Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 178


__ADS_3

Biya duduk gelisah dibalik kelambu berwarna merah di atas ranjang pengantinnya. Ia berdecak kesal, berkali-kali menatap ke arah pintu berharap laki-laki itu akan muncul mendatanginya.


"Ck. Ke mana, sih, Mas Yusuf? Kok, belum nongol juga?" Ia bergumam cemas. Semua atribut pengantin telah dilepaskannya, berganti gaun malam yang sedikit tipis menerawang.


"Masa ngobrol sampe lama kayak begini? Apa jangan-jangan dia tidur di luar, ya?" Dia kembali bergumam, gemas sendiri dengan pemikirannya.


Biya beranjak, mengenakan kerudung juga blazer untuk menutupi kain tipis yang membalut tubuhnya. Ia merapatkan blazer tersebut ketika hendak menuruni anak tangga sambil celingukan kian kemari.


Ingin memanggil, tapi takut membangunkan seluruh penghuni rumah yang sudah terlelap karena rasa lelah setelah berpesta selama seharian penuh.


"Di mana, ya, mas Yusuf? Ini lampu-lampu udah dimatiin." Biya melangkah pelan-pelan nyaris tanpa suara. Terus menuruni anak tangga menapak di lantai satu.


Di ruang keluarga anak-anak Alfin tertidur. Tak akan mungkin suaminya itu pergi ke sana. Biya mencoba mencari ke ruang tamu yang lampunya itu masih menyala. Ia bersembunyi dibalik tembok, mengintip takut-takut Yusuf sedang tidak sendiri.


"Apa itu mas Yusuf? Kenapa dia tidur di sofa, sih? Gemes banget, deh." Biya mengepalkan kedua tangan, melangkah kemudian mendekati sofa di mana Yusuf berbaring sambil bersedekap dada.


Biya bertolak pinggang sambil menggelengkan kepala. Ditunggu di kamar, rupanya yang ditunggu terlelap di sofa. Ia duduk di bagian kepala Yusuf, hati-hati mengangkat kepala laki-laki itu.


Dia melenguh sambil berbalik, kemudian meringis merasakan sesuatu yang lain tidak seperti sofa. Yusuf membuka mata, mengernyit melihat sebuah kain tipis di depan matanya.


"Astaghfirullah al-'adhiim!" Ia terlonjak bangun dan berdiri dengan waspada.

__ADS_1


"Kenapa, sih, Mas? Kok, kayak yang lihat setan gitu?" Biya memberengut, menatap sedih suaminya yang berubah pucat.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Dek? Ini beneran Adek?" tanya Yusuf memastikan.


Biya menganggukkan kepala, masih dengan bibir yang dimajukan. Yusuf mengusap wajah, mengucap istighfar berulang kali untuk menenangkan hatinya.


"Kok, Adek ada di sini? Belum tidur?" tanya Yusuf tiba-tiba gugup.


"Nungguin Mas, tapi nggak dateng-dateng. Ya udah aku cariin aja. Eh, nggak tahunya tidur di sini. Kenapa nggak ke kamar, Mas?" cecar Biya menyelidik suaminya itu.


Yusuf salah tingkah, mengusap tengkuknya juga menggaruk kepala.


Biya beranjak dari sofa, mendekat ke arahnya. Tanpa segan bergelayut di lengan laki-laki itu sambil merayunya.


"Ayo, Mas. Kita tidur di kamar, jangan di sini. Masa aku udah punya suami masih tidur sendirian. Nggak lucu!" rengeknya dengan manja.


Oh, lihatlah! Penyakit sialan itu timbul lagi. Keringat mulai bermunculan dan menetes secara perlahan, tapi pasti.


"I-iya, Dek."


Astaghfirullah al-'adhiim. Ya Allah, aku harus bisa melawan penyakit aneh ini. Kasihan istriku, ya Allah. Bismillahirrahmanirrahim, aku yakin bisa. Ya Allah, bantulah hamba.

__ADS_1


Yusuf menekan rasa gugup berlebihan itu agar tidak terus menerus menggangunya. Ia mengikuti tarikan tangan Biya, menuju kamarnya. Perlahan merubah genggaman itu menjadi tautan. Biya bersemu, apalagi saat tangan Yusuf melingkar di pinggangnya.


"Mas, deg-degan banget? Jangan kayak tadi siang, aku takut. Tenang, Mas. Aku juga nggak akan minta Mas ngelakuin itu kalo nggak siap." Biya meraba dada suaminya begitu tiba di dalam kamar mereka.


Yusuf menghela napas, mengumpati penyakit sialan itu.


"Makasih, karena Adek udah ngertiin Mas, tapi Mas mau coba nanti. Nggak apa-apa, 'kan?" sahut Yusuf meski gemetaran lidahnya berkata.


Biya mengangguk sambil tersenyum, keduanya mendekati ranjang. Merebahkan tubuh berdampingan. Biya memeluk Yusuf, tak mengapa walaupun malam itu mereka tidak melakukannya. Masih ada malam-malam yang lain, disaat Yusuf sudah terbiasa dengan keadaan itu.


Dengan tangannya yang gemetar, Yusuf mengusap-usap rambut Biya. Tangannya yang lain memegang tangan Biya yang melingkar di perutnya. Menatap langit-langit kamar dengan hati yang gelisah.


"Dek, udah tidur?" tanya Yusuf lirih.


Biya mendongak, raut bahagia jelas terpancar di wajahnya.


"Kenapa, Mas?"


Jantung Yusuf bertalu-talu saat tatapannya jatuh pada bibir ranum Biya. Dia lelaki normal, sudah tentu menginginkan hal tersebut. Perlahan, tapi pasti wajahnya semakin mendekat hingga dahi mereka menempel. Lambat laun bibir mereka bertemu, saling bersentuhan satu sama lain.


Yusuf sering menonton adegan tersebut, jadi sedikitnya dia tahu bagaimana cara mempraktekkannya. Maka, begitulah ... sambil berjuang keras melawan penyakit anehnya. Yusuf berhasil menyatukan bibir mereka.

__ADS_1


__ADS_2