
Naina menghela napas saat baru saja kakinya menapak pada aspal. Ia berhenti sedikit jauh dari toko, agar tidak terlihat oleh rekan-rekan kerjanya. Menatap bergantian antara toko dan masjid.
Ramai kendaraan yang terparkir di halaman masjid itu. Naina menjadi gugup saat pemuda yang ingin dijumpainya, berada di sana menyambut para tamu. Hari itu ada banyak anak-anak lagi yang datang. Memenuhi masjid besar di seberang toko tempatnya bekerja.
Naina menarik napas lagi, melangkah pelan dan masuk ke dalam antrian orang-orang berpakaian serba putih. Ia melirik dirinya sendiri, celana kulot hitam, kemeja panjang berwarna krem dan kerudung dengan warna yang serupa.
"Jadi nggak percaya diri kayak gini, ya." Ia mengeluh, kemudian melanjutkan langkah memangkas antrian untuk dapat masuk ke halaman masjid.
Alfin mengernyit melihat seorang gadis yang tertunduk di dalam antrian panjang itu. Ia mempertajam matanya, untuk dapat melihat dengan jelas siapa sosok yang tertunduk di sana.
"Naina?" gumamnya saat mengenali sosok dibalik balutan hijab krem itu. Ia tersenyum sumringah, terlebih melihatnya yang tertutup sempurna.
"Pak Ustadz-"
"Pergilah, temui dia. Kemarin dia datang cari kamu ke sini," sela pak ustadz yang langsung mengenali sosok Naina di antara para tamu.
"Makasih, Pak," ucap Alfin seraya pergi menemui gadis itu. Dia masih berada di dalam antrian, entah apa yang sedang dilakukannya di sana.
Wajah Alfin bersemu, tangannya bergetar, jantungnya berdebar, seiring langkah terus mendekat pada dirinya. Ia berhenti menunggu Naina datang mendekat. Lidahnya kelu karena gugup melihat sang pujaan hati yang terbalut dengan penutup kepala.
"Naina!" panggil Alfin lirih nyaris seperti bisikan.
Sontak langkah Naina terhenti, matanya membelalak dalam keadaan tertunduk. Dadanya berdebar-debar tak menentu, membuatnya sulit mendapatkan pasokan udara.
"Naina! Di sini," panggil Alfin lagi tak sabar ingin segera bertatapan dengannya.
Naina mengangkat wajah, melirik ke samping kiri tubuhnya. Ia kembali menunduk menghindari tatapan Alfin. Lagi-lagi menghela napas, dan berjalan keluar dari barisan sambil menunduk.
Naina berdiri salah tingkah di hadapan Alfin. Memainkan ujung hijab demi menekan rasa gugup yang datang melanda. Pemuda di hadapannya tak henti melihat Naina, jantungnya tak lagi berirama, berlomba dengan detak sang waktu.
Alfin mengigit bibirnya, sesuatu yang hangat menjalar hingga mencapai pucuk daun telinga. Ia menunduk, diam-diam melirik Naina yang tak kunjung mengangkat wajahnya.
"Kamu ... cantik pake kerudung," pujinya lirih.
Naina memejamkan mata sambil menggigit daging dalam bibirnya. Bunga-bunga bertaburan di hati, rasa ada ribuan kupu-kupu menggelitik di bagian perut. Dia ingin berjingkrak riang untuk meluapkan rasa bahagia.
__ADS_1
"Makasih," lirihnya tanpa berani menatap Alfin.
"Mau ngomong sekarang apa nanti?" tanya Alfin membuat Naina tersadar pada tujuannya datang.
Senyumnya surut, bunga-bunga di hatinya terus layu dan berguguran di atas tanah tandus. Ia mengangkat kepala, bertatapan dengan wajah teduh yang tersenyum padanya.
Naina tak ingin hanyut oleh kelembutan ucapannya, dia tidak akan lupa pada penolakan juga penghinaan yang dilakukan dua laki-laki sebelumnya. Untuk menyiapkan hati agar tidak lagi merasakan sakit.
"Sekarang juga boleh. Lebih cepat selesai lebih baik," sahut Naina lebih berani.
"Ayo!" Alif meliriknya, merasa ada yang aneh dengan sikap Naina. Ia membimbing gadis itu menuju sebuah gazebo yang sedikit jauh dari masjid.
Duduk berjauhan, tanpa berani saling memandang. Keduanya ditelan sepi, tak satu pun dari mereka ada yang mengawali pembicaraan. Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah memperhatikan di kejauhan. Menunggu waktu yang tepat untuk menangkap basah keduanya.
Alfin menghela napas, menatap bangunan asrama yang memanjang. Semua anak berada di masjid mengikuti kajian yang dibawakan seorang ulama di kota tersebut.
"Orang tuaku pengen ketemu sama kamu, Nai," ujar Alfin mengawali pembicaraan.
