
Di kursi kayu itu, sang pemuda tak henti-hentinya memainkan jemari. Sesekali akan mengusap peluh yang bercucuran di dahi. Berusaha menenangkan keadaan hati, tapi rasa gugup nyatanya enggan untuk pergi.
Gadis di sampingnya berkali-kali melirik memperhatikan. Kedua alisnya yang tebal saling bertautan, bertanya-tanya dalam kebingungan. Sesekali bibirnya mengulas senyuman ... oh, dia tahu. Pemuda itu tengah berusaha keras melawan kegugupan.
"Mas Yusuf kenapa? Kok, gemetaran gitu? Keringatnya juga keluar banyak, lho," tanya Biya dengan alunan suara yang mendayu-dayu merdu.
Ah! Hati! Mengapa tak dapat diajak berkompromi. Tenanglah sejenak, biarkan Yusuf bercengkerama dengan sang pujaan hati.
"Eng-enggak, kok. A-aku se-sedikit grogi aja," sahut Yusuf terbata-bata dan lirih.
Biya tertawa kecil, pemuda di sampingnya amat menggemaskan. Bolehkah ia mencubit pipi yang sedikit gembil itu? Menggoyang-goyangkannya ke kanan dan kiri, dan ... dan ... tidak! Hentikan pemikiran itu, Biya!
Ia melirik kotak tisu, mengambilnya dan memberikannya kepada Yusuf.
"Ini, Mas. Dilap dulu keringetnya, nanti basah ke baju," ucap Biya.
Oh! Suara itu begitu syahdu di telinga Yusuf. Menciptakan ruang rindu, membentuk keyakinan bahwa dialah tulang rusuknya yang hilang. Gemetar tangan itu menerima apa yang diberikan Biya. Menarik isinya dengan secepat kilat, mengusap keringat dengan gerakan cepat.
"M-makasih, Mbak." Yusuf menganggukkan kepala tanpa menoleh, terlalu malu jika kedapatan bersemu. Pipinya terus terasa panas, pastilah semerah udang rebus yang siap disantap.
Suara tawa menggelitik hatinya itu kembali terdengar, berbunga tak terkira. Berdenyut-denyut penuh bahagia, telinga ingin selalu mendengarnya. Bisakah dia?
"Nggak usah panggil mbak, Mas. Panggil aja Biya. Aku boleh tanya sama Mas Yusuf?" ujar Biya semakin membuat jantung Yusuf bertalu-talu tak menentu.
"I-iya, bo-boleh." Yusuf menganggukkan kepala, sama sekali tidak menoleh pada gadis di sampingnya.
Biya tak mempermasalahkan hal tersebut, ia mengerti perjuangan Yusuf menormalkan hatinya. Gugup karena berhadapan dengan perempuan asing. Dari sanalah Biya tahu, pemuda itu tak pernah berurusan dengan perempuan.
"Tadi itu spontan atau memang dari hati Mas Yusuf sendiri?" Tentang ucapan Yusuf yang tanpa berpikir lagi mengajaknya menikah.
__ADS_1
Yusuf gamang, perlukah ia menjawab? Sedangkan lidah begitu kelu untuk diajak bergerak. Apa gadis itu tak tahu jika ia tengah berjuang agar tetap sadar?
"Ka-kamu ma-maunya gimana? A-aku juga nggak bisa maksa kalo kamu nggak mau." Sebuah kalimat panjang yang diucapkan Yusuf sejak tiga puluh menit lalu mereka duduk di sana.
Biya kembali tertawa, sebuah tawa yang menggelitik hati Yusuf. Ingin menggenggamnya, agar tak hilang dari hidup.
"Yah, aku ini udah dewasa, Mas. Nggak mungkinlah kalo pacar-pacaran, karena memang aku nggak mau pacaran. Kalo ada yang serius mau nikahin aku, kenapa harus aku tolak?" ungkap Biya sembari melirik Yusuf yang perlahan memalingkan wajah padanya.
Beberapa saat beradu pandang, Yusuf kembali membuang wajah.
"Sekalipun itu orang lain? Bukan aku?" Pertanyaan lirih dari Yusuf membuat Biya merasa gemas.
"Nggak. Justru karena pemuda itu adalah Mas Yusuf, makanya aku nggak akan nolak."
Yusuf berpaling mendengar jawaban dari Biya, pandang mereka bertemu. Senyum Biya begitu manis, garis wajah yang sedikit mirip dengan sang kakak, membuai pandangan Yusuf.
"Ka-kamu ... yakin? Kenapa kalo itu orang lain?" Yusuf bertanya penasaran.
