Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 28


__ADS_3

Sementara di tempat lain, di rumah besar dan mewah, seorang gadis lain sedang menelungkup sambil membaca majalah. Ditemani setoples kudapan, ia asik membolak-balik halaman demi halaman. Penampilannya sangat berbeda dengan yang waktu itu.


"Nadia!" panggil sebuah suara cukup lantang.


Gadis itu berdecak, kesal karena kesenangannya diganggu.


"Iya, Pah. Kenapa?" teriaknya dari dalam kamar.


"Ke sini sebentar!"


Nadia menggerutu kesal, ia bangkit dengan malas dan melangkah keluar. Terus berjalan dengan gontai sampai mencapai tempat keberadaan laki-laki yang memanggilnya. Ia ambruk di sofa, menatap malas sosok tersebut.


"Kenapa, sih, Pah? Aku lagi baca tahu," sungutnya sambil melipat kedua tangan di perut.


Laki-laki yang dipanggilnya papah itu menggelengkan kepala, tak abis pikir dengan sikap sang anak sepulangnya dari menempuh pendidikan di sekolah tinggi.


"Kamu nggak berubah juga, ya. Papah udah bilang kalo pulang kamu harus biasain pake kerudung. Malu sama tetangga. Apa kamu mau orang tua kamu ini diejek-ejek, hah? Katanya anak ustadz, kok, gitu?" cecar sang papah dengan kesal.


Ia menatap kecewa pada putri satu-satunya itu. Berharap akan berubah, nyatanya malah semakin menjadi.


"Gerah tahu, Pah. Ini, 'kan, di rumah nggak akan ada orang datang. Udahlah, kalo keluar juga aku pake kerudung, 'kan," ujarnya mengeluhkan keinginan sang papah.


Laki-laki itu menghela napas, menggeleng tak percaya pada anak yang ia besarkan.


"Kenapa Papah manggil aku ke sini?" tanyanya dengan malas.


"Nadia! Yang sopan, Nak, kalo ngomong sama orang tua," tegur seorang wanita dengan tampilan penuh. Tubuhnya terbalut kain longgar, hijab besar sempurna menutupi hingga ke perutnya.

__ADS_1


Di tangannya membawa nampan berisi teh hangat untuk ia hidangkan pada anak juga suaminya.


"Harus sopan gimana lagi, Mah? Ini aku juga udah sopan, nggak marah-marah," sengitnya sambil mengambil sekeping biskuit di piring.


Wanita itu menghela napas, melirik suaminya yang memegangi ponsel dan menatap lekat pada putri mereka.


"Papah abis telepon?" tanyanya seraya duduk di hadapan Nadia.


Laki-laki itu turut beranjak dan duduk di samping sang istri. Menghela napas untuk kemudian meraih cangkir berisi teh hangat.


"Tadi ustadz Ahmad telepon, kalo Alfin nggak mau dijodohin karena udah punya calon istri," katanya lesu.


"Dia, 'kan, cuma marbot. Nggak mungkin bisa menuhin kebutuhan aku, Pah. Syukurlah kalo dia nggak mau dijodohin," cibir Nadia sembari mengangkat bahunya tak acuh.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Kamu nggak boleh gitu, Nak. Walaupun dia itu cuma marbot, tapi itu pekerjaan mulia. Dia mengurus rumah Allah, masalah rezeki itu udah ada yang ngatur, kamu nggak perlu takut." Wanita itu menyayangkan sikap sang anak yang arogan.


"Tapi, Mah. Hidup sekarang ini serba duit, apa-apa duit. Di Jakarta, mau kencing aja bayar. Jadi, kalo aku nikah sama marbot yang nggak punya penghasilan gimana aku bisa perawatan? Buat makan aja susah," celetuk Nadia menghina profesi Alfin yang hanya seorang marbot.


"Astaghfirullah al-'adhiim, ya Allah." Wanita itu mengelus dada, merasa gagal mendidik sang anak.


"Tapi bener juga, Mah, yang dibilang sama Nadia. Anak kita itu serba kecukupan hidupnya dari kecil, apa-apa kita turutin. Sekarang, kalo tiba-tiba dia nggak bisa menuhin kebutuhannya dia pasti kaget," ujar sang papah membela anaknya.


Nadia berbinar setuju dengan pendapat papahnya. Akan tetapi, tidak untuk wanita itu. Ia hanya ingin anaknya berubah, untuk itu membawanya ke rumah ustadz Ahmad untuk menjodohkannya dengan Alfin.


Menurut kabar yang beredar, bungsu dari keluarga terpandang itu hanyalah seorang marbot masjid yang tidak berpenghasilan. Mengurus anak-anak yatim, mengajar mengaji dengan bayaran seikhlasnya. Bagi kebanyakan orang, mungkin itu pekerjaan orang malas.


Namun, bagi wanita itu tidak, yang dilakukan Alfin adalah pekerjaan mulia. Gajinya dibayar langsung oleh sang pemilik rezeki. Dia ingin anaknya hidup sederhana, mengerti makna kehidupan bersama Alfin. Tidak melulu menghabiskan uang, dan bisa lebih pandai bersyukur.

__ADS_1


"Dari dulu Papah emang selalu manjain anak kita. Hidup harus berubah, Pah. Udah saatnya Nadia belajar bersyukur. Mamah minta dia kuliah di Mesir supaya belajar mandiri, tapi dia malah milih di Jakarta dan hidup bebas. Terus Papah malah ngedukung dia bukannya Mamah," ungkap wanita itu dengan sedih.


Nadia mendengus, tak ada sama sekali penyesalan di wajahnya. Dia sudah terbiasa hidup enak, serba berkecukupan tak akan mau bersentuhan dengan kehidupan yang berada di bawahnya.


"Bukannya begitu, Mah. Nggak bagus juga kalo kita memaksakan keinginan kita kepada anak. Nadia udah dewasa, dia udah bisa memilih mana yang terbaik buat dia sendiri. Udahlah, nggak usah dibahas lagi. Ustadz Ahmad nyaranin kita buat bawa Nadia ke pondok keponakannya," ucap sang papah membuat wajah wanita berhijab itu berbinar terang kembali.


Namun, berbeda dengan reaksi Nadia. Kedua matanya menjegil tak senang, perjodohan lagi, dengan seorang alim.


"Pondoknya Nak Fahmi, Pah. Iya, kita pernah ke sana dan santrinya ... maa syaa Allah, banyak sekali. Emang dia belum menikah?" ujar sang mamah antusias.


"Katanya belum. Belum lama ini, ayahnya meninggal. Jadi, dia yang menggantikan posisi pemimpin di pondok tersebut. Yah, kalo Nadia mau kita ke sana aja sowan," jawab laki-laki itu sembari melirik pada anaknya.


Wanita itu menyentuh lembut tangan sang anak, lewat sentuhan itu ia mengatakan permintaannya.


"Kamu mau, ya, Nak. Nak Fahmi insya Allah orangnya sholih dan alim. Dia pasti bisa ngebimbing kamu menjadi istri yang sholihah. Dia lulusan mesir, dan sekarang kabarnya menjadi dosen di kampus ternama di kota ini," pinta sang mamah tulus dari lubuk hati yang terdalam.


Nadia mendengus, menggerutu dalam hati karena harus berhadapan dengan seorang ustadz yang mengharuskannya mengenakan kerudung sama seperti sang mamah.


"Kamu nggak akan kekurangan kalo nikah sama Fahmi. Dia punya penghasilan tetap, rumah sudah ada tinggal nempatin, tapi kamu harus menyesuaikan penampilan kamu karena Fahmi tinggal di dalam pondok pesantren," ujar sang papah tak membuat Nadia tampak senang.


Ia mendelik malas, membayangkan kehidupannya yang harus ikut berubah.


"Papah udah terlanjur bilang kalo kamu ini lulusan Mesir, Nak. Jadi, mau nggak mau kamu harus menyesuaikan diri," sambungnya lagi sukses membuat kedua mata sang istri membelalak kaget.


"Astaghfirullah al-'adhiim, Pah! Kenapa Papah berbohong kayak gitu? Ya Allah, Pah. Kenapa nggak jujur aja kalo anak kita itu sekolah di Jakarta." Wanita itu tampak kecewa, hatinya teriris perih karena anak dan suaminya telah dibutakan oleh dunia.


"Mau gimana lagi, Mah. Papah malu kalo harus bilang anak kita sekolah di Jakarta." Sang suami berkilah demi mempertahankan kehormatannya sebagai seorang ustadz di kota tersebut.

__ADS_1


"Ya Allah. Terserah kalian aja. Mamah kecewa sama kalian!" Dia pergi begitu saja, mengunci diri di dalam kamar. Menangis sendirian, menyesali ketidakmampuan menjadi seorang istri juga ibu yang baik di rumah itu.


__ADS_2