Ia menghela napas, melirik Naina dalam diam. Gadis itu terus menunduk tak berani mengangkat wajahnya.
Ia memainkan kerudung, menepis rasa gugup yang semakin lekat hadirnya.
"Teman? Kayaknya aku nggak mau ngenalin kamu sebagai teman. Gimana kalo sebagai calon istri?" ujar Alfin berterus terang tentang hatinya.
Naina menghela napas, menoleh pada pemuda yang duduk berjarak dengannya.
"Apa itu dari hati kamu sendiri? Kamu benar mau jadikan aku istri kamu?" Naina kembali bertanya untuk meyakinkan ucapan Alfin.
Pemuda itu tersenyum, mengangguk dengan pasti.
"Itu kalo kamu bersedia jadi istri aku. Aku nggak mau berlama-lama lagi, alangkah lebih baiknya kita langsung menikah saja kalo orang tua sudah setuju," ungkap Alfin bersungguh-sungguh.
Naina mendesah, kembali tertunduk merasa ragu dengan keyakinan dan kesungguhan pemuda itu.
"Ada apa? Apa kamu nggak mau jadi istri aku? Atau kamu butuh waktu buat berpikir?" tanya Alfin terlihat bingung dengan sikap Naina yang justru murung setelah mendengar lamarannya yang secara tidak langsung.
__ADS_1
Naina menggelengkan kepala, membungkam mulutnya untuk beberapa saat. Ia sedang menyiapkan hati untuk mengatakan sebuah kebenaran.
"Terus kenapa?" Alfin resah, rasa gelisah merundung jiwa melihat sikap Naina yang diam.
"Aku ... aku ...." Sungguh berat lisannya mengatakan kebenaran.
"Apa artinya kamu mau jadi istri aku?" desak Alfin tak sabar ingin mendengar kepastian.
Lagi-lagi Naina mendesah berat, kemudian menggelengkan kepala.
"Aku nggak tahu, Alfin. Kamu nggak tahu siapa aku. Aku jadi ragu apabila kamu dengar dan tahu semuanya, mungkin saja kamu berubah pikiran karena sudah berkali-kali aku mengalami hal tersebut," ungkap Naina mulai memberanikan diri mengungkap asal-usulnya.
Kerutan di dahi Alfin semakin dalam terlihat, pikiran-pikiran aneh mulai menyambangi otaknya. Mencuci dan mengotori dengan prasangka buruk yang tak seharusnya ada.
Jangan-jangan ....
"Emangnya apa itu? Aku mau tahu, kenapa mereka sampai menolak kamu? Tapi kalo itu justru hanya akan menyakiti hati kamu, baiknya nggak usah dikatakan," ujar Alfin meskipun tidak tahu apa yang terjadi pada Naina di masa lalu. Ia akan siap mendengarnya bila Naina bersedia mengungkap.
"Bukan begitu. Sekarang, aku sudah lebih siap kalo itu terjadi lagi padaku." Naina menggigit bibir, meyakinkan hatinya bahwa dia sudah siap.
"Jika berkenan, maka baiknya kamu bilang. Supaya nggak ada rahasia di antara kita. Aku juga punya sesuatu yang harus kamu tahu," ucap Alfin meyakinkan Naina bahwa apapun yang dia katakan, tak akan merubah keputusan Alfin.
Naina berbalik memunggungi pemuda itu, tak berani menampakkan wajahnya yang menyedihkan.
"Alfin. Mungkin kamu nggak tahu atau bahkan semua orang nggak tahu kalo aku ini nggak seperti gadis lainnya. Aku berbeda dengan mereka, Alfin. Aku ... aku adalah anak yang hadir sebelum pernikahan. Sebuah kesalahan, dan mereka memanggilku dengan sebutan anak haram. Kata ibu, anak yang hadir sebelum pernikahan dinasabkan pada ibunya bukan bapaknya. Itu artinya aku nggak punya nasab, aku nggak punya wali."
Alfin tertegun mendengar itu, tapi tetap diam membiarkan Naina melanjutkan ucapannya.
"Aku sendiri nggak tahu siapa bapak biologisku? Di mana dia? Masih hidupkah atau sudah berkalang tanah? Aku nggak tahu. Karena masalah inilah, aku pernah mendapat penolakan dua kali dari laki-laki yang mau melamarku, bahkan mereka merendahkan aku dan menghina ibuku. Sampai akhirnya aku harus kehilangan sandaran hidup untuk selamanya. Ibuku meninggal, dan aku sendirian."
Naina terisak lirih, bukan ingin dikasihani, tapi karena teringat pada Lita. Alfin menundukkan kepala, mulai berpikir tentang Naina.
"Kalo kamu nggak bisa nerima aku, maka setidaknya tolak aku dengan baik. Jangan menghinaku apalagi merendahkan aku."
Naina menunduk dalam-dalam. Menyesali kisah hidupnya.
__ADS_1
"Siapa bilang?"