
Di dalam sebuah mobil, seorang laki-laki memutar kemudi dengan perasaan yang bergembira. Sesekali akan bersiul, bersenandung lagu bahagia. Seolah-olah tak ada kesedihan yang mampu menyambangi kehidupannya.
Musik diputarnya, berdegup-degup menyentuh hati. Tubuhnya bergerak-gerak mengikuti alunan musik, betapa dia asik sesekali ikut bernyanyi. Kemacetan jalanan tak dihiraukannya, dia bahagia hari itu.
Mobil tersebut menepi di depan sebuah toko, laki-laki itu keluar menenteng sebuah plastik besar dan masuk ke dalam toko sambil menyapa ramah semua yang ada di dalamnya.
"Hallo, semuanya! Selamat siang, anak-anakku!"
Nada riang gembira yang diucapkan Anton itu menyentak semua karyawan toko yang masih larut dalam pekerjaan. Mereka meneguk ludah sendiri, merasa heran dengan sikap sang manager yang tak biasa.
"Tumben. Kayaknya si Bos lagi ulang tahun nih," celetuk salah satu karyawan sambil memainkan alis pada rekannya.
"Atau mungkin dapat rezeki nomplok kali," sambar yang lain disambut tawa membahana oleh Anton.
"Kayaknya mau bagi-bagi nih."
Tawa Anton semakin menggelegak, membahana di dalam toko. Mereka semua menghendikan bahu, tak pernah sekalipun melihat Anton yang bertingkah seperti itu.
"Kalian benar! Yah, kalian memang benar. Aku dapat rezeki nomplok hari ini. Ahh, sini! Aku belikan makanan buat kalian semua. Kalian bisa makan sepuasnya, gaji kalian juga akan saya kasih bonus. Makan! Makan! Makan sampai kalian puas!" ucapnya jumawa.
Ia membanting kantong plastik yang dibawanya ke atas lantai, melangkah dengan angkuh sambil tertawa terbahak-bahak dan masuk ke dalam ruangannya.
Para rekan sejawat Naina berhamburan mendekati kantong plastik yang diletakkan Anton tersebut. Mereka berbinar melihat banyak makanan mewah dan mahal di dalamnya. Tanpa menunggu instruksi lainnya, masing-masing mengambil satu makanan juga minuman.
"Kalo lagi seneng kayak gitu, si Bos baik, ya. Coba tiap hari seneng aja, tiap hari bisa makan enak kayak gini kita," celoteh salah satu dari mereka dengan mulut yang dipenuhi makanan.
"Bener, tapi kira-kira kenapa, ya? Apa yang bisa bikin si Bos itu seneng?" Kerutan di dahi Vita timbul, tapi tak terlalu memikirkan, melanjutkan makan dengan lahap bersama teman-temannya.
"Udah, nggak usah terlalu dipikirin. Yang penting hari ini kita makan enak dan dapat bonus."
__ADS_1
Mereka tertawa tanpa suara, khawatir Anton yang mendengar akan merasa tersinggung sehingga bonus yang dijanjikan tidak akan pernah mereka terima.
Di dalam sana, Anton masih bersenandung kecil. Dia membanting tubuh di atas sofa, terlentang menghadap langit-langit ruangan sambil terus menyunggingkan senyum. Jemarinya yang bertaut mengetuk-ngetuk perutvseirama dengan lagu yang dinyanyikannya.
Dia kembali tertawa dengan puas, mengingat Alfin saat ini mendekam di dalam penjara.
"Kayaknya aku perlu ke sana buat jenguk pemuda itu. Haha ... baguslah dia dipenjara. Mudah-mudahan selamanya dan nggak akan pernah keluar lagi!" Anton kembali terbahak, suaranya menggema hingga ke perkumpulan karyawan. Mereka bergidik ngeri, tapi tetap memakan makanan tersebut.
"Walaupun aku nggak bisa dapetin Naina, tapi setidaknya aku puas karena pemuda sok suci itu lenyap dari pandangan. Yah, aku memang ditakdirkan untuk menang." Dia menghendikan bahu senang, beranjak duduk sambil menekuk tangan menjadikannya tumpuan kepala.
"Aku kira nggak akan ada kasus ini, tapi ternyata polisi cepat juga menyelidiki. Beruntung malam itu aku nggak datang ke lokasi kejadian. Jadi, nggak ada yang mencurigai aku. Kamu emang pinter, Anton!" pujinya pada diri sendiri.
"Nggak perlu ngeluarin uang banyak karena mereka berdua mati. Nggak ada yang tahu satu orang pun kalo aku yang nyuruh mereka malam itu. Jadi, tenang aja, Anton. Hidup kamu akan tenang mulai hari ini," katanya, kembali menjatuhkan tubuh di atas sofa.
