Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 163


__ADS_3

Keesokan harinya, Alfin pergi ke toko perhiasan mencari sebuah kalung yang menurutnya cocok untuk dipakai Naina. Selepas mengantar anak-anak sekolah. Memang bukan kalung berlian, tapi Naina pasti akan merasa senang karena itu adalah hadiah pertama yang dia berikan selama mereka menikah.


Ia tersenyum puas, membayangkan reaksi Naina yang tersenyum bahagia saat menerima hadiah tersebut. Alfin membungkusnya menjadi sebuah kado, dan disimpan dalam tas yang dibawanya.


"Mudah-mudahan Naina suka." Ia melangkah dengan hati bahagia meninggalkan pertokoan. Melanjutkan tujuan pergi ke toko untuk bekerja.


Sementara Naina, berniat mengunjungi rekan kerjanya di toko seberang masjid. Sebelum itu, dia merapikan rumah, menyapu halaman dan apa saja yang perlu dirapikan sebelum pergi.


"Mas, aku mau main ke toko seberang, ya?" izinnya saat menelpon Alfin. Ia menimang sebuah benda di tangan sambil tersenyum-senyum malu. Sesuatu yang akan ia tunjukkan kepada Alfin di malam nanti.


"Iya, sayang. Jangan jauh-jauh, papah suruh kamu juga duduk di sana, 'kan? Kalo emang udah siap, sekali-kali kamu belajar mengelola bisnis itu."


Suara Alfin membentuk senyuman di bibir Naina, memang seperti itu titah dari Adrian. Jika sudah siap menempati kursi itu, maka ia akan memperkenalkan Naina pada semua karyawan sebagai pemilik baru toko tersebut.


"Iya, insya Allah. Pelan-pelan aja. Ya udah, Mas. Hati-hati, ya. Jangan terlambat pulang," pinta Naina melirik kembali benda di tangannya.


"Iya. Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumussalaam!"


Ia menutup sambungan, menatap kembali tangannya sebelum menyimpan benda tersebut ke dalam sebuah wadah. Naina beranjak membawa kue yang sengaja dia buat untuk teman-teman di tokonya.


"Bismillahirrahmanirrahim!" Naina keluar rumah dan mengunci pintunya. Tak lupa pula memeriksa kamar anak-anak memastikan mereka telah menguncinya.


Ia berjalan keluar gerbang, menutupnya lanjut melewati masjid untuk menyebrang jalan. Di depan toko, Tika melambaikan tangan padanya. Istri Alfin itu segera beranjak di saat jalanan sepi dari kendaraan.


"Mbak Tika!" Naina memeluk wanita itu melepas kerinduan. Masuk ke dalam dan menyapa semua teman-temannya.


"Wah, ada Bu Bos. Bawa apa ini," goda mereka sembari mendekati Naina.

__ADS_1


"Bu Bos apanya? Ini buat kalian, makan aja. Halal." Mereka tertawa, kehadiran Naina melengkapi personel karyawan toko itu. Di antara mereka juga sudah ada manager pengganti Anton, juga karyawan pengganti Naina.


"Udah ngisi belum?" Mereka menggoda.


"Ya, doanya aja. Mudah-mudahan Allah kasih kepercayaan secepatnya." Naina tersenyum malu-malu.


Beberapa saat berbincang, deru motor menyita perhatian mereka. Beberapa pemotor berhenti di depan toko yang mereka kira satu kelompok geng motor yang tengah menjalankan touring. Mereka masuk ke dalam toko, berbelanja minuman juga aneka camilan.


"Ngapain? Kok, ngelihatin mereka terus?" tegur salah satu anggota pemotor itu pada seorang perempuan yang tercenung menatap dua orang wanita di kasir.


"Itu kayak perempuan yang kemarin aku lihat sama Alfin," jawabnya sedikit ragu lantaran hanya sekelebat mata saja ia melihat.


"Beneran itu orangnya? Jangan sampai salah, nanti bisa-bisa bikin rusuh." Temannya mengingatkan.


"Iya, nggak tahu juga, sih. Gimana kalo kita selidikin, siapa tahu kita dapat info." Sedikit hatinya meyakini bahwa salah satu wanita yang di sana adalah seseorang yang bersama Alfin.


