
"Hahahaha ...."
Suara tawa menggelegak di ruang tengah rumah besar itu. Alfin dan Fatih, juga Adrian. Menertawakan pertalian yang tak disangka-sangka. Takdir Tuhan itu sungguhlah sebuah rahasia, tak ada siapapun juga yang mengetahuinya.
Tangis kesedihan, penderitaan, ujian hidup yang berkepanjangan, hinaan, cacian, makian, cemoohan, bahkan dipandang rendah. Merupakan ujian yang harus dilalui untuk dapat naik kelas. Kesabaran, ketabahan, senyuman, penerimaan, keikhlasan, keridhoan, akan dibayar dengan sesuatu yang manis yang rasa manisnya tak akan pernah dijumpai di dunia ini.
Naina tersenyum penuh kebahagiaan, benang takdir benar-benar terikat padanya. Dialah titik pusat, padanya semua bermuara. Seseorang yang harus menjalani takdir hidup yang keras, berjalan di atas duri, tak peduli darah terus mengalir, dia adalah pemersatu.
"Aku benar-benar nggak nyangka. Nggak sia-sia datang ke sini, ternyata kita sebenarnya adalah keluarga, cuma belum ketemu jalannya aja," ungkap Fatih dengan perasaan takjub yang tak dapat ia jelaskan.
"Dan Naina adalah wasilahnya. Karena nama itu yang akhirnya menyatukan keluarga kita." Adrian menimpali, diangguki semua orang.
Alfin melirik sang istri yang nampak berseri, digenggamnya tangan Naina dengan lembut. Dikecupnya punggung tangan itu tanpa segan meski di hadapan kedua pasang orang tua mereka.
"Semuanya harus kita syukuri, beruntung kemarin aku nggak nolak pas diajak ke sini." Seira menatap Naina, tersenyum melihat kebahagiaan yang kini menyelubungi dirinya.
Tak akan ada lagi cerita Naina yang harus menderita karena penolakan keras dari keluarga laki-laki yang merasa paling benar sendiri. Tak akan lagi ada cerita Naina yang harus menerjang hujan hanya untuk meminta sesuatu yang tak ada sangkut pautnya dengan dia.
"Bener, Mah. Coba aja aku nggak ikut, nggak akan ketemu Kakak sekarang." Fathya menjatuhkan kepala di lengan Naina.
Disapunya pipi gadis itu sambil tersenyum penuh syukur.
"Jadi, Papah sama Pak Fatih saling kenal? Terus Pak Fatih juga kenal sama Mas Alfin?" Naina menatap mereka, tersirat kebahagiaan di wajahnya yang terbalut hijab.
"Yah, kalo Pak Adrian ... gimana, ya? Kita ini bisa dibilang teman lama, tapi kalo sama Ustadz Alfin saya kenal di pengajian aja. Baru tiga kali ikut pengajian rutin, saya kagum sama Ustadz Alfin ini. Sempat saya berdoa semoga Ustadz Alfin jadi anggota keluarga saya. Ternyata, doa saya diijabah Allah. Maa syaa Allah!" tutur Fatih dengan kekaguman yang tak dapat dituangkan lewat kata-kata.
Dahsyatnya sebuah doa. Harapan akan kebaikan terus mengalir pada kehidupan mereka. Kekaguman Fatih kepada Alfin diadukannya kepada Tuhan lewat untaian doa.
"Jadi, kapan resepsinya?" tanya Seira menatap Adrian dan Habsoh bergantian.
"Tunggu keluarga saya datang. Setelah umi keluar dari rumah sakit, insya Allah kami sekeluarga akan datang ke sini," sambar Alfin teringat pada permintaan Aminah.
Adrian dan Naina sama-sama menoleh kepada Alfin, begitu pula dengan Habsoh. Ada juga Sumiyati dan Asep yang sejak tadi hanya memperhatikan. Mereka yang tahu seperti apa kesalahpahaman yang terjadi sebelum pernikahan.
"Alhamdulillah!" seru mereka meski lirih. Naina memeluk hangat Alfin, berterimakasih lewat sentuhan.
__ADS_1
Fatih dan keluarganya nampak bingung, tapi mereka tidak bertanya lebih jauh.
"Kalo gitu, Ibu sama Bapak jangan dulu pulang. Menginap saja beberapa hari di sini, aku masih kangen sama Fathya," pinta Naina sembari memeluk gadis remaja itu.
Seira tersenyum, melirik suaminya meminta persetujuan.
"Apa nggak ngerepotin kalo kita bertamu lebih lama di sini?" Fatih mewanti-wanti.
Adrian terkekeh, justru dia senang jika di rumahnya ada banyak orang. Yang selama ini selalu redup karena yang mengisi hanya mereka berdua dan pekerja di rumah itu. Akan tetapi, sejak kedatangan Naina Adrian lebih suka keramaian.
"Nggak masalah, Pak. Justru saya senang kalo kalian mau menerima permintaan Naina. Rumah ini jadi ramai. Iya, 'kan, Mah?" Adrian melirik istrinya, mengusap tangan wanita itu yang tersenyum penuh haru.
"Iya, Pak. Kami nggak merasa direpotin sama sekali. Mereka juga kayaknya masih kangen," timpal Habsoh menatap kedua wanita yang masih berpelukan itu.
Gagal rencana menginap di hotel.
Hati Alfin bergumam perih, melirik Naina yang tengah diliputi kebahagiaan. Bibirnya pula ikut tersenyum, apapun yang membuat wanita itu tersenyum bahagia, akan ia berikan.
"Kalo gitu, terima kasih, Pak. Mungkin sampai orang tua Ustadz Alfin datang saja kami akan menginap di sini. Kami nggak mau ketinggalan momen berharga lagi. Naina juga anak kami," ucap Fatih sembari melirik kepada Naina.
Air yang jatuh dari pelupuk tak ia sadari manakala Seira tersenyum. Mengingat luka yang pernah diterimanya dari sang ibu, Naina terharu karena wanita itu masih bisa menerimanya dengan tangan terbuka, bahkan menganggapnya sebagai anak.
"Jangan nangis, Kak. Kita semua di sini keluarga. Jangan mengingat-ingat masa lalu lagi." Fathya mengusap air di pipi Naina, memeluk tubuh itu bagai seorang adik yang merindukan kakaknya.
"Makasih, ya. Kalian udah baik sama Kakak. Kakak nggak tahu gimana cara membalasnya?" lirih Naina bergetar.
Fathya mengangkat wajah, memandang Naina dengan lembut.
"Cukup bahagiakan diri Kakak, itu sudah cukup membalas semuanya. Aku cuma mau Kakak bahagia," ungkap Fathya dengan ketulusan hatinya.
Mendengar kisah pahit Naina di waktu kecil, membuat hati Fathya merasa simpati. Dia hanya ingin melihat Naina tersenyum bahagia di sepanjang hidupnya.
"Makasih." Naina merengkuh tubuh itu, membuat Rayan menundukkan kepala iri.
Dia juga ingin memeluk sang kakak, sama seperti Fathya. Hanya saja, dia segan dan terlalu malu mungkin karena dia sudah mengenal wanita.
__ADS_1
Dering ponsel Alfin menyita perhatian, ia meminta izin kepada semua orang untuk mengangkat telpon.
"Siapa, Mas?" tanya Naina usai Alfin menerima telpon tanpa berbicara dan hanya mengangguk saja.
"Dari sekolah Halwa, rapatnya akan dimulai." Alfin menjawab.
"Ya udah, kita berangkat?" Naina bersiap hendak beranjak.
"Nggak, sayang. Kamu di sini aja, ya. Biar aku yang pergi. Temenin aja mereka. Kamu juga pasti masih kangen sama mereka, 'kan?" sergah Alfin penuh pengertian.
Naina tersenyum, mengangguk pelan. Alfin berpamitan pada semuanya, diantar Naina ia pergi menuju teras.
"Permintaanku nggak jauh beda dengan gadis itu, Humairah. Tetaplah tersenyum bahagia, hanya ada bahagia." Alfin mengusap pipi Naina, ia mendengar permintaan Fathya tadi.
Naina melingkarkan tangan di pinggang suaminya, mengangguk tanpa ragu. Bersama Alfin, tak sekalipun ada kesedihan kecuali kesalahpahaman kemarin. Laki-laki itu sangat menjaganya, melindunginya dan menjadi tempat sandaran yang nyaman juga kokoh untuknya.
"Hati-hati, Mas!" bisik Naina sembari memeluk Alfin.
"Iya, sayang. Mas pergi, ya." Naina tersipu, melepas pelukan dan meraih tangan Alfin. Menciumnya dengan takzim, tanpa rasa segan.
Tak lupa Alfin mendaratkan sebuah kecupan di dahi sang istri, sebelum menjauh dan mendekati motornya. Pagi itu, mereka berpisah. Keduanya tersenyum bahagia, tak ada lagi yang perlu dicemaskan.
"Dia romantis sekali, Kak," celetuk Rayan yang entah sejak kapan sudah berdiri di sisi Naina.
"Astaghfirullah! Kamu ngagetin Kakak aja. Emang begitu, ya?" Naina memekik, kemudian tersipu mendengar Rayan memuji Alfin.
"Iya. Dia panggil Kakak Humairah. Kayak panggilan nabi untuk istrinya, siti Aisyah. Mudah-mudahan pernikahan Kakak diberkahi dan selalu dilimpahkan kebahagiaan." Rayan tersenyum menatap kakaknya itu.
Rasa haru di hati Naina semakin memuncak, hingga tanpa sadar ia memeluk Rayan. Hal yang tak pernah ia lakukan karena merasa orang lain bagi keluarga itu. Rayan membalasnya, mendekap Naina dengan erat. Mereka pernah merasakan kebahagiaan bersama satu orang ayah meski singkat. Sangat singkat.
"Aku sayang Kakak. Teruslah bahagia, Kak. Jangan pernah menangis lagi," ungkap Rayan dalam pelukan.
"Makasih. Kakak juga sayang kamu."
Semoga silaturahmi dan kekeluargaan di antara kalian selalu terjaga dan berada dalam ridho-Nya.
__ADS_1