Beberapa saat terdiam, Anton beranjak dan keluar dari ruangan sambil membawa amplop di tangan. Padahal bukan waktunya mereka menerima gaji, tapi Anton yang terlanjur bahagia memberikannya lebih awal.
Dia berdiri di ambang pintu ruangan, tertawa tanpa suara memperhatikan semua bawahannya yang makan dengan lahap. Dia berjalan menghampiri mereka, pandanganya tertuju pada sesosok tubuh sintal milik Vita.
"Nah, ini buat kalian. Masing-masing udah aku tambahin buat bonus. Nanti malam, aku mengundang kalian ke tempat karoke. Kita senang-senang di sana. Jangan lupa datang atau kalian nyesel nantinya," ucap Anton sambil melirik Vita dan memainkan alis padanya.
Mereka bersorak, senang bukan main. Pada akhirnya kepenatan yang selalu mereka rasakan dapat terbayar dalam satu hari saja. Vita yang ditatap secara intens, berpaling menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Vita, kalo udah selesai makan nanti ke ruangan saya, ya," pinta Anton seraya berbalik dan kembali masuk ke dalam ruangannya.
"Wah! Kenapa tuh, Vit? Jangan-jangan Vita mau dikasih bonus tambahan lagi," celoteh temannya membuat Vita bergidik tak tahu.
"Nggak tahu. Kalo iya, nanti aku traktir kalian es parasmanan. Haha ...." Vita tertawa sambil berdiri dan meninggalkan teman-temannya.
Mereka mendengus, es seharga lima ribu rupiah itu tidak menarik bagi mereka. Vita berdiri di hadapan ruangan atasannya, menarik napas menanggalkan gugup yang melanda.
__ADS_1
Tok-tok-tok!
"Pak!"
"Ya, masuk!" Vita membuka pintu, melihat Anton yang sudah duduk tenang di kursinya tanpa mengenakan pakaian atas.
"Masuk, Vit!" seru Anton lagi ketika Vita tak kunjung masuk ke dalam ruangan.
Dengan ragu, janda muda itu masuk dan menutup pintu ruangan. Berjalan pelan mendekati meja Anton berdiri dengan kepala tertunduk.
"Kamu bisa pijit aku nggak? Pundakku pegal dan sakit," pinta Anton sembari memutar kursi ke arah lain.
Tanpa dapat membantah, Vita melakukan yang diminta atasannya. Beberapa saat tak ada yang terjadi, semua tampak normal dan Vita tidak merasa canggung sama sekali. Sampai tangan Anton dengan berani meraba tangan wanita itu.
"Vit, apa kamu nggak merasa kesepian?" tanya Anton sembari menekan-nekan tangan Vita di pundaknya.
Dahi wanita itu mengernyit, ia bertanya dengan bingung, "Maksud Bapak apa?"
Vita menggigit bibir ketika sentuhan Anton semakin intens. Ia membiarkannya karena sudah lama memendam perasaan terhadap atasannya tersebut.
Anton berbalik, menghadap Vita sambil menggenggam kedua tangan wanita itu. Menatapnya dalam-dalam, menyematkan senyum penuh rayuan.
"Kamu tahu, 'kan, aku duda. Kamu dan aku sama, tapi aku sangat kesepian, Vit. Aku butuh pendamping, kamu kelihatannya lebih baik dan lebih dewasa dari perempuan yang lain. Berdandanlah yang cantik, aku akan mengajak kamu kencan malam ini," ungkap Anton seraya mengecup kedua tangan Vita.
Wanita itu tersipu, dia pun merasa kesepian sejak perpisahannya dengan sang mantan suami. Kepalanya mengangguk pelan, tanpa berani menatap manik laki-laki itu. Ia terbuai, merasa perasaannya tersambut.
Vita tersentak ketika Anton menariknya ke dalam pangkuan, mengunci tubuh Vita dengan kedua tangan yang melingkar dan saling bertaut. Mereka saling menatap satu sama lain, tangan Anton merayap, menjamah sebagian tubuh Vita.
Hingga tiba di kedua bibir ranum milik sang wanita yang sedikit terbuka. Anton menarik tengkuk wanita itu, melahap bibirnya dengan rakus. Hanyut dalam permainan tipu daya, Vita tanpa sadar mengimbangi Anton. Dia bahkan berdesis ketika tangan laki-laki itu kembali merayap nakal.
__ADS_1
Berbahagialah, Anton. Bersenang-senanglah sebelum semuanya berakhir.