"Hhmm ... boleh, tapi kayaknya nggak bisa barengan. Biar aku aja nanti yang ngikutin dia." Mereka mengangguk setuju. Tak lepas pandang dari sosok Naina yang tengah berbincang bersama Tika.


"Kamu jangan lengah, ikuti terus ke mana dia pergi. Kayaknya dia kerja di toko itu." Mereka mulai berdiskusi, menunggu Naina keluar dari toko.


"Iya, soalnya kalo cuma pembeli nggak mungkin selama itu di dalam sana."


Menjelang siang, salah satu dari mereka bersiap-siap pergi di saat melihat Naina keluar dari toko sambil membawa sekantong belanjaan. Ia menyebrang, kemudian berdiri menunggu seseorang.


"Dia nggak ke mana-mana. Coba lihat, berdiri di pinggir jalan." Di kejauhan berpasang-pasang mata terus memperhatikan.


"Mungkin lagi nunggu jemputan. Siapin kendaraan." Tergesa menyiapkan sebuah sepeda motor yang akan mereka gunakan untuk menguntit Naina.


Berselang, sebuah mobil berhenti di hadapan Naina. Mereka pikir, wanita itu akan naik jadilah mereka bersiap menyalakan sepeda motor. Namun, tiga orang anak turun dari mobil tersebut, dan memeluk Naina.

__ADS_1


"Hati-hati, sayang. Di rumah aja jangan ke mana-mana lagi. Kunci gerbang, perasaan Mas nggak enak." Alfin memperingatkan Naina, ada rasa gelisah yang tiba-tiba muncul di hatinya.


"Kenapa, Mas? Tadi ada sekelompok orang pake motor masuk ke toko, terus mereka lihatin aku terus. Aku juga nggak nyaman jadinya, tapi sekarang mereka udah pergi." Naina menyadari tatapan mereka, tapi ia bersikap seolah-olah biasa saja.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Mereka ada di sini. Ya udah, nanti aku minta Bas ke sini buat jaga-jaga. Ingat, kunci gerbangnya. Tetap di rumah sama anak-anak." Alfin terburu-buru pergi ke tokonya sebelum menjemput anak-anak yang lain.


Naina tergesa membawa mereka masuk, mengunci gerbang buru-buru menuju belakang asrama, rumah yang mereka tempati. Hanya masjid saja yang terbuka, dan yang terlihat hanya bangunan berjajar asrama anak-anak. Sementara rumah mereka, terhalang oleh asrama tersebut.


"Dia masuk ke dalam masjid sana. Cepat, sana!" Dua orang bergegas menuju masjid setelah mobil yang mengantarkan anak-anak meninggalkan tempat tersebut.


"Kira-kira ke mana mereka pergi?"


"Nggak tahu. Coba kita ke belakang."


Mereka mengelilingi masjid, tapi tak satupun manusia terlihat. Mencoba untuk mengintip dari tembok, tapi terlalu tinggi. Lalu, keduanya berdiri di pintu gerbang yang mengurung asrama anak-anak.


"Sepi, kayaknya mereka nggak masuk ke sini. Gerbangnya dikunci, ini juga kayak asrama." Kebingungan mencari kehidupan, tak satupun dapat mereka tanyai.


"Tapi tadi mereka masuk ke sini, 'kan? Nggak mungkin ngilang. Itu mustahil rasanya."


Celingukan mencari-cari keberadaan Naina, sementara yang mereka cari tengah memperhatikan lewat CCTV. Naina mengeluarkan ponsel, menghubungi istri Ustadz Hasan.


"Assalamualaikum, Umi. Ustadz ada? Di depan masjid ada dua orang mencurigakan, Umi. Bisa nggak ustadz ke masjid. Saya nggak berani keluar, Umi," pinta Naina begitu panggilan tersambung.


"Sebentar, Umi kasih tahu Abinya anak-anak dulu. Kamu di rumah aja, nggak usah ke mana-mana." Telpon pun terputus, Naina hanya berharap Bas atau ustadz Hasan segera tiba di sana.


"Ibu, itu mereka ngapain? Kok, kayak mau buka gerbang," tunjuk salah satu anak pada layar monitor.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Mereka sedang mencoba membobol gembok gerbang, sayang. Sebentar, Ibu akan menelepon ayah."

__ADS_1


Panik, Naina dengan cepat mengubungi Alfin. Matanya terbelalak saat pintu itu berhasil mereka buka.


"MAS!"


__ADS_2