"Aku juga nggak tahu. Aku cuma yakin, Mas Yusuf adalah jawaban doa yang aku langitkan. Semoga aku nggak salah menduga," jawab Biya diakhiri dengan senyuman, membuat Yusuf terharu.
Pemuda itu mematri tatapan untuk beberapa saat lamanya pada kedua manik Biya yang coklat. Lalu, menunduk, mencerna kalimat Biya.
"Aku bukanlah orang berada. Hanya seorang yatim piatu yang hidup terlunta di jalanan. Nggak punya pendidikan, mencari sesuap nasi cuma dari barang bekas yang aku kumpulkan. Lalu, bertemu dengan seorang pemuda ... seorang teman yang merangkul bahuku untuk bisa hidup dengan layak." Yusuf menghela napas.
"Dia mengajari aku cara berhitung cepat, dia mengajari aku menulis, membaca dunia yang nggak pernah ada dalam mimpi sekalipun. Jadilah sekarang aku seperti ini. Orang-orang menyebutnya sekretaris ataupun asisten. Apa kamu masih mau menikah dengan pemuda yatim piatu dan nggak berpendidikan sepertiku?" Yusuf kembali memalingkan wajah menatap Biya.
Tercenung gadis itu mendengar dengan khusyuk kisah singkat hidup seorang Yusuf. Senyum Biya terbit bagai mentari pagi yang menghangatkan.
"Nggak masalah, kalo itu Mas Yusuf. Orang yang mendapat pendidikan di bangku sekolah saja belum tentu mampu berada di posisi Mas Yusuf sekarang. Hanya orang-orang tertentu yang hebat, yang hanya belajar dari alam, tapi dia mampu membenahi diri. Semua itu nggak masalah buat aku," jawab Biya setelah meyakinkan hatinya bahwa Yusuf memanglah jawaban doa.
__ADS_1
Pemuda itu tertegun mendengarnya, rasa tak percaya dia bisa diterima meski memiliki latar belakang yang tak sempurna.
"Ka-kamu ... yakin?" Yusuf bertanya setelah beberapa saat mencari kejujuran di kedua manik itu.
Biya menganggukkan kepala, tak perlu lagi menunggu lama. Hatinya sudah yakin untuk menikah dengan Yusuf. Seorang pemuda sederhana dan apa adanya. Kalimat yang diucapkan lisannya mengalir alami tidak dibuat-buat.
"Kalo gitu, kapan kita akan menikah? Aku harus menyiapkan segalanya agar kamu nggak perlu merasa malu," ucapnya antusias.
Gugup menjadi hilang, berganti semangat yang menggebu. Inilah yang dia tunggu, memiliki pasangan hidup yang bisa menerima dia apa adanya.
"Tapi tunggu! Apa kamu ini mikir aku sekretaris kantoran kayak di film drama itu? Bukan, Biya. Aku cuma sekretaris biasa yang kerja di toko matrial. Bukan sekretaris yang duduk di kursi bagus di ruangan ber-AC. Bukan!" ujar Yusuf menolak pemikiran Biya tentang sekretaris kantoran berdasi.
Tapi aku yakin, aku mampu mencukupi kebutuhan kamu karena aku punya Allah Yang Maha Kaya. Yusuf melanjutkan kalimatnya di dalam hati.
"Nggak masalah karena itu Mas Yusuf!" tegas Biya tanpa keragu-raguan.
Yusuf adalah seorang pemuda yang jujur, berani mengatakan dari mana dia berasal. Berani mengungkap pekerjaan yang dia geluti tanpa harus berbohong hanya untuk diterima. Biya menyukainya.
"Masalah pernikahan, nanti kita bicarakan lagi sama kakak aku. Mas Yusuf ada keluarga?" tanya Biya karena tak mungkin rasanya seseorang tidak memiliki keluarga.
Yusuf menganggukkan kepala, dengan yakin menjawab, "Punya satu. Bos Alfin, cuma dia keluarga yang aku punya."
Hati Biya merasa getir, senyum di bibirnya surut. Betapa Yusuf seseorang yang malang, tidak tahu siapa dan di mana keluarganya. Hanya Alfin? Sedangkan mereka adalah teman.
Biya kembali tersenyum, tak masalah. Laki-laki membawa diri sendiri, tak memerlukan wali seperti halnya perempuan.
"Makasih karena kamu mau nerima aku apa adanya," ucap Yusuf mengulas senyum yang tulus dari hati.
"Sama-sama. Makasih juga karena Mas udah nolong aku tadi pagi dan bawa aku ke sini. Aku nggak tahu kalo waktu itu aku nolak, mungkin ... ah, nggak tahu," ungkap Biya sembari menghendikan bahu.
__ADS_1
"Mungkin sudah jalannya kita ketemu."
Biya mengangguk menimpali ucapan Yusuf.