Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 87


__ADS_3

Kedua wanita di dalam ruangan itu masih sama-sama terdiam dan hanyut dalam tangis kesedihan. Aminah tergugu karena merasa Ahmad sudah tak peduli lagi kepadanya. Khadijah menangis karena Aminah tak lagi sama. Dengan alasan masing-masing itu mereka saling berpaling satu sama lain.


"Seharusnya Umi nggak ngomong kayak gitu. Gimana perasaan Umi sebagai ibu kalo yang diomongin itu anak Umi sendiri?" lirih Khadijah memberanikan diri mengungkapkan isi hati.


Aminah tidak menanggapi, terlalu hanyut oleh sikap Ahmad yang pergi begitu saja.


"Dijah nggak mau kehilangan sosok ibu yang bijaksana. Dijah nggak mau wanita yang lisannya selalu berkata baik itu pergi dari kehidupan Dijah. Kembali, Umi. Kembali kepada kami," lanjut Khadijah tersedu-sedu menahan kesedihan hati.


Isak tangis Aminah mulai mereda mendengar ungkapan isi hati putri sulungnya. Hati dan pikirannya saat ini sedang tidak saling berhubungan satu sama lain. Keduanya berlawanan arah tak dapat bertemu dalam satu kesepakatan.


"Umi nggak pernah pergi ke mana-mana, Dijah. Kalian yang ninggalin Umi satu per satu. Kamu lihat! Abi kamu itu pergi gitu aja tanpa pamit mau ke mana sama Umi. Kalian yang ninggalin Umi," kilah Aminah kembali tersedu pilu.


Khadijah menggelengkan kepala, diangkatnya wajah untuk dapat melihat sosok wanita mulia yang telah melahirkannya itu.


"Bukan Abi yang ninggalin Umi, tapi keegoisan Umi yang mengusir Abi tanpa sadar. Kenapa Umi berubah? Di sini Naina adalah korban sesungguhnya. Dia nggak seharusnya disalahin. Kalo Umi tahu seperti apa kronologis kejadiannya, aku yakin Umi pasti merasa kasihan sama gadis itu. Dia yang paling merasa terpukul dan pastinya trauma." Khadijah melayangkan tatapan kecewa pada Aminah yang dulu menasehati Alfin untuk memberikan dukungan kepada Naina.


Aminah tercenung, teringat akan nasihatnya dulu untuk Alfin agar tidak meninggalkan Naina. Mengapa kini ia berubah haluan? Apakah karena Alfin dipenjara?


"Itu sebelum Alfin ditangkap polisi dan masuk penjara, Dijah. Umi nggak nyangka demi menolong gadis itu, Alfin sampai lepas kendali," ujar Aminah tidak bisa menerima perkara pembunuhan itu.


"Di mana dia waktu Alfin menolongnya? Kenapa dia nggak mencegah anak Umi supaya nggak membunuh orang. Di sini, dialah yang paling bersalah, dan yang seharusnya dipenjara itu Naina bukan Alfin!" Aminah menuangkan isi hatinya kepada Khadijah.


Wanita hamil itu menggelengkan kepala sambil mengucap istighfar dalam hati. Sungguh tak menduga, seorang wanita yang selama ini selalu berbicara lembut dan bijaksana kini bergeming pada kekerasan hatinya.


"Naina nggak pernah meminta Alfin buat membunuh mereka, Umi. Dia korban, mungkin untuk berdiri aja dia nggak bisa waktu itu. Kenapa Umi jadi keras kepala kayak gini? Kenapa Umi jadi egois kayak gini? Kenapa, Umi?" rengek Khadijah semakin histeris tangisannya.


Yang mereka tak sadari adalah Naina berada di balik pintu ruangan Aminah dan mendengarkan semuanya. Ia yang hendak menjenguk karena kabar dari Khadijah, urung masuk ke dalam dan memilih pergi meninggalkan lorong tersebut.


Memang aku yang bersalah di sini. Akulah yang paling bersalah. Seharusnya malam itu aku nggak minta bantuan Alfin. Seandainya aku nggak minta tolong sama Alfin, mungkin dia nggak akan di penjara, tapi kalo bukan sama Alfin ... sama siapa lagi aku minta tolong?


Naina tertunduk menyembunyikan air matanya yang meleleh membasahi pipi. Disapunya dengan cepat setiap air itu jatuh dari tahta.


Yang seharusnya dipenjara itu Naina, bukan Alfin!


Suara Aminah yang menggelegar itu berdenging di telinganya. Sungguh, kata-kata yang ia ucapkan amat perih menyayat hati. Semakin deras air mata turun hingga kedua bahu terguncang hebat.


Di lorong, ia berpapasan dengan kakak kedua Alfin, tapi tak mau mendengar kala mereka memanggilnya.


"Naina!" lirih Amaliah ketika mengenali sosok gadis yang berjalan tertunduk itu.

__ADS_1


"Mas, Naina. Kenapa dia nangis, ya?" Amaliah menarik tangan suaminya yang terus berjalan untuk berhenti.


"Mana?" Busyro menatap sekitar, tapi tak bisa melihat sosok yang dimaksud istrinya.


"Itu! Coba lihat, dia nangis kayak gitu. Kenapa, ya?" Amaliah terus menatap punggung Naina yang semakin menjauh, dia tidak terlalu dekat seperti Khadijah dengannya.


"Mungkin dari ruangan Umi dan nggak tega melihat keadaan Umi," sahut Busyro.


"Kita ke sana, Mas." Amaliah menghampiri Naina, dan memanggilnya.


"Naina! Naina, tunggu!"


Namun, gadis itu terus berjalan, semakin mempercepat langkahnya. Ia tak ingin berurusan dengan siapapun dari keluarga Alfin saat ini.


"Naina!" Langkah Amaliah terhenti ketika Busyro mencekal tangannya.


"Mas! I-itu ...." Tangannya berhenti di udara, masih ingin bertanya padanya.


"Udah. Nggak apa-apa," sahut Busyro.


Keduanya kembali berbalik dan melanjutkan langkah menuju ruangan Aminah. Mata Amaliah tak sengaja menangkap satu sosok yang berada di lorong lain, berjalan gontai sendirian. Entah ke mana dia akan pergi.


Pupil Busyro membesar ketika menyadari itu adalah Ahmad.


"Iya. Itu Abi!" Ia melangkah dengan cepat, mendatangi sosok yang terus berjalan tanpa peduli sekitar.


"Abi!"


Langkah Ahmad terhenti sebentar, tapi kemudian berlanjut.


"Abi mau ke mushola, kalian duluan aja ke ruangan Umi," ucap Ahmad sambil terus berjalan tanpa menoleh pada anaknya.


Melihat ada yang janggal, laki-laki itu memapak langkah Ahmad. Menatap wajah basahnya yang sedih. Ahmad tertunduk, mengusap mata dengan pelan tak ingin anaknya melihat.


"Abi nangis? Ada apa?" tanya Busyro, perasaan gelisah terus hadir dalam hati menguasai emosi.


Ahmad tersenyum, menggelengkan kepala kemudian. Ia menepuk bahu anaknya, menyembunyikan kegetiran hati.


"Nggak ada apa-apa. Udah sana, Umi udah nungguin kalian," ucap Ahmad tak ingin berlama-lama berhadapan dengan anaknya itu.

__ADS_1


Ia melanjutkan langkah menuju mushola rumah sakit. Mengambil wudhu dan menunaikan shalat sunah untuk menenangkan hati.


Busyro menghela napas, mengajak Amaliah untuk pergi ke ruangan Aminah. Di dalam sana, kedua wanita itu masih bersitegang. Tak ada yang mau mengalah satu sama lain.


Pintu berderit, Khadijah memandang ke arahnya, tapi tidak dengan Aminah. Ia justru berpaling ke arah jendela mengira yang datang adalah Ahmad.


"Assalamu'alaikum! Umi, Kakak!"


"Wa'alaikumussalaam!"


Aminah segera berpaling, menyusut air matanya tak ingin terlihat menyedihkan. Busyro mengernyit, hati mulai bertanya-tanya ada apa dengan mereka semua? Ia menahan diri untuk tidak bertanya dan menyalami keduanya.


"Ini ada apa, Kak? Tadi aku lihat Naina nangis, terus Abi juga. Sekarang, Umi sama Kakak. Ini ada apa?" tanya Amaliah tak dapat menahan dirinya.


Khadijah mengerutkan dahi mendengar nama Naina. Menduga gadis itu telah mendengar semua percakapan mereka.


"Kalian ketemu dia di mana?" tanyanya terbata.


"Di lorong, Kak. Aku panggil-panggil, tapi malah lari," jawab Amaliah menatap bingung kedua manusia itu.


"Astaghfirullah al-'adhiim!" Khadijah mengusap wajahnya, dia pasti mendengar ucapan Aminah. Tidak salah lagi.


"Ada apa, Kak?" tanya Busyro turut merasa cemas.


"Nggak ada apa-apa, kalian nggak usah terlalu mikirin itu," sambar Aminah sambil tersenyum pada keduanya. Jejak tangisan di wajah, tak dapat ia sembunyikan. Busyro masih dapat melihatnya.


Pasti ada yang salah di sini. Aku akan mencari tahunya nanti.


Busyro mendekat, dan duduk di kursi samping ranjang Aminah. Menatap wanita tua itu dengan lembut.


"Gimana keadaan Umi?" tanyanya.


Aminah tersenyum, mengusap tangan Busyro yang menyentuh kakinya. "Alhamdulillah, Umi udah lebih baik," katanya.


Brak!


"Ada apa ini?!"


"Alfin!"

__ADS_1


__ADS_2