Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 102


__ADS_3

Di perjalanan, kembali Busyro yang mengendarai motornya. Suasana hati Alfin sedang baik-baik saja saat ini, ia tak ingin memikirkan hal lainnya. Cukup membayangkan senyum Naina dan pelukan hangatnya sebelum perpisahan tadi.


"Apa syarat yang diajukan Naina, Fin?" tanya sang kakak, tapi tak mendapat tanggapan dari laki-laki yang duduk di belakangnya.


Alfin tengah hanyut dalam buai alam hayalan tentang rumah tangga yang akan merasa jalani kelak.


"Fin?" Busyro memanggilnya lagi, Alfin masih diam belum menjawab.


Ia mengubah letak kaca spion untuk melihat apa yang terjadi di belakang tubuhnya.


"Fin! Woy, kamu ngapain? Nantilah tunggu sampe kalo mau ngelamun!" sentak Busyro meninggikan suaranya.


Alfin mendengus, berdecak kesal karena merasa diganggu sang kakak.


"Apa, Kak!" Alfin memukul punggung Busyro pelan.


"Syarat yang diminta Naina sama kamu itu apa?" Busyro mengulangi pertanyaannya.


Alfin menghela napas, seandainya nggak ada kejadian tadi siang pernikahan mereka tak akan pernah seperti sekarang ini. Sudah pasti dihadiri banyak sanak saudara atau kerabat jauh dari kedua belah pihak. Namun, semua ini ada baiknya karena tak banyak orang mengetahui tentang aib sang istri.


"Dia minta kami tinggal terpisah dulu sampe umi kasih restu, Kak. Padahal rumah Alfin bentar lagi rampung, tapi harus sabar dulu." Alfin terdengar sedih karena gejolak rasa rindu yang membuncah.


Busyro bungkam, untuk permalasahan itu hanya menunggu Aminah menerima pernikahan mereka.


"Kakak nggak bisa ngelakuin apa-apa kalo itu, Fin. Cuma bisa berdoa semoga hati Umi kembali lembut seperti sebelumnya." Busyro menyesal. Keduanya menghening, larut dalam pikiran masing-masing.


****


Di ruangan Aminah, mereka menunggu kedatangan Alfin bersama Busyro. Duduk bertiga di sofa, sementara Aminah terbaring memunggungi. Hati tuanya merasa kecewa karena Alfin yang tidak meminta izin untuk menikah darinya terlebih dahulu.


"Alfin sama Naina ikut ke sini nggak, ya?" gumam Amaliah diiringi helaan nafasnya yang panjang.


"Kayaknya ikut, nggak mungkin tinggal di kamar Alfin yang sempit itu di masjid." Khadijah menimpali membayangkan kamar tidur sang adik yang hanya memuat cukup satu orang saja.


"Mungkin ikut sama papah Naina," gumam Amaliah lagi teringat pada Adrian yang datang mencari Naina.


"Kamu benar, Naina punya orang tua sekarang. Apa Alfin nggak mau bawa Naina ke rumah?" Khadijah menghela napas, mengingat betapa sakit menjadi Naina saat harus mendengar ucapan Aminah.

__ADS_1


Ahmad hanya diam dan mendengarkan dari balik buku yang dibacanya. Sesekali akan melirik kedua wanita itu, lalu melirik punggung Aminah.


"Kalian yang harusnya datang ke sana, jenguk Naina dan tunjukkan sama mereka bahwa kita menerimanya sebagai menantu," timpal Ahmad masuk ke dalam percakapan mereka.


Khadijah manggut-manggut, setuju dengan usul Ahmad. Begitu pula dengan Amaliah. Keduanya mulai menyusun rencana di dalam pikiran masing-masing, menentukan hari kapan mereka akan datang berkunjung ke rumah orang tua Naina.


"Tapi kita nggak tahu rumah orang tuanya," celetuk Khadijah sedih. Amaliah ikut menghela napas, mengingat video yang dikirimkan suaminya bertempat di masjid Alfin bukan sebuah rumah.


"Kalian, 'kan, bisa telepon Alfin. Tanya di mana rumahnya. Kalo pergi ke sana, jangan lupa bawakan hantaran. Abi ingin menggelar walimah ursy sebenernya untuk mengundang saudara-saudara jauh saja nanti kalo Umi kalian udah pulang," ucap Ahmad menurunkan buku yang dibacanya memandang kedua wanita itu.


"Iya, Bi. Takutnya jadi fitnah, tapi gimana sama Umi?" Khadijah hampir berbisik ketika menyebut kata umi. Ekor matanya melirik ranjang berisi Aminah, khawatir wanita tua di sana akan tersinggung.


Ahmad mendesah, melirik cemas pada istrinya yang tak bergeming di atas ranjang. Entah tidur, ataupun mendengarkan. Menetes air mata Aminah, bahkan berdiskusi di depannya saja ia tak diminta untuk memberikan pendapat.


"Kalian tanya sendiri sama Umi, jangan sampai Umi kalian itu merasa nggak dianggap lagi," sahut Ahmad yang tak pernah meleset dari dugaan.


Aminah terhenyak, tapi tetap diam tak bergerak. Laki-laki itu memang luar biasa, selalu tahu apa yang ada di hatinya. Khadijah dan Amaliah sama-sama menoleh pada ranjang Aminah. Memperhatikan napas wanita tua di sana dengan perasaan gelisah. Ada banyak pertanyaan yang timbul dalam benak, dan menuntut jawaban.


Beberapa saat menunggu suara salam dari orang yang mereka tunggu pun terdengar.


"Alfin?"


Khadijah dan Amaliah saling menatap sebelum keduanya beranjak menyambut.


"Wa'alaikumussalaam!"


Pintu terbuka, tak sabar keduanya ingin menyapa adik ipar mereka. Sementara Aminah menahan getir di hati, tetap pada posisinya yang memunggungi semua orang.


"Naina!" panggil Khadijah begitu kedua orang yang mereka tunggu memasuki ruangan Aminah.


Senyum manis mereka menyambut, tapi beberapa saat menunggu orang yang ditunggu tak kunjung muncul. Busyro dan Alfin saling menatap satu sama lain, kemudian menghendikan bahu tak acuh.


"Nggak ada Naina, Kak," beritahu Alfin seraya melengos masuk ke dalam dan menyalami Ahmad.


"Terus, dia kamu tinggal di mana? Apa dia tidur di kamar sempit kamu itu?" cecar Khadijah terdengar tidak terima jika benar Naina di sana.


Kedua pasang mata wanita itu menatap bingung sekaligus kesal kepada Alfin. Mereka mengira Alfin datang sambil membawa Naina, tapi hanya bersama Busyro saja.

__ADS_1


"Naina ikut orang tuanya, Kak. Kami memutuskan untuk tinggal terpisah sampai batas waktu yang nggak tentu," ucap Alfin.


Aminah terhenyak mendengar itu, perasaannya campur aduk sekarang. Ada sedih, kecewa, tapi sedikit rasa senang. Kenapa dia senang? Duh, Gusti!


"Kenapa, Nak? Apa nunggu diresmikan dulu secara hukum negara?" tanya Ahmad mengernyit dahi tuanya memandang sang anak.


Alfin menghela napas dan menjawab, "Salah satunya itu, Abi. Ada juga hal yang lainnya yang mengganggu pikiran Naina."


Ahmad menghela napas, melirik Aminah yang terus berpura-pura.


"Ini semua pasti ada sangkut pautnya dengan ucapan Umi kamu waktu itu, 'kan?" Pertanyaan Ahmad sangat tepat.


Alfin hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab dengan kata. Melirik pada Aminah, dan teringat pesan sang istri untuk tidak marah pada wanita tua itu.


Pandangan Alfin beralih pada Khadijah juga Amaliah, merasa kasihan karena selama ini kedua wanita itu yang menjaga Aminah terutama pada Khadijah yang tengah mengandung.


"Sebaiknya Kakak pulang. Biar aku sama Abi yang nunggu Umi di sini. Ikut aja sama Kak Busyro jangan sendirian. Udah malam," ucap Alfin.


Khadijah menghela napas, masih ingin di sana dan mendengar cerita sang adik tentang pernikahannya.


"Itu bener, Dijah. Kasihan anak-anak kamu juga suami kamu di rumah," timpal Ahmad teringat pada kedua cucunya yang ditinggalkan Khadijah karena harus menjaga Aminah.


"Iya, Bi." Khadijah menurut. Ikut bersama Busyro kembali ke rumahnya.


"Gimana orang tua Naina?" tanya Ahmad selepas kepergian kedua anaknya yang lain.


Alfin menunduk, bibirnya tersenyum teringat pada sikap hangat Adrian.


"Mereka baik, Abi. Papahnya Naina nggak marah sama sekali sama Alfin, Bi. Dia cuma sedikit tersinggung sama ucapan Umi aja. Selebihnya, mereka sangat baik dan bahkan mengundang keluarga kita untuk datang ke rumahnya," jawab Alfin terdengar riang.


Ahmad bersyukur, yang dicemaskan hatinya tak terjadi.


"Syukurlah."


Aminah lagi-lagi menangis, mendengar ucapan Alfin tentang keluarga Naina. Seharusnya mereka marah, seharusnya mereka tidak membiarkan kedua anak itu menikah. Seharusnya begitu, tapi kenapa mereka berbeda? Mereka masih bisa menerima Alfin, padahal tersinggung oleh ucapannya.


Aminah menyesal.

__ADS_1


__ADS_2