk kursi yang selalu tampak rapi sejak kedatangan Naina ke rumah itu.
"Makasih, Bu. Naina ada?" Tak perlu bertanya sebenarnya, karena pasti Naina ada di rumah itu. Hanya saja Alfin bingung harus bertanya apa karena sosok yang dicarinya tak nampak di depan mata.
"Oh, Naina ada. Dia di kamar, mungkin lagi siap-siap. Sebentar, saya panggil, ya," ucap bibi yang kemudian berjalan mendekati pintu kamar Naina.
Tok-tok-tok!
"Nai, ada Nak Alfin cari kamu. Keluar dulu, ya," panggil bibi setelah mengetuk pintu kamar keponakannya.
"Iya, Bi. Bentar!" sahut Naina dari dalam. Getaran suaranya menyentak hati Alfin, membuat dada berdebar hebat apalagi saat melihat rupa sang idaman hati.
"Saya tinggal ke belakang dulu, Nak Alfin," pamit bibi untuk membuatkannya minuman sekaligus memanggil Asep.
"Pak, ada nak Alfin di depan. Temenin, gih. Ibu mau buat teh dulu," titah bibi pada suaminya.
__ADS_1
Buru-buru paman Naina itu menyelesaikan makannya, mencuci tangan dan mengganti pakaiannya.
Sementara di dalam kamar, Naina memegangi dada kiri yang tak mau memelankan pacuannya. Menghela napas demi mengurai sesak karena gugup datang menyergap. Ia menyemangati dirinya sendiri, melirik penampilan sebelum keluar dan perlahan membuka pintu.
Naina mengeluarkan kepalanya sedikit, memeriksa keadaan depan kamarnya. Yang ia tak tahu, Alfin sedari tadi terus menatap pintu tersebut. Ia tersenyum ketika Naina menemukannya.
Gadis itu tersipu malu, jantungnya semakin kencang berpacu. Keluar dengan pelan, menutup pintu nyaris tanpa suara. Kemudian duduk berseberangan dengan sang pujaan hati. Kepalanya terus menunduk, terlalu malu untuk bersitatap dengan manik teduh di depannya.
Alfin yang melihat Naina mengenakan gamis lantas tersipu, memalingkan wajah menatap luar rumah di mana beberapa anak berlarian saling kejar mengejar.
"Kamu ... udah siap?" tanya Alfin tiba-tiba gugup membuatnya sedikit tergagap.
Naina menghela napas, menormalkan keadaan jantungnya yang berdetak.
"Insya Allah, siap," sahutnya lirih.
"Maa syaa Allah, Nak Alfin! Maaf, saya di belakang tadi."
Paman datang mencairkan suasana. Mereka berdua bersalaman tanpa segan, terlihat akrab.
Laki-laki paruh baya itu mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Ia melirik Naina yang terus saja tertunduk sejak keluar dari kamarnya.
"Maaf, Nak Alfin. Saya mau tanya sebagai laki-laki. Apa Nak Alfin serius sama keponakan saya ini? Bukan apa-apa, dia udah nggak punya siapa-siapa di dunia ini selain saya dan istri saya. Nanti kalo kalian jadi menikah, tanggung jawab menjaga dan melindungi Naina pindah ke tangan Nak Alfin." Paman merasa resah karena Naina sudah tidak memiliki siapapun lagi.
Setidaknya, jika ia memiliki suami yang sayang juga bertangungjawab terhadapnya mereka akan tenang meninggalkannya di dunia ini.
Alfin tersenyum, melirik Naina dalam diam. Ia mengerti tujuan sang paman bertanya demikian kepadanya.
"Insya Allah, Mang. Saya serius mau menikah sama Naina. Kalo bisa nggak lama-lama lagi, pengen secepatnya aja, tapi balik lagi sama Naina. Saya juga nggak bisa maksa Naina buat buru-buru menikah," ungkap Alfin menyerahkan keputusan kepada sang pujaan hati.
Paman kembali mengangguk, kini semua keputusan ada di tangan gadis itu. Jika menurutnya lebih cepat menikah itu lebih baik. Namun, mereka tak ingin memaksakan keinginan mereka padanya.
__ADS_1
Naina menghela napas, jauh di lubuk hatinya ia juga ingin menikah saja. Hanya saja, yang membuatnya masih ragu untuk memberikan keputusan sekarang adalah respon orang tua Alfin yang belum bisa ia tebak.
"Mungkin nggak sekarang, Paman. Nai perlu sholat istikharah untuk kebaikan kita bersama. Nai juga sebenarnya nggak mau lama-lama, tapi ada hal yang masih membuat Nai belum bisa memutuskan," ungkap gadis tersebut yang dimaklumi kedua laki-laki itu.
Alfin tahu apa yang menjadi pikiran Naina. Tatapannya teduh menenangkan hati Naina kala menatap ke arahnya. Tak mengapa baginya, apapun yang terjadi dia akan tetap mempertahankan Naina.
"Ya udah, takut kemalaman sebaiknya kalian pergi sekarang," ujar Asep menyudahi percakapan dengan mereka.
"Lho, kok, buru-buru? Ini aja minumannya baru dateng," ucap bibi yang baru tiba sembari membawa nampan di tangan.
"Ini, Bu. Orang tua Alfin mau ketemu sama Naina sekalian sama keluarga besarnya juga," ucap Asep memberitahu sang istri.
"Oh, gitu. Ya udah kalo gitu, mending berangkat sekarang aja takut kemalaman."
Asep mendengus, baru saja dia mengatakan hal tersebut. Alfin dan Naina menahan tawa karena tingkah dua paruh baya itu.
"Ya udah, saya izin bawa Naina ke rumah dulu. Insya Allah nanti saya pulangkan," ucap Alfin sembari berdiri dari duduk.
"Lho, ya harus dipulangkan. Kecuali malam ini kamu langung ijab kabul sama penghulu. Baru kamu boleh ikat dia di rumah," seloroh Asep menimpali candaan Alfin.
Semua orang tergelak, hangat dan harmonis. Bila boleh meminta, Naina tidak ingin kehilangan momen itu. Mereka berdua pamit, diantar dua paruh baya itu hingga keluar gang. Alfin mengendarai mobil, dan terparkir di mulut gang tepi jalan.
Suasana malam masih ramai. Anak-anak muda duduk berbaris di tepi jalan. Orang-orang tua di pos kamling berkumpul untuk ronda malam. Mobil Alfin melaju dengan kecepatan sedang, bergabung dengan pengendara lainnya.
Sumiyati dan Asep kembali ke rumah setelah memastikan mobil mereka menghilang. Berharap dalam hati semoga Alfin dan Naina berjodoh. Hidup bahagia, harmonis sampai tua.
Naina duduk dengan canggung di samping kursi kemudi. Ia sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari deretan gedung yang berbaris. Kesibukan terjadi di sebuah toko matrial terbesar di kota itu.
"Kita mampir dulu, ya. Ada yang harus dipesan untuk masjid," ucap Alfin yang disetujui Naina.
Mobil mereka menepi di parkiran toko. Alfin turun, tapi Naina tetap berada di dalam mobil menunggu. Memperhatikan Alfin yang sedang berbincang dengan pekerja toko. Ia tersenyum, hatinya menghangat hingga tanpa sadar sepasang mata yang tak sengaja melihat, menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
****
Maaf Kakak-kakak semua, baru bisa update. Ada kesibukan yang nggak bisa ditinggal